Beranda Headline Tragedi Bunuh Diri dan Kerumunan Manusia Berhati Seng

Tragedi Bunuh Diri dan Kerumunan Manusia Berhati Seng

9581
BERBAGI
Ilustrasi | freepik.com

Oyos Saroso H.N.

Ibu muda bermobil berhenti di depan Transmart Bandarlampung di Jl. Sultan Agung Bandarlampung saat “drama tragis” Jumat petang, 22 Februari 2019 itu terjadi. Ia (mungkin juga orang lain yang berada di dekatnya) merekam kejadian anak muda yang di atas ketinggian gedung Transmart hendak menjatuhkan diri alias terjun bebas.Dengan kondisi alat perekam video telepon seluler menyala (on), ia merekam aksi anak muda sambil teriak “ayo, loncat! ayo loncat!”

Tak lama kemudian remaja itu benar-benar melompat dari atas ketinggian 40-an meter. Dengan posisi alat rekam yang masih menyala, ibu muda itu seolah menyesal kok anak muda itu nekat betulan. Mungkin akan selesai sampai di situ saja kalau video hasil rekaman tidak tersebar di media sosial beberapa menit kemudian.

Tidak hanya ibu muda itu yang merekam peristiwa tragis itu.Beberapa saksi mata lainnya diyakini juga merekam aksi anak muda yang nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas. Indikasinya: ada beberapa versi video di dunia maya dengan objek sama.

Foto-foto peristiwa memilukan juga tidak terhitung banyaknya. Hampir semuanya menjadi “santapan sore hari” para pemburu warta. Juga santapan para pewarta yang ingin medianya “hits” dan menangguk klik banyak dari para pembaca.

Saya sedih mendengar kabar itu. Saya tak kuasa membendung air mata ketika istri saya menunjukkan video tragedi Jumat petang di Transmart Bandarlampung. Buru-buru saya minta istri saya menghapus video itu.

Saya sedih bukan karena anak muda itu bertalian darah dengan saya. Saya sedih karena secara kasat mata ada nilai-nilai kemanusiaan yang hilang: kematian menjadi tontonan dan (seperti) dirayakan (dengan sangat suka cita).

Mungkin diam-diam ada rasa kebanggaan pada diri para perekam dan pengambil gambar peristiwa memilukan ketika mereka bisa menyebarluaskannya ke media sosial. Ke-Akuannya seolah “diakui” ketika mereka menjadi “orang yang berada dalam peristiwa”.

Konyolnya, ada banyak orang melek media turut memajang gambar-gambar tragedi di media massa tanpa upaya menyamarkannya dengan gambar blur. Seolah-olah mereka ingin mengabarkan bahwa medianya menjadi juara karena menjadi yang pertama kali mendapatkan liputan eksklusif tentang menit demi menit lepasnya nyawa dari jasad si anak muda.

Peristiwa serupa dengan bentuk tragedi lain mungkin akan berulang: orang-orang di sekitar kejadian lebih sibuk menonton, merekam, memotret, tiada upaya keras untuk mencegah tragedi terjadi, lalu menyebarluaskan hasil rekaman dan foto-fotonya ke media sosial.

Saya khawatir lama-lama akan makin banyak manusia yang hatinya (seperti) terbuat dari seng. Mereka seolah tidak berdarah-daging, semacam alien yang tumbuh dan berkembang biak di tengah-tengah hutan kota yang kejam.

Semoga Allah memaafkan kekhilafan mereka semua. Itu pun kalau mereka merasa khilaf.

BACA JUGA: Pilgub, Talkshow, dan Hantu Bergentayangan di Musim Pemilu

Loading...