Beranda Kolom Kopi Pagi Tobat Seonggok Bangkai

Tobat Seonggok Bangkai

3489
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Saya kini cuma seonggok bangkai. Saya menjadi bangkai ketika otak saya sudah tidak bisa dipakai berpikir layaknya orang waras, memuja manusia, hati tertutup dendam dan amarah. Saya superbodoh,tetapi saya mengaku pintar biar dianggap hidup dan ADA sebagai manusia. Saya berbau busuk, maka biar tidak semua orang menutup hidung saya mengguyur tubuh dan baju yang saya pakai dengan parfum mahal.

Saya cuma seonggok bangkai dan terasa bangkainya sejak era baru muncul: era digital yang ditandai dengan munculnya berhala baru yang dibenci sekaligus dirindukan. Ya, itu dia: media sosial.

Saya makin busuk ketika tahun politik datang. Pilpres, Pilkada,  dan Pilkades memeram saya dan saudara-saudara saya. Bukan untuk menjadi matang, tetapi untuk jadi busuk. Otak saya yang busuk tidak punya daya analisis lagi untuk membedakan fakta dan fiksi, ujaran kebenaran atau ujaran kebencian, yang hak dan yang batil.

Saya akan menurut saja pada arus deras di media sosial karena saya takut berbeda atau tergerus atau kehilangan sandang pangan saya.

Di musim Pilkades di kampung saya, saya menurut saja ketika Pak Sonto dicap publik sebagai komunis dan anti agama saya. Sebaliknya, saya mengiyakan begitu saja ketika arus deras di luar sana menyebut bahwa Pak Loyo adalah panglima kebenaran dan pembela agama saya.

“Kita harus memilik Pak Loyo sebagai kades!” teriak ribuan orang di kampung saya.

Saya menggigil ketakutan. Mau tak mau saya harus mengiyakan.Saya pun turut meramaikan dunia maya dengan status dan meme yang menyerang Pak Sonto. Saya tidak pernah berusaha mencari tahu atau mengecek ulang ihwal apakah Pak Sonto benar-benar komunis atau tidak. Anehnya, saya juga tetap diam saja ketika pada akhirnya tahu bahwa justru Pak Sonto yang taat beragama dibanding Pak Loyo.

Saya bangka di musim pilkada, maka uang pun mengalir ke pundi-pundi dan rekening bank saya. Saat uang itu mengalir dan kumanfaatkan untuk menafkahi anak istri saya, saya sebenarnya menggigil ketakutan. Saya sering menangis, membanjiri sajadah dengan air mata ketika berhadapan dengan Tuhan. Saya malu keluarga saya makan dari uang fitnah, reproduksi tipu daya, dan kebencian.

Saya diam saja ketika akhirnya tahu bahwa Pak Loyo tidak menjalankan agama dengan baik. Sebab, tokoh-tokoh agama yang jadi anutan saya selama ini sejak awal sudah telanjur menenteng Pak Loyo ke mana-mana sebagai tokoh agamis, calon pemimpin desa yang bisa mengubah kemiskinan desa menjadi kesejahteraan.

Saya kini ingin tobat. Tapi saya ragu apakah Tuhan bisa menerima tobat seonggok bangkai yang sudah sedemikian busuk…