Beranda Ruwa Jurai Lampung Tengah Rayakan Tradisi ‘Suran’, Bupati Mustafa Mendalang di Kampung Sriagung

Rayakan Tradisi ‘Suran’, Bupati Mustafa Mendalang di Kampung Sriagung

324
BERBAGI
Bupati Mustafa memainkan tokoh Bima pada perayaan suran di Kampung Sriagung, Minggu malam (24/9/2017).

TERASLAMPUNG.COM — Bupati Lampung Tengah, Mustafa, turut larut dalam tradisi merayakan bulan Asyura atau dikenal sebagai syuroan atau suran, di Kampung Sriagung, Kecamatan Padangratu, Sabtu malam (23/9/2019).

Selain ikut doa bersama, Mustafa juga menjadi dalang wayang kulit. Lewat tokoh Bima, Bupati Mustafa menyampaikan sejumlah pesan kepada warga Lampung Tengah. Antara lain mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum bulan Muharam untuk mengintrospeksi diri.

“Menjadikan bulan yang baik ini sebagai bagian untuk meningkatkan kebaikan kepada sesama,” kata Mustafa.

Saat memainkan tokoh Bima, dengan berbahasa Jawa Bupati Mustafa juga menyampaikan sejumlah program pemerintah.

Ben daerah aman, kabeh kudu ronda. Dalan wis dibangun 2 kilometer nang kampung-kampung. Gaji RT, Linmas, Pamong mundak 3 kali lipat. (Biar daerah aman, semua harus ronda. Jalan sudah dibangun 2 km di kampung-kampung. Gaji RT, Linmas, Pamong dinaikan 3 kali lipat,”  kata Mustafa, kemudian disambut tepuk tangan penonton.

Pada kesempatan itu mengajak camat dan kepala kampung untuk berlomba-lomba menjadikan kampungnya yang terbaik. Pemerintah telah menyiapkan reward Rp 1 miliar untuk kampung terbaik, Rp 750 juta untuk kampung terbaik kedua dan Rp 500 juta terbaik ketiga.

Kampung sing apik, kampung sing aman, sing terang, rondane aktif, kampunge resik. Bakal oleh semiliar seko pemerintah. (Kampung yang bagus, kampung yang aman, yang terang, rondanya aktif, kampunya bersih, bakal dapat hadiah Rp 1 miliar,” imbuhnya.

Kepala Kampung Sriagung, Yatiman, mengatakan tradisi bersih kampung berlangsung setiap tahun dalam rangka memperingati tahun baru hijriah atau biasa mereka sebut Syuroan. Berbagai tradisi dilaksanakan untuk mendapatkan keberkahan.

“Tradisi ini bertujuan untuk memanjatkan doa agar terhindar dari mara bahaya dan malapetaka. Ada tradisi bersih kampung, pengajian, doa bersama dan menggelar berbagai kesenian Jawa sebagai hiburan. Kehadiran Pak bupati semakin menambah semarak acara syuroan tahun ini, mudah-mudahan komunikasi seperti ini bisa terus berlangsung. Tak hanya duduk di meja, bupatinya juga mau turun,” kata Yatiman.