Beranda Seni Puisi Tugas Penyair Bukan Sekadar Mencipta

Tugas Penyair Bukan Sekadar Mencipta

320
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com 


Tarmizi Rumahhitam (Indonesia) baca puisi di forum PPN VII. (Foto: Isbedy)

SINGAPURA–Penyair bukan sekadar mencipta, tapi bagaimana karya puisinya dapat dihargai orang. Sehingga ia bisa kaya, kata penyair Malaysia Abdul Ghafar Ibrahim (AGI). AGI tampil pada sesi ‘Mengapa Aku Menulis Puisi’ pada Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VII yang berlangsung di Taman Warisan Melayu, Singapura, Sabtu (30/8) siang.

Dia menyebut, penyanyi dan pelakon (aktor) bisa kaya hanya bermodal suara. Sementara penciptanya (syair atau naskah), tetap hidup miskin. “Karena itu, tugas penyair bukan hanya pandai di atas kertas (menulis, Red) tetapi juga piawai di pentas,” ujar Agi.

AGI adalah penyair Malaysia kelahiran 1943. Pernah mendapat penghargaan SEA Writer dari Kerajaan Thailand. Karya-karya puisinya mengingatkan gaya puisi Ibrahim Sattah (alm). Misalnya AGI menulis Tun Tun Tak, sementara Ibrahim menulis Dan Dan Dit.

Selain itu puisi-puisi gambar yang pernah dilakukan Danarto dan Remmy Silado, begitu pula beberapa puisi AGI. Lebih jauh AGI mendorong penyair bisa kaya memanggungkan karya-karya puisinya.

 “Semestinya kita iri dengan penyanyi atau pelakon yang bisa kaya, karena suaranya bisa dijual,” katanya.

Pendapat AGI dibantah sejumlah penyair, khususnya Indonesia. Misanya Jumari HS (Kudus) dan Fakhrunnas MA Jabbar (Riau).

Menurut Fakhrunnas, tidak setiap penyair bagus membacakan puisi-puisinya di panggung. Ia mencontoh Sapardi Djoko Damono dan Abdul Hadi WM, tak cakap sebagai pembaca puisi di panggung. “Tetapi, puisi-puisi Sapardi dan Abdul Hadi tak diragukan kualitasnya,” kata Fakhrunnas.

Sementara Sutardji Calzoum Bachri saat di Bengkalis beberapa tahun silam, menegaskan, kalau ingin terkenal dan kaya jadilah artis dan tinggalkan penyair. Malam nanti, pembacaan karya oleh peserta PPN VII di Taman Warisan Melayu, Singapura.

Loading...