‘Toenggoek Hagana’

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Kebanyakan pembaca pasti bingung bahasa dari planet mana judul itu. Suatu siang penulis berdiskusi dengan sahabat lama yang tidak pernah swamuka, tetapi lebih banyak swalayar; mengenai persoalan bangsa. Kami bersahabat tetapi juga berdebat, dalam arti sesungguhnya. Banyak hal kami bersama, tetapi dibanyak segi kami berlawanan, bahkan berseberangan. Pernah juga terjadi kami beda pilihan. Namun, semua itu tidak pernah dan akan pernah memutuskan tali pusar kami dalam berkarib. Kalau menggunakan adagium jawa “tego larane ora tego patine”.

Beliau seorang doktor yang mumpuni dan ahli pada bidangnya, kami dalam berwawankata selalu menggunakan bahasa ibu. Salah satu adagium bahasa ibu itu adalah judul tulisan ini; yang lebih kurang mana harfiahnya “kesampaian maunya”; walaupun dalam bahasa rasa, diksi itu belum mewakili sepenuhnya rasa bahasa dimaksud . kebetulan penguasaan bahasa ibu sedikit banyak ada modal untuk itu, dan itu adalah bahasa keseharian kami dalam berdiskusi. Beliau asli berdarah Sumatera Selatan yang cukup lama merantau di Jawa, tetapi tetap kekeh dengan bahasa dan budaya ibunya.

Banyak di antara kita tidak sadar terjebak pada “kesampaian maunya” ini; karena adagium ini sebenarnya tidak pernah berakhir dalam pengertian sesungguhnya. Dan itu paling tepat untuk menggambarkan perilaku manusia seperti kita. Di Sekolah Rakyat dulu tidak pernah terbersit mau jadi sarjana, hanya mengikuti kesampaian maunya tamat Sekolah Rakyat, maka muncul maunya yang baru, yaitu melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Pertama, dan ini terus terus dan terus mengejar “maunya”. Bahkan redaktur media online yang kita baca ini dahulunya sempat punya mau menjadi pemain ketoprak yang andal: walaupun sekarang ternyata menjadi “sutradara” penentu tulisan di media terpandang di negeri ini.

Pada posisi ini ternyata ada perbedaan antara “mau” dan “ingin”. Dalam mencapai suatu kebutuhan, makna dari kata mau: mempunyai dorongan yang besar, kesungguhan hati dan minat untuk mencapai impian dengan tindakan nyata. Sedangkan ingin memiliki makna: Ketertarikan terhadap sesuatu yang tidak di ikuti dengan tindakan sebatas mengangan-angan (Quora.com).

Perbedaan kemauan dan keinginan menukil dari Kompas.com ada empat perbedaan keinginan dan kemauan: Pertama. Ada kesungguhan hati dalam kemauan, sebaliknya hal ini tak didapatkan pada keinginan. Kedua. Ada tindakan nyata dalam kemauan, sementara keinginan yang ada hanya angan-angan semata. Ketiga. Kemauan menghasilkan pencapaian, sementara keinginan tak menghasilkan apa-apa karena tak ada tindakan. Keempat. Ada semangat optimal dalam kemauan, sedangkan dalam keinginan tetap ada semangat namun tak optimal.

Kemauan berawal dari impian atau harapan yang diinginkan menjadi nyata. Impian inilah yang kemudian mampu mendorong diri kita untuk melakukan tindakan nyata. Karenanya, banyak orang bijak bilang, bermimpilah, jangan takut bermimpi. Namun mimpi takkan membawa kita pada kesuksesan, tanpa memiliki kesungguhan hati atau kemauan kuat dari dalam diri ini. Setiap pribadi perlu memiliki kesungguhan hati berupa kesanggupan melakukan tindakan secara gigih demi mencapai hasil yang diinginkan. Di sinilah peran kemauan dalam mewujudkan semua mimpi-mimpi kita.

Menyimak semua hal di atas ternyata local waisdom di masyarakat kita itu berserakan adanya; namun jarang kita mau menemukenalinya untuk dijadikan pedoman hidup sebagai warga Nusantara; bahkan kita merasa bangga jika mengambil rupa dari bangsa lain di dunia ini, agar terbaca memiliki jangkauan jelajah pengalaman yang jauh. Sehingga bak pepatah mengatakan berharap merpati terbang, punai ditangan dilepaskan.

Pada akhir akhir ini ternyata diksi kemauan dan keinginan sering dibaurkan, terutama bagi mereka yang punya tujuan tersembunyi. Atas nama rakyat (entah rakyat yang mana) sering kita dengar menjadi komuditi emosional untuk dibenturkan antarkita, sehingga klaim mengatasnamakan rakyat adalah perisai pelindung diri paling ampuh untuk membungkus maunya pribadi dan golongan, untuk mendapatkan semuanya; termasuk kekuasaan.

Kemauan dan keinginan bak bahan bakar yang siap mendorong laju kendaraan; tinggal bagaimana sang pengemudi mengendalikan diri. Oleh karena itu peraturan, perundangan, norma, kepatutan sangat diperlukan dalam hdup ini.

Namun, perlu diingat kita boleh punya kemauan dan keinginan yang tak terbatas; sedangkan penentu segalanya adalah kodratirodat Tuhan atas makhluk-Nya yang akan menentukan segalanya. Hak usaha dan upaya ada pada kita, namun hak ketentuan atas semuanya, hanya Sang Khaliklah lah penentunya.***