Beranda News Bandarlampung Toblok, Batas Akhir Rel Kereta Api di Telukbetung

Toblok, Batas Akhir Rel Kereta Api di Telukbetung

518
BERBAGI
Rel kereta api di Panjang, Bandarlampung (dok flickr)

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com

Bandarlampung—Toblok hanya berjarak beberapa meter dengan Kampung Texas. Kedua kampung (lingkungan) ini merupakan wilayah dari Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung.

Tetapi, apakah tersebab jarak yang sulit dipisahkan, imej Toblok lebih buruk tinimbang kampung tetangganya: Texas.

 

Entah mengapa, kesannya hingga sekarang, Toblok acap diniliai sebagai kampung kumuh. Kalau beberapa tahun lalu sering ada anak jalanan di sudut Bandarlampung diantar-jemput orang dewasa dengan kendaraan bermotor, si anak akan mengaku mereka berasal dari kawasan Toblok.

Daerah ini tak jauh dari Gudang Lelang. Selain itu, kawasan ini dulunya dihubung-kaitkan dengan Kampung Texas, sebagai markas para penjahat.

Karena itu, kehidupan di Toblok memang seakan menyeramkan. Pada masa Djawatan Kereta Api (DKA), di sini ada stasiun bongkar muat barang dari Gudang Agen dan Gudang Garam.

Kisah negatif memang tidak terelakkan bagi Kampung Toblok. Warga setempat sudah tahu, dan juga memaklumi adanya kabar tak sedap di luar sana.

Lalu benarkah ihwal cerita miring mengenai Kampung Toblok? Sejumlah warga Toblok yang ditemui membantah. Mereka mengibaratkan orang lain makan nangka, warga Toblok kena getahnya.

Karena Toblok dan Texas sangat berdekatan, demikian kata warga Toblok, barangkali klaim Toblok sebagai sarang penjahat. Tetapi itu dulu, kini baik Texas dan Toblok sudah kondusif alias aman.

Kampung atau lebih tepatnya dusun atau lingkungan Toblok dihuni oleh ragam etnis, namun mayoritas bersuku Banten. Dulu warga di sini merupakan karyawan DKA—kini PT KAI—yang bekerja di Stasiun Telukbetung.

Stasiun KA Telukbetung tidak aktif lagi sekitar tahun 1970-an. Manaka masih beraktivitas, di stasiun inilah terjadi bongkar-muat barang dan sembako. Produksi hasil pengolahan ikan dari Pulau Pasaran yang hendak dikirim ke luar kota, diangkut dengan kereta api.

Jalur rel kereta api dari dan ke Stasiun Telukbetung adalah Stasiun Garuntang. Sisa-sia rel kereta masih ada, baik di Toblok, Kampung Texas, ataupun di Jalan Gatot Subroto, Ganruntang. Sedangkan bekas stasiun kereta di Kampung Texas sudah tak ada lagi, karena sudah menjadi pemukiman.

Nama Toblok, menurut Jamsari—sepuh dan warga Toblok, berawal karena kawasan ini akhir dari rel kereta api di Stasiun Telukbetung. Rel kereta pun mentok sehingga mesti memutar sepur atau kepala kereta untuk balik ke jalur lain.

Tempat akhir sepur itu disebut Stop Lock alias berhenti dan terkunci atau mentok. Entah kenapa, masyarakat kemudian melafaskan menjadi Toblok. Istilah Toblok sampai sekarang masih berlaku.

Kawasan Toblok sampai sekarang masih milik PT Kereta Api Indonesia. Maka tak heran, plang pengumuman kepemilikan tanah PT KA dan dilarang membangun rumah, terpancang di tengah kampung.

Sebagai kawasan kumuh sebetulnya tidak tepat disematkan pada Toblok. Tetapi, sebagai daerah yang padat penduduk bisa diterima. Daerah ini juga dikenal dengan kawasan bengkel, gudang, dan loakan untuk barang-barang onderdil kendaraan.

Saking Toblok tak asing di telinga masyarakat. Para abang becak atau warga lain jika ditanya lokasi Toblok, dijamin akan menunjukkan daerah ini.

Begitu pula jika bertanya siapa sesepuh di kampung ini, akan menyebut dua tokoh. Salah satunya Abah atau Mang Kojam alias Jamsari. Kojam adalah warga di RT 025 Kampung Toblok.

Toblok berada di belakang Kampung Palembang, bertetangga dengan Gudang Lelang serta Gudang Agen. Kampung tetangga paling dekat adalah Texas.

Tidak sulit menemukan Kampung Toblok. Ada banyak pintu (gang) menuju kampung ini. Anda bisa melalui Gudang Agen, kemudian lewat Texas baru sampai Toblok. Atau  dari Kampung Palembang, melalui Jalan Ikan Lumba-Lumba setelah itu masuk dari gang kecil.

Karena Toblok padat pemukiman, mayoritas jalan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Jalannya sangat sempit. Dari satu rumah dengan rumah lainnya, kebanyakan hanya sisa tak lebih setengah meter.

Meski sebagian rumah bertingkat, umumnya lantai dua hanya untuk menjemur pakaian. Aktivitas warga tetap di luar rumah atau di ruang tamu.

Warga Toblok juga terbilang suka bersosialisasi. Para ibu mengobrol di depan rumah, teras, atau di gang. Warga mayoritas berprofesi sebagai buruh, baik perajin lemari, meubel, ataupun buruh kasar lainnya.

Toblok yang berasal dari kata Stop Lock tak henti bergeliat. Kendati stempel sebagai kampung kumuh, tampaknya sulit dihapus. Tetapi, warga di sini tetap bangga sebagai orang Toblok…*