Beranda News Nasional Tokoh Pendidikan Nasional Prof. Dr. Winarno Surakhmad Wafat

Tokoh Pendidikan Nasional Prof. Dr. Winarno Surakhmad Wafat

431
BERBAGI
Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc (dok)

TERASLAMPUNG.COM — Tokoh pendidikan nasional, Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc (86 tahun), wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, pada Jumat pagi tadi pukul 10. 47 WIB. Guru besar IKIP Rawamangun Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) itu sudah lama dirawat di rumah sakit karena sakit stroke.

Usai shalat Jumat, jenazah Prof Winarno sudah dimakamkan dipimpin oleh tokoh pendidikan nasional yang juga murid Prof.Winano, Prof. Dr. Arief Rachman.

Keponakan Prof. Winarno, Meutya Viada Hafid, mewakili keluarga mohon doa agar semua pengabdian mantan Rektor IKIP Jakarta itu di bidang pendidikan bisa menjadi amal baik di sisi Tuhan.

“Saya mewakili keluarga mohon doa agar semua ucapan beliau (Prof Winarno) dalam kapasitas sebagai pendidik menjadi bekal amalan beliau. Amin,” kata Meutya kepada wartawan, Jumat (1/7/2016).

Prof. Dr. Winarno Surakhmad merupakan salah satu tokoh pendidikan yang banyak menulis buku tentang teori pendidikan. Ia pernah menjadi Rektor IKIP Jakarta pada 1975-1980. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang turut membesarkan UNJ sebagai kampus pendidikan selain Prof. Dr. Deliar Noor, Prof. Dr. Slamet Iman Santosa, Prof. Dr. Conie Semiawan, dan Prof. Dr. H.A.R. Thilaar.

Prof. Dr. Winarno Surakhmad dikenal sebagai sosok yang konsekuen  pada pendiriannya dan idealis hingga akhir hayatnya. Idealisme Prof. Winarno tersebut sering dijadikan contoh para mahasiswa senior UNJ ketika memberikan materi pengenalan kampus bagi para mahasiswa baru.

Pada usianya yang tak lagi muda dia masih sangat aktif menulis dan berceramah tentang pendidikan.  Buku-buku karyanya yang banyak menjadi buku pegangan para pendidik antara lain: Pendidikan Nasional, Strategi, dan Tragedi (2009), Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar, Metode dan Teknik (1989), Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar Dasar Dan Tekhnik Metodologi Pengajaran (1986), Metodologi Pengajaran Nasional (1979), Dasar dan Teknik Interaksi Mengajar dan Belajar : Sebuah Pedoman Praktis ke Arah Metodologi Pengajaran Modern dalam Seri Pembaharuan Ilmu Keguruan (1973).

Ketika sudah terserang sakit  stroke pun (2011) Prof. Winarno masih tetap rajin memberikan ceramah tentang pendidikan di berbagai daerah dan luar negeri.

Pria kelahiran Ujungpandang, 25 Agustus 1930 lalu itu baru berhenti keliling untuk ceramah tentang pendidikan saat tak lagi bisa berjalan sendiri. Saat tak bisa berjalan sendiri pun dia tetap tak menyerah. Dari pembaringan Prof Winarno tetap menulis buku.

Tahun 2005 lalu nama Prof Winarno sempat membuat pemerintah marah karena melancarkan kritik dengan  puisi berjudul Kapan Sekolah Kami Lebih dari Kandang Ayam. Puisi itu dibacakan pada saat Hari Guru Nasional ke-60 di Surakarta, April 2005 lalu. Usai membacakan puisinya, ribuan guru memberinya tepuk tangan.Beberapa di antaranya berlinangan air mata. Namun, saat itu Wapres Jusuf Kalla marah dan menolak puisi tersebut.

Berikut puisi Prof. Winarno:

Kapan Sekolah Kami Lebih Baik dari Kandang Ayam

Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah
Tanpa sebuah kemunafikan, semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan
Tetapi dunianya ternyata tuli
Setuli batu
Tidak berhati
Otonominya, kompetensinya, profesinya hanya sepuhan pembungkus rasa getir

Bolehkan kami bertanya
Apakah artinya bertugas mulia ketika kami hanya terpinggirkan tanpa ditanya, tanpa disapa?

Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?

Ketika semua orang menangis, kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan, kami harus tetap kelaparan?

Bolehkah kami bermimpi di dengar ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap dalam kondisi terburuk.

Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah
Terbaca torehan darah kering

Di sini berbaring seorang guru
Semampu membaca buku usang
Sambil belajar menahan lapar
Hidup sebulan dengan gaji sehari

Itulah nisan tua sejuta guru tua yang terlupakan oleh sejarah

Biodata Prof Winarno Surakhmad (sumber: wikipedia.org):

Winarno Surakhmad mengawali pendidikan pada Fakultas Pendidikan UGM (BA) lulus 1954. Melanjutkan pendidikan pada State University of New York, Amerika Serikat (M.Sc. ed.) pada 1958 dan School of Education and Psychology Stanford University, Amerika Serikat pada 1963. Kemudian pada tahun 1964 menempuh pendidikan pada Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Univeristas Padjajaran (UNPAD) (selected study). Sedangkan program doktor ia selesaikan di IKIP Bandung (kini menjadi UPI) pada tahun 1966. Dua tahun kemudian tepatnya pada 1968 berkesemppatan menimba ilmu di Asian Institute for Teacher Educators, Unesco-Universitas Filipina.

Karier:

1.Dewan Pembina Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) (1989-sekarang)
2. Dewan Penasihat PB Persatuan Guru Repblik Indonesia (PGRI) (1979-sekarang)
3. Rektor IKIP Jakarta (kini UNJ) (1975-1980)
4. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) (1973-1979)
5. Deputy Director Regional Centre for Innovation and Educational Technology South East Asia Ministers of Education’s Organization) Vietnam (1973-1975)
6. Wakil Ketua BP 7 (1979-1982)
7. Member Board of Director International Council on Education for Teaching, Washington, Amerika Serikat (1979-1981)

Karya: 
1. Pendidikan Nasional, Strategi, dan Tragedi (2009)
2. Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar, Metode dan Teknik (1989)
3. Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar Dasar Dan Tekhnik Metodologi Pengajaran (1986)
4. Metodologi Pengajaran Nasional (1979)
5. Dasar dan Teknik Interaksi Mengajar dan Belajar : Sebuah Pedoman Praktis ke Arah Metodologi Pengajaran Modern dalam Seri Pembaharuan Ilmu Keguruan (1973)

Loading...