Beranda Kolom Kopi Pagi Tontonan “Metagila” Menjelang Pilgub Lampung 2018

Tontonan “Metagila” Menjelang Pilgub Lampung 2018

672
BERBAGI

Endri Kalianda

Kisah Ken Arok dan balada “Negeri Kutukan Empu Gandring” sebagaimana ditulis Piet Khaidir di halaman opini Kompas pada masa awal reformasi, menemukan relevansinya hingga kini. Yakni, mental penerabas yang mengabaikan batasan antara gila dan waras. Penghalalan “membunuh demi kekuasaan” mewarnai perpolitikan Indonesia mutakhir.

Tentang metagila, saya kutipkan tulisan Piet Khaidir.: “Akhirulkalam, penyakit meta-gila ini dengan penuh arif harus kita waspadai, karena akan menghancurkan negeri ini dan berkutat dalam konflik dan intrik.”

Mas Piet — demikian saya memanggilnya– adalah orang Partai Amanat Nasional (PAN). Alih-alih pesan ini dijalankan banyak partai politik, terutama PAN sendiri, pesan yang yang menjadi bagian himpunan pemikiran dan pandangan politik kebangsaan bertajuk Pandangan Fraksi PAN 2004-2009 itu kini seolah teronggok sebagai gagasan. Padahal, buku yang berisi gagasan-gagasan altruis wakil rakyat dari PAN ini bukan saja dokumen perjuangan dan pemikiran politik kebangsaan sebuah parpol. Sejak itu, sampai sekarang, tak pernah ada lagi buku sejenis. Bisa disebut, PAN sudah berjalan tanpa konsep dan pemikiran yang bernas.

Tontonan Menjelang Pilgub

Kalau dicermati lebih dalam, sejumlah manuver yang dilakukan elite PAN menjelang Pilgub Lampung, pada titik tertentu adalah manifestasi permainan “metagila”. Bukan saja cara tak lazim untuk meraih dan melanggengkan kekuasaan yang dipertontonkan ke publik, tetapi tak segan-segan memainkan agama dan menistakan bahasa-bahasa ketuhanan dalam politik yang “seolah-olah” agamis dengan mengumbar slogan-slogan menolak komunisme. Ini dilakukan baik oleh Pak Amien Rais sendiri maupun oleh Ketua Umum DPP PAN. Cara mengeceknya sangat mudah: kita tinggal googling dan menyebut kata kunci terkait dua tokoh itu.

Mari kita putar kembali tontoinan itu:  setelah deklarasi mendukung Arinal Djunaidi sebagai calon gubernur Lampung 2018, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan tanpa beban dalam sambutannya mendoakan Bakhtiar Basri, Ketua DPW PAN Lampung yang baru diganti adiknya, Zainudin Hasan dengan jalan Muswil Luar Biasa. Kata Zulkifli Hasan: “Saya berikan jabatan sebagai Wakil Ketua Umum DPP PAN dan saya doakan jadi Gubernur Lampung.”

Kalau kita cemati, itu adalah pernyataan yang bisa disebut sebagai “memainkan doa sebagai bahasa politik untuk menyembunyikan laku lancung”. Kita tahu, doa adalah bagian dari senjata orang beriman dan ada adab, aturan serta syarat rukun yang mesti ditempuh. Pada konteks ini, ketika dirinya mendukung Bakhtiar Basri sebagai calon, kemudian menggerakkan mesin partai untuk pemenangan, baru fase mendoakan bisa diterima. Itu adalah bagian dari ikhtiar yang layak disebut bahasa kesalehan beragama dalam laku politik. Akan tetapi, secara jelas. PAN mendukung Arinal, lalu mendoakan Bakhtiar.

Bukan hanya doa, jabatan Wakil Ketua Umum dalam struktur PAN, awal sebenarnya hanya proses untuk menghormati Drajad Wibowo ketika dipaksa mundur dalam Kongres PAN di Batam, pada 2010 lalu. Sekarang, jabatan itu “diobral” tanpa proses rekrutmen yang menjadi gelombang semangat reformasi di tubuh PAN.

Diketahui, proses permusyawaratan untuk menentukan jajaran pengurus, terutama ketua di level pusat, wilayah, daerah, maupun cabang, salah satu partai yang melibatkan suara satu tingkat di bawahnya, hanya ada di PAN. Lewat kongres, muswil atau musda, ketua terpilih diharapkan punya legitimasi yang kuat, selain tentu saja, sulit ditempuh ketika calon ketua hanya punya modal finansial. Kekuatan infrastruktur dan suprastruktur partai di PAN ini roboh setelah Zulkifli Hasan jadi ketua umum, mengalahkan Hatta Radjasa di Kongres Bali 2015 lalu dengan hanya selisih 6 suara dari totoal 582 suara.

Rinciannya, perolehan suara Hatta Rajasa 286 suara, Zulkifli Hasan 292 suara. Ada catatan 4 suara rusak.

Saya sempat melihat langsung arena kongres PAN di ballroom hotel Westin Nusa Dua, Bali, 1 Maret 2015 itu. Bagaimana panas dan serunya suasana pertarungan antara Hatta Radjasa dan Zulkifli Hasan. Pada momentum pembukaan bahkan, nuansa kuatnya dukungan pada Hatta Radjasa menonjol diperlihatkan jajaran panitia sampai pada susunan acara. Namun secara piawai, diambil langsung oleh pendiri PAN, M. Amien Rais secara mengejutkan. Dimulai dari sambutan yang langsung menceritakan kisah penghianatan salah satu ketua parpol papan tengah yang semua yang hadir seketika menyebut. “Hatta Radjasa” ketika Amien Rais menutup dengan pertanyaan. “Saya tidak tahu siapa ketua partai papan tengah yang munafik itu?”

Tidak cukup sampai di situ, proses peresmian pembukaan Kongres PAN 2015 yang ditandai dengan pemukulan gong, pembawa nampan yang akan menyerahkan kepada Hatta Radjasa, diambil langsung oleh Amien Rais. Pemukul gong diayunkan dan diputar-putar sebentar sebelum diserahkan pada Hatta Radjasa, lalu mengepalkan tangan kanan, Pak Amien Rais menyerukan,”Hidup Bang Zul!”

Di koridor tengah pengunjung, rongga antar-kursi, dipimpin anak Pak Amien, Hanafi Rais, serombongan orang berdiri sembari menyerukan “Hidup Bang ZUl”. Secara simultan, forum pembukaan kongres, seruan para pendukung Hatta Radjasa yang meriah sebelum acara dibuka, bungkam seketika melihat atraktifnya keluarga pendiri PAN.

Belakangan, saya baru tahu kalau Zulkifli Hasan ternyata besan Pak Amien Rais. Padahal, isu yang berkembang di arena kongres, Hatta Radjasa tak layak dipilih karena PAN dikendalikan adik-adiknya. Itu kabarnya yang membuat suara PAN di Sumatera Selatan, kampung halaman Hatta Radjasa, suara partai itu jeblok. Menariknya, sekarang, hal semacam itu dipraktikkan Zulkifli Hasan di Provinsi Lampung.

Sekadar diketahui, setelah Zulkifli Hasan jadi Ketua Umum DPP PAN, adiknya, M. Hazizi Hasan, jadi Ketua Fraksi DPRD Lampung, meski kemudian mundur dari anggota dewan karena disinyalir terbelit kasus penipuan. Adiknya yang pernah jadi Ketua DPD II Golkar, setelah jadi pengurus DPP PAN, kini terpilih sebagai Bupati Lampung Selatan pada Pilkada serentak 2015 lalu, sekarang lewat Muswil Luar Biasa, jadi Ketua DPW PAN Lampung. Sedangkan adik kandung yang lain, Ahmad Fitoni, jadi Ketua DPD PAN Lampung Selatan. Sekarang, justru ditambah berita-berita di media seputar adik kandungnya yang jadi Ketua DPW PAN Bengkulu, Helmi Hasan, rencananya bakal maju sebagai calon wakil gubernur Lampung.

Meski belum terlihat perolehan suara PAN bakal jeblok seperti Sumsel atau justru meningkat pada Pemilu 2019 nanti, setidaknya model permusyawaratan yang lazim dilakukan di tubuh PAN, mulai hilang. Sekarang era aklamasi dan kekerabatan. Model oligarki politik yang jadi pilihan. Sekadar perpindahan dari Sumsel ke Lampung.

PAN bagaimanapun juga mempunyai hubungan historis dengan semangat antiotoritarian, antidiktator, dan memiliki konsep tata organisasi yang ideal. Akan tetapi, teori tentang “high politic” dan tauhid sosial yang dirumuskan Amien Rais, sama sekali tidak terlihat. Bisa disebut tidak ada dalam langkah-langkah kepartaian yang dibentuk oleh Bapak Reformasi ini.

Tulisan ini sekadar nasihat untuk mengingatkan mantan Ketua PP Muhammadiyah itu dengan ayat Kaburo maktan indallahi antaquluu maalaa tafaluun. Sekaligus bagaimana bawaan dalil-dalil keagamaan yang dibuat untuk menguatkan legitimasi, termasuk hegemoniknya di tubuh PAN, sebenarnya membuat jajaran petingga PAN, terutama Pak Amien, punya potensi untuk masuk dalam poin pertama orang yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yakni, imamun adilun. Kasus-kasus PAN sekarang, dari proses penetapan calon dalam kepala daerah maupun menempatkan kader-kadernya untuk jadi pimpinan, semakin menjauhkan PAN dari politik adiluhung dan memperkuat stigma imamun dzolimun.

Apa beda PAN dengan perusahaan ketika semangat yang ada adalah politik cari untung dibanding perjuangan politik nilai? Namun demikian, jika kemudian pertanyaannya adalah adakah yang salah dengan berbagai kebijakan itu? Atau, moral hukum apa yang dilanggar?, kita akan menjawab: tidak ada. Hanya Pak Amien Rais dan para petinggi PAN perlu mengingat ayat Al Quran: Dzarhum yaakulu wayatamattauu wayulhihimulamalu fasaufa yalamuun.

Tentu saja, permainan metagila tidak hanya dipertontonkan PAN. Fenomena metagila juga terjadi di partai-partai lain, terutama menjelang pilkada.

*Endri Y adalah warga Bandarlampung

Loading...