Tokoh Demokrasi di Lampung Matt Al Amin Kraying Wafat

Matt Al Amin Kraying pada peringatan 20 Tragedi 27 Juli di DPC PDIP Bandarlampung, 27 Juli 2020.
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASALAMPUNG.COM — Innalillahi wa inaillaihi roji’un. Salah satu tokoh demokrasi dan sesepuh PDIP di Lampung, Matt Al Amin Kraying, meninggal dunia, Rabu (2/3/2020) pukul 3.00 WIB. Sesepuh, salah seorang pendiri PDIP Lampung, H. Matt Al Amin Kraying bin Andullah Kraying meninggal dunia pada Rabu (2/3/2022), pukul 03.00 WIB.

Sebelumnya,  pada 18 Maret 2020 istri Al Amin Kraying, Srie Atidah, wafat.

Rasa duka atas wafatnya Matt Al Amin Kraying tidak hanya dirasakan oleh keluarganya, tetapi juga oleh para pegiat demokrasi di Lampung khususnya sebelum era reformasi 1998-1999. Hal itu karena pengacara yang juga politikus ulung itu menjadi salah satu patron para aktivis demokrasi terutama kalangan mahasiswa dan generasi muda pada era menjelang lahirnya era reformasi.

Matt Al Amin Kraying dan istrinya, Srie Atidah,  menjadi tokoh di Lampung yang turut menghela laju gerakan reformasi, terutama pasca-peristiwa berdarah di Kantor DPP PDI di Jl Diponegoro Jakarta pada 27 Juli 1996. Ketika banyak orang masih takut menyuarakan kritiknya terhadap Orde Baru, Kraying bersama SrieAtidah turun mendampingi masyarakat untuk menyuarakan kepentingan rakyat.

Setelah reformasi, Kraying sempat menjadi anggota DPR RI periode 1999-2004. Sedangkan istrinya, Srie Atidah, sempat menjadi Ketua DPRD Lampung 1999-2004.

Dalam peta politik Lampung, peran dan jejak pasangan Al Amin Kraying – Srie Atidah seolah ‘meredup’ atau berkurang di PDIP Lampung seiring dengan dinamika politik lokal yang terjadi pada kurun 2004 dan sesudahnya.

Ketika sudah tidak secara penuh terjun di dunia politik, Al Amin Kraying kembali menekuni dunia pengacara. Namun, ketokohannya masih sering dibutuhkan di PDIP. Terakhir

Dua tahun lalu, 27 Juli 2020, Al AminKraying sempat tampil ke publik saat diundang memberikan testimoni pada peringatan 20 tahun tragedi kerusuhan 27 Juli (Kudatuli) di Aula DPC PDI Perjuangan Bandarlampung.

Pada kesempatan itu Kraying mengungkapkan bahwa Tragedi Kudatuli adalah tonggak sejarah perjalanan PDI Perjuangan, yaitu partai yang lahir karena adanya perpecahan di PDI.

“Tragedi Kudatuli adalah tonggak sejarah perjalanan partai kita ini, kita merebutnya dengan perjuangan, darah dan air mata. Saya minta semua kader jangan pernah lupakan sejarah dan jadikan ini sebagai pembakar semangat bagi kita untuk terus berjuang bersama rakyat demi terwujudnya Indonesia Raya,” ujar Al Amin Kraying ketika itu.

 

You cannot copy content of this page