Beranda Seni Sastra Diskusi Sastra: Tradisi Menulis Harus Dihidupkan

Diskusi Sastra: Tradisi Menulis Harus Dihidupkan

221
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Fitriyani (dok)

BANDARLAMPUNG —Tradisi menulis masih menjadi masalah di sebagian masyarakat kita. Sementara tradisi lisan juga tidak berkembang sebagai budaya dialog atau diskusi. Karena itu tradisi menulis harus terus dihidupkan. Upaya-upaya menghidupkan tradisi menulis ini dapat melalui cara pelatihan menulis secara berkeseninambungan.

Demikian benang merah diskusi dua buku puisi karya Yuli Nugrahani dan Fitri Yani. Kedua penyair perempuan asal Lampung itu meluncurkan Pembatas Buku (Yulu Nugharani) dan Suluh (dwibahasa: Lampung-Indonesia) karya Fitri Yani, di UKMBS Universitas Lampung, Kamis (22/5) pukul 20.00-23.00 WIB.

Hadir dalam diskusi dan peluncuran dua buku puisi sekaitan perayaan 12 tahun Komunitas Berkat Yakin (KoBer), antara lain Syaiful Irba Tanpaka, Edy Samudra Kertagama, Udo Z. Karzi, Alya Salaisha, Alexander GB, Iin Muthmainah, Yulizar Fadli, Ivan Sumantri Bonang, Tri Sujarwo, Dana E Rahmat, Neri Juliawan. Selain itu komunitas seperti KoBer, Forum Lingkar Pena Lampung, UKMBS Unila.

Ari Pahala Hutabarat selaku moderator diskusi mengatakan, tradisi menulis yang masih “lumpuh” terjadi didaerah ini harus dihidupkan. Dibanding dengan Sumatera Barat, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, atapun Bali, tradisi menulis di kalangan pelajar atau mahasiswa di Lampung masih tergolong kurang.

Karena itu, kata penyair yang juga Ketua Komite Sastra DKL ini, diharapkan para sastrawan Lampung menulis sebanyak-banyaknya dan jangan dulu berpikir masalah mutu. 

“Itu bukan berarti kualitas kita abaikan. Tetapi, itu akan datang jika tradisi menulis kita sudah baik,” ujarnya.

Ia menyambut apa yang dilakukan kedua penyair perempuan Lampung, Yuli Nugrahani dan Fitri Yani, dengan menerbitkan kumpulan puisi tunggal ini. Fitri Yani melalui Suluh, kumpulan puisi yang pertam terbit dalam bahasa Lampung dan memeroleh penghargaan Rancage, bisa dijadikan pengabaran bahwa daerah ini memiliki sastrawan.

Sebab, terus Ari Pahala, selama ini Lampung hanya dikenal karena begal, gajah, atau politik yang karut-marut. “Liwat penghargaan Rancage atau publikasi di media cetak nasional, dapat memperkenalkan daerah ini memiliki penulis juga,” katanya.

Upaya tradisi menulis bisa dihidupkan melalu pelatihan (workshop) menulis kreatif. Lembaga-lembaga yang kompeten bisa mengadakan kegiatan ini. Misalnya, UMBS Unila, Dewan Kesenian Lampung, FKIP jurusan Bahasa dan Seni, maupun Kantor Bahasa Provinsi Lampung, dan Dinas Pendidikan Lampung.

“Di KoBer sendiri, sudah berjalan beberapa bulan pelatihan menulis yang dlaksanakan dua kali sepekan. Pesertanya mahasiswa dan umum, dengan instrukturnya adalah Ari Pahala Hutabarat dan Ahmad Julden Erwin—keduanya penyair Lampung,” kata Fitri Yani.

Sementara Ari Pahala menegaskan, membaiknya tradisi menulis diharapkan semakin baik tradisi lisan (baca: dialog/diskusi) tumbuh di masyarakat kita.

“Kalau tradisi menulis saja belum baik, sementara kita menganggungkan tradisi lisan atau diskusi. Tetapi ketika diajak berdialog tak jelas menggunakan metodologi apa. Padahal, kalau berdebat di jejaring sosial seperti facebook atau twiter, semuanya seperti jago,” ujar Ari Pahala Hutabarat, direktur artistik KoBer Lampung ini.

Loading...