Beranda News Bandarlampung Malam Ini Tragedi UBL Berdarah Diperingati, Sejumlah Pelaku Sejarah Hadir

Malam Ini Tragedi UBL Berdarah Diperingati, Sejumlah Pelaku Sejarah Hadir

189
BERBAGI
Peringatan UBL berdarah, Jumat malam (28/9/2018)

TERASLAMPUNG.COM — UKMBS Universitas Bandarlampung (UBL) menggelar peringatan Tragedi Berdarah 28 September 1999 di Cafetaria Kampus UBL,Jl. Z.A. Pagar Alam, Bandarlampung,  Jumat malam (28/9).

Peringatan Menolak lupa tragedi UBL berdarah 28 September itu menghadirkan empat saksi sejarah sebagai nara sumber yaitu Ujang Tomi, Yos Rizal, Mahendra Utama dan Abi Hasan Muan.

Ujang Tomi, advokat dan politisi PPP yang ketika tragedi 28 September 1999 masih menjadi mahasiswa hukum UBL, menceritakan sahabatnya Muhammad Yusuf Riza yang tewas tertembak dan Saidatul Fitria mahasiswi Unila reporter koran mahasiswa Tehnokra.

“Waktu kami minta kantor Koramil untuk menurunkan bendera setengah tiang dan pihak Koramil enggan menuruti permintaan tersebut, tau-tau papan Koramil ada yang merubuhkan disitulah saya mai dengar rentetan suara senjata, saya lari dan tak lama saya lihat teman kami Muhammad Yusuf Riza tergelat di jalan,” jelasnya.

Ujang Tomi menceritakan korban berikutnya yang meninggal yaitu Saidatul Fitria wartawan koran kampus Unila Tehnokra.

“Tak lama datang Polisi kalo sekarang namanya mungkin Dalmas, kami mundur masuk kampus dan melawan, Polisi masuk kampus dan satu korban lagi gugur yaitu Saidatul Fitria saya lihat di bagian kepalanya ada bekas poporan senjata, saya masih ingat dia meninggal di Gedung B,” kata Ujang.

Sementara itu Mahendra Utama politisi PKB yang saat itu menjabat KPW PRD mengaku menaruh hormat dengan Rektor UBL yang saat itu dijabat Almarhum Barusman yang mendukung kegiatan mahasiswanya.

“Selain mahasiswanya yang mau menerima kami ketika kami mengorganisir tapi peran rektor ketika itu cukup besar, buktinya tidak ada mahasiswa UBL yang ikut aksi yang dipecat atau ditekan oleh pihak rektorat,” jelasnya.

Dukungan Rektor UBL Alm Barusman terhadap mahasiswanya yang terlibat aksi diakui oleh Ujang Tomi yang sempat diajak ngobrol di ruang rektorat bersama teman-temannya.

“Pak Rektor menceritakan ruangannya yang penuh bekas peluru, bahkan beliau menghidari terkena peluru nyasar sampai tiarap di bawah meja kerjanya,” uangkapnya.

Sedangakan Yosi Rizal yang kini anggota DPRD Provinsi dari Partai Hanura ketika itu masih menjadi aktivis menceritakan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dan elemen lainnya adalah menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya yang tidak ada bedanya dengan Dwi Fungsi ABRI yang sebelumnya sudah ditolak.

Pengacara dan politisi Partai Golkar Abi Hasan Muan saat itu adalah Direktur LBH Bandarlampung mengungkapkan perannya sebagai pengacara rakyat dan menceritakan bagaiman dia berdiskusi dengan Komandan POM yang dijabat oleh Letkol Bagus Heru.

“Saya diskusi ama dia dan meminta aparat yang terlibat untuk dihukum dan mahasiswa yang di penjara segera dikuarkan, dia setuju,”jelas Abi.

Sayangnya hukuman bagi aparat yang diduga terlibat atas kematian dua mahasiswa itu tidak ada yang berat paling lama satu tahun.

“Setahu saya aparat yang diduga terlibat itu ada yang kena 7 bulan paling lama satu tahun dan tidak ada yang dipecat dari kesatuannya,” kata Ujang Tomi.

Pada bagian lain Ketua Pelaksana peringatan tragedi berdarah 28 September, Erik Sinaga mengatakan peringatan ini untuk mengapresiasi kepada pahlawan mahiswa yang gugur dan memberi penghormatan kepada mereka yang berkorban untuk terciptanya iklim demokrasi di negeri ini.

Dandy Ibrahim

Loading...