Beranda News Budaya Tita Tjindarbumi: Sepotong Ingatan dan Proses Kreatif

Tita Tjindarbumi: Sepotong Ingatan dan Proses Kreatif

259
BERBAGI

Oleh Udo Z. Karzi*

Tita Tjindarbumi (foto: UZK)

PERTEMUAN dengan Tita Tjindarbumi, di sebuah hotel di bilangan Enggal dan diteruskan di Lapa Kopi Lampung Jalan Ahmad Yani, Bandar Lampung, Kamis malam, 3 April 2014 — untuk pertama kalinya, lalu dalam acara Jumpa Penulis di Lampung Post, Jumat siang, 4 April 2014; seolah membangkitkan memori saya tentang banyak hal.

Eh ya, meskipun lebih senior, saya minta izin panggil nama saja ya. Biar akrab. Dan sememangnya saya sudah akrab dengan nama ini jauh sebelum punya akun facebook dan kemudian sering berkomunikasi di dunia maya dan SMS-an.

**

Saya ingin kembali pulang ke pekon (desa) saya dulu, di Negarabatin Liwa (sekarang: Kelurahan Pasar Liwa), Liwa, Lampung Barat. Tahun 1980-an.

Liwa masih sepi, sekarang masih. Hehee…

Alam Liwa yang permai, kota hujan, dingin, warganya yang hangat, aduh… pokoknya apa pun tentang kehidupan desaku ini terlalu sulit untuk dikisahkan. Ia menjadi sumber inspirasi yang tak kering. Aseli.

Satu hal, meskipun tinggal di desa, saya tidak merasa kesulitan untuk memanjakan gila baca yang saya punya. Perpustakaan SDN 1 Negarabatin Liwa (kini SDN 1 Liwa) dan SMPN Liwa (sekarang SMPN 1 Liwa) cukup menyediakan bacaan. Di luar itu, ayah yang guru SD sering pula membawakan saya dan adik-adik buku bacaan.

Kebetulan saya berteman dengan anak seorang Kepala Dikbudcam (Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan) yang rumahnya banyak berbagai jenis bacaan seperti buku, komik, majalah, dan koran.

Orang tua teman SD saya yang lain lagi, namanya ZA Mathikha Dewa, sering pula membawa koran dan majalah dan kami pun sering bergantian membaca. Sahabat saya ZA Mathikha Dewa yang kemudian migran ke Papua sempat menulis beberapa cerpen dan puisi yang dimuat di beberapa media di Jakarta dan Lampung sebelum meninggal. Sejak merantau ke ujung timur negeri ini, saya tak pernah bertemu dengannya dan hanya beberapa karyanya yang sempat saya baca dan masih saya simpan.

Eh iya, kok jadi ngelipir jauh.

***
Kembali ke Tita Tjindarbumi. Ah, saya suka mengingat nama-nama cerpenis, cerbungis (hehee… maksudnya penulis cerita bersambung), komikus, novelis, penyair, penulis artikel… dll. pokoknya penulis atau pengarang. Bukan karena disuruh guru untuk menghapal buat ujian bahasa dan sastra, melainkan karena saya — dan teman saya ZA Mathika Dewa — memang pernah membaca karya-karya mereka.

Meskipun kami masih anak-anak, namanya juga siswa SD dan SMP, bacaan kami tak terbatas pada bacaan anak-anak dan remaja, bacaan dewasa pun kami lalap. Selain buku-buku cerita anak karangan Mansur Samin dll., di SD saya sudah membaca novel serius seperti Sebatang Kara karya Hector Malot, Petualang Tom Sawyer karya Mark Twain, dan Oliver Twist karya Charles Dicken, tentu saja itu semua karya terjemahan; di samping karya-karya sastrawan Indonesia lainnya.

Tahun 1980-an ada majalah cerita remaja, Anita Cemerlang. Nah, di majalah inilah saya menemukan nama-nama cerpenis — yang sampai sekarang masih aktif menulis. Di antaranya: Tita Tjindarbumi. Namanya juga sempat saya temui di majalah wanita dan remaja lainnya semacam Kartini, Femina, dan Gadis.

***

Selepas SMP tahun 1986, saya ke Bandar Lampung untuk melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Tanjungkarang (sekarang: SMAN 2 Bandar Lampung). Sebelumnya, saya pernah ke Tanjungkarang ketika masih kelas II SD tahun 1977 bersama Kajjong (nenek). Sempat pula kabur dari desa ke Tanjungkarang karena merasa marah dengan ayah tahun 1984. Saat itu saya kelas 2 SMP.

Hahaa… Saya terlalu pendiam dan kelewat pemalu untuk bersekolah di SMAN favorit ini kala itu. Tapi, diam-diam saya selalu suka nyumput di Perpustakaan SMAN 2 atau bolos untuk pergi ke Perpustakaan Daerah di Jalan Wolter Monginsidi, Pengajaran dengan cara melompati tembok — maksudnya ada tangganya — melewati kebun dan menuruni jalan setapak hingga ke ’surga’ itu.

Diam-diam pula saya mengikuti perkembangan sastra di kota ini. Tahun 1986-1989 itu, saya membaca Ahmad Geboh, Andika Sidik, Panji Utama, Rozali, Muchtar Ali, Isbedy Stiawan ZS, A.M. Zulqornain, Syaiful Irba Tanpaka, Hendra Z., Iwan Nurdaya, dan seterusnya (baca: antara lain antologi sajak Memetik Puisi dari Udara dan Pewaris Huma Lada).

Ketika kuliah di FISIP Universitas Lampung, barulah saya tahu ada seseorang bernama Iswadi Pratama, yang belakangan saya tahu “agak gila”. Maksudnya ia sastrawan, seniman, sutradara aseli yang mendedikasikan hidupnya untuk kerja seni dan budaya.

***

Diam-diam saya juga menulis puisi, cerpen, dan artikel sejak 1987. Puisi saya pertama kali dimuat di Merdeka Minggu dengan nama pena Joel K. Enairy. Selanjutnya saya menulis di berbagai media seperti Simponi, Sahabat Pena, Swadesi, Suara Karya, … dengan berbagai nama samaran. Itu berlanjut sampai saya kuliah dan aktif di pers mahasiswa.
Lumayan, kalau dapat honor bisa beli buku, majalah, dll. (Sejak kelas 1 SMA saya selalu menyisih uang untuk berlangganan koran dan beli buku).

***

Tita Tjindarbumi, banyak menulis sajak dan cerpen di Anita Cemerlang, Gadis, Mitra, Tiara, Liberty, Kartini, Lampung Post, Story, Say, dll. Pernah menjadi jurnalis di majalah Editor, dll. Penulis asal Lampung ini kini bermukim di Surabaya.

Itu biodata yang tercantum di bagian bawah sajak-sajaknya yang dimuat Lampung Post.

Oh iya, sebuah jalan di samping Hotel Grand Anugerah, Bandar Lampung bernama Aziz Tjindarbumi. Rupanya, Tjindarbumi itu nama keluarga yang cukup terkenal di Lampung, sehingga ada nama jalan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung mengabadikan nama ini menjadi Anugerah Tjindarbumi untuk pihak-pihak yang berjasa bagi pers di Lampung.

Raden Aria Taher Tjindarbumi, tokoh pers nasional yang dimaksud. “Itu kakek saya,” kata Tita.
Malam itu dan sore keesokan harinya, Tita bercerita tentang masa kecilnya di Jalan Tjindarbumi itu. Tentang kios buku milik ayahnya di dekat Bioskop Enggal (sekarang berganti bangunan). Soal kegemarannya membaca dan kemudian mempromosikan kepada calon pembeli.

Dari situlah kegemarannya menulis mulai terpupuk sejak SD, menulis di majalah dinding sekolah, hingga kelas 2 SMA hijrah ke Surabaya lalu kuliah di Kota Pahlawan ini. Ketika kuliah inilah cerpen pertamanya dimuat di Anita Cemerlang. Setelah itu sajak, cerpen, dan tulisannya mengalir deras bersama penulis lainnya.

Kini, di sela kesibukannya merajut dan praktek pengacara, ia tidak bisa meninggalkan kegiatannya membaca dan menulis.

***

Aduh, panjang juga ya. Ya, sudah kalau begitu…

Sebagai penutup, saya ingin sampaikan tips menulis dari Tita Tjindarbumi. “Saya tidak pernah mengingat-ingat sajak dan cerpen yang pernah saya buat. Saya lupa begitu selesai saya tulis. Saya hanya memikirkan apa yang akan saya tulis selanjutnya. Makanya, saya sampai sekarang tak punya buku karya sastra tunggal. Hahaa…” kata Tita yang baru menerbitkan buku Bikin Rajutan yang Gaya Yuuuk ini.

*Tukang tulis. Lebih suka disebut begitu. Bekerja di Lampung Post

Loading...