Beranda Views Opini Toleransi Agama di Papua Sudah “Clear”

Toleransi Agama di Papua Sudah “Clear”

140
BERBAGI

Oleh: Azzam Mujahid Izzulhaq

Mengapa acapkali saya menyebut bahwa toleransi di Papua itu sudah clear? Ini salah satunya: Saya secara berkala ‘keluar masuk gereja’ dengan aman. Bahkan di daerah ‘merah’ rawan konflik sekalipun. Pertama kali saya menawarkan diri. Selanjutnya secara rutin, saya yang diminta datang. Berbagi cerita, inspirasi, dan motivasi.

Apa yang saya sampaikan kebanyakan dari kisah-kisah agung dalam Al Quran yang saya modifikasi penyebutannya agar tidak ada ‘blocking’. Karena bagi saya, firman-Nya berlaku universal, bagi siapa pun dan keindahan Islam pun berlaku universal, bagi dan kepada siapa pun.

Apakah mereka tahu saya seorang Muslim? Tahu. Sangat tahu. Dari perkenalan nama saya saja mereka sudah tahu bahwa saya adakah seorang muslim (bahkan pada awalnya mereka menganggap saya teroris karena nama tengah saya Mujahid). Tidak lama, mereka memanggil saya dengan Bapak Pendeta Muslim.

Di Papua saya pun membuat sekolah non formal, gratis, bagi muslim dan nonmuslim. Pendatang dan putra daerah. Belajar membaca, menulis, berhitung, komputer, hingga belajar merakit dan membuat robot.

Beberapa sahabat mungkin tidak setuju dengan apa yang saya lakukan. Tidak mengapa. Saya menghargainya. Namun jika saya tidak memulai melakukannya, pertanyaan yang selalu hadir di benak saya adalah “Lalu siapa yg akan menyampaikan keindahan Islam kepada mereka? Siapa yang berdakwah baik dengan lisan atau dengan perbuatan kepada mereka?”.

Bagi saya, betul bahwa keyakinan dan agama saya dan mereka berbeda. Saya meyakini bahwa hanya Islam agama yang benar. Dan mereka pun meyakini bahwa agama mereka adalah benar. Namun, kita diciptakan sebagai manusia dari Tuhan yang sama. Ada titik-titik persamaan yg membuat kita saling menjaga keharmonisan kehidupan.

***

Nah, inilah sebabnya saya sampaikan bahwa jika ada kejadian intoleran yg berujung pada penistaan agama di Papua, dapat dipastikan bukan berasal dari hal yang sepele. Bahkan sangat mungiin aktor intelektualnya bukan orang Papua. Perlu dan butuh effort yang sangat besar untuk menyusun skenario dan menjalankannya. Dan ini pasti ‘berbiaya’ mahal.

Loading...