Beranda News Obituari Tommy Apriando

Tommy Apriando

1659
BERBAGI
Tommy Apriando (Foto: Mongabay Indonesia via Susilo Adinegoro)

Arfi Bambani

“Kamu aslinya Jawa, Tom?” saya bertanya di sela-sela Pelatihan Jurnalis untuk isu keberagaman bersama Sejuk, 11 Januari 2020 silam. Saya bertanya begitu karena mendengar aksennya yang njawani.

“Tidak, Uda,” katanya memanggil saya “Uda”. “Aku asli Lampung, Pringsewu. Kuliah dan numpang hidup saja di Yogya,” kata jurnalis Mongabay itu tersenyum.

Tommy yang berbadan subur itu selain menetap di Yogya, juga adalah Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Sebuah posisi yang jauh-jauh hari saya sudah sampaikan kepada dia untuk diemban. Sehingga setiap kali bertemu sebelum dia menjadi ketua AJI Yogyakarta, saya selalu berseloroh, dia yang suatu hari harus menjabat posisi itu.

Terus terang, saya kagum dengan anak muda yang jarak umurnya nyaris 10 tahun dengan saya ini. Meski saya lebih dulu terjun di bidang jurnalisme, pengalamannya sebagai jurnalis pilih tanding. Dia menyelusup ke dalam rimba. Dia menyusuri lobang-lobang bekas galian tambang batubara di Kalimantan. Dia mengadvokasi petani-petani yang digusur. Dia membela orang-orang yang menghirup udara beracun sehingga pernah dia pun jatuh sakit. Perlawanannya dilakukan lewat tulisan. Dia juga menjadi salah satu periset untuk film Sexy Killers yang menjadi fenomena YouTube itu.

Tommy mengalami bagaimana rasanya diintimidasi saat meliput. Dia mendapatkan ancaman kekerasan, baik fisik, mental, dan online melalui telepon dan media sosial. Pernah Tommy harus hiatus dari aktivitas jurnalisme karena masalah keamanan setelah liputannya menyinggung oligarki di negara ini.

Itulah sebab ketika Pelatihan Jurnalis untuk Keberagaman yang saya koordinasikan butuh pelatih safety training, Tommy adalah nama yang pertama muncul di kepala saya. Tommy juga jebolan pelatihan safety yang digelar Internews tahun 2017 silam. Dan Tommy juga sudah berkali-kali membagikan tips menjaga keamanan saat meliput kepada jurnalis-jurnalis lain.

Dan Sejuk sebagai yang mengorganisasikan pelatihan juga merasa klop saat nama Tommy disebut. Tommy juga ternyata jebolan salah satu pelatihan Sejuk. Saat Tommy berpulang 2 Februari 2020 kemarin, terungkaplah sekian banyak pelatihan-pelatihan yang telah diikutinya, bahkan sampai ke Melbourne dan Hong Kong, dari pelatihan hak asasi manusia sampai isu keberagaman. Kemauannya belajar sungguh mengagumkan dan dia pun tak segan-segan berbagi ilmu kepada teman-temannya.

***

Tommy pun menyanggupi jadi trainer safety buat pelatihan kami. Akhir Desember 2019, saya menghubungi dia, apakah bisa ke Jakarta untuk mengikuti focus group discussion membahas kurikulum pelatihan. Dia pun menyanggupi. Saya menawarkan apakah ingin menginap di hotel yang sama tempat kita melakukan FGD.

“Aku ndak usah nginep. Tapi pulang mundur nanti. Mau rapat dulu sana aji Jak..bahas rencana kongres. Konsolidasi,” kata Tommy melalui pesan WhatsApp.

Saya menawarkan bisa saja menginap dua malam di hotel. Lagi-lagi Tommy menolak, pilih tidur di kantor AJI. Saya mengingatkan untuk datang tepat waktu nantinya.

Tommy pun bersemangat sekali mengikuti FGD. Dia memaparkan materi-materi yang harus diberikan. Penyelia project kami yang berasal dari Australia sampai memuji para pelatih yang mengikuti FGD. “It seems that they know what they are doing,” katanya.

Setelah FGD, minggu berikutnya kami langsung menggelar pelatihan di Solo. Tommy hadir di hari kedua pelatihan karena materinya memang di bagian akhir, menyangkut bagaimana aman dalam melakukan pekerjaan sebagai jurnalis. Sebelum sesinya dimulai itulah, kami mengobrol.

Entah bagaimana, Tommy bercerita tentang ihwal terjun ke bidang jurnalisme. Dia aktif di lembaga pers mahasiswa Keadilan, Universitas Islam Indonesia.

“Kamu kuliah apa?” saya bertanya.

“Hukum, Da,” dia menjawab. Kalau tak salah, dia angkatan kuliah 2007.

“Kamu ikut Rode?” entah mengapa saya lalu bertanya tentang sebuah kelompok yang bermarkas di Gang Rode, dekat kampus Fakultas Hukum UII. Aktivisme dan pandangan politiknya tidak jauh-jauh dari kelompok ini.

Tommy menggeleng. Belakangan saya baru tahu, memang dari awal aktivitasnya sebagai aktivis pers mahasiswa yang menggores masa depannya sebagai jurnalis cum aktivis. Meski pernah magang di Kontras, Tommy kembali lagi ke kegiatan yang dicintainya, menulis untuk orang banyak.

Kami mengobrol lagi tentang berbagai macam hal, termasuk soal aktivitasnya meliput isu-isu lingkungan dan pembelaannya pada rakyat kecil. Dia juga bercerita tentang seorang senior jurnalis di Yogyakarta yang dia sedang usahakan agar kembali menjadi anggota AJI. Saya sempat mengingatkan soal menjaga kesehatan karena saat itu dia sudah mulai mengeluh soal itu. Saya mengingatkan dia tentang saya sendiri yang pernah jatuh sakit parah.

***

Namun energinya memang jauh melampaui kemampuan badannya. Setelah ternyata sempat ke Jakarta lagi setelah dari Solo itu, dua minggu setelah pertemuan kami terakhir, saya mendapat informasi Tommy dirawat di rumah sakit di Yogya. Saya mengirim salam penyemangat melalui sebuah grup WhatsApp di mana kami sama-sama menjadi anggota. “Duh, @⁨Tommy Apriando⁩. Semoga segera sembuh. Nanti kita ketemu di Palu.” Akhir Februari 2020 ini, Tommy dijadwalkan mengisi pelatihan di Palu. Saya akan hadir juga.

Dan kemarin, saat saya berada di sekretariat AJI Nasional, di rumah organisasi yang kami sama-sama cintai, saya mendapat kabar kepulangan jurnalis hebat ini. Ketua Umum AJI Abdul Manan mengajak segenap hadirin yang berada di sekretariat untuk rapat kerja saat itu untuk mengheningkan cipta. Beberapa teman ada yang mengeluarkan air mata.

Selamat jalan, Tommy. Semoga damai di sana, tak seperti di bumi ini. A luta continua.

* Arfi Bambani adalah mantan Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Kini Country Representative Internews untuk Indonesia

Loading...