Tugu Duren dan Mistik Tanpa Duren

Budi Hutasuhut
Bagikan/Suka/Tweet:

Budi Hutasuhut

Saya belum lupa, sebelum Tugu Duren dibangun zaman Wali Kota Edy Sutrisno — pada masa itu pejabat di Lampung sedang demam membuat dan menciptakan ikon yang khas di suatu daerah — saya makan duren di pinggir Jalan Prof. H. Agus Salim, tepatnya di kawasan Kelurahan Sukadanaham, Bandarlampung. Daerah itu, konon, kawasan wisata. Tapi, waktu saya makan duren, daerah itu baru dilirik.

Saya bisa melukiskan kondisi daerah yang sunyi itu sebelum Tugu Duren berdiri. Saya ke sana, menikmati kesunyian, lalu singgah karena bertemu pedagang duren. Anak-anak, usia sekolah, mereka baru saja dapat mengunduh duren dari kebun. “Murah, Pak,” katanya, “enak lagi.”

Duren di Kelurahan Sukadanaham adalah buah yang khas. Ada banyak kebun duren di sana, yang ditanam bersama melinjo, kelapa, dan tanaman lain. Bukan kebun khusus duren. Tanaman berusia puluhan tahun itu, warisan dari leluhur mereka. Batangnya besar dengan diamter yang nyaris satu meter. Buah lebat, meskipun jauh lebih lebat daunnya.

Setiap tahun, selalu di akhir tahun hingga awal tahun, duren musim. Kalau sedang musim, aroma duren menyerbak. Cuma, saya memang kurang begitu suka duren, takut darah tinggi naik. Bukankah Tuhan sudah memberitahu, segala jenis tanaman di muka bumi yang punya dampak serius terhadap kesehatan, pastilah kulit luarnya tajam. Duren berkulit tajam, maka isinya pun berdampak tajam.

Bukan soal dampak duren pada kesehatan yang mau aku tulis, tapi dampak Tugu Duren pada persoalan perdurenan di kawasan pariwisata. Sabtu malam, 27 Desember 2015, saat hujan rintik-rintik, saya ke Kelurahan Sukadaham bersama istri. Hanya untuk menikmati duren.

Bertemu dengan beberapa pedagang, kebetulan beberapa di antara mereka saya kenal secara pribadi–dan mereka masih ingat pada saya — merasa dikunjungi sahabat lama. Bukan menawarkan duren, mereka malah berkeluh kesan.

“Duren susah sekarang. Tahu gak, duren yang saya jual ini didatangkan dari Bengkulu,” kata Yusuf, pedagang duren.

Nah loh! Bagaimana bisa Kelurahan Sukadanaham yang sentra duren itu justru mendatangkan duren dari daerah lain?

Namanya pedagang, pedagang kecil pula–yang berjualan hanya pada musim duren– analisisnya tak jauh dari kemampuan rakyat di tingkat bawah. “Kau tahu,” katanya, mulai beranalisa, “sejak Tugu Duren itu berdiri, musim duren selalu tak pasti.”

“Ini mistik,” kataku, “aku tak mau terlibat soal sirik.”

Yusuf tertawa. Terdengar getir. “Itu nyata,” katanya. “Entah apa yang ada dalam pikiran pemerintah saat membangun Tugu Duren itu. Kalau memang mau menetapkan daerah ini sebagai kawasan wisata, mengapa cuma pintar bangun Tugu Duren?”

“Aku kurang paham soal itu.”

“Pemerintah seharusnya membantu, bukan hanya membangun Tugu Duren. Tidak ada manfaatnya bagi kami.”

Catatan:Kata “duren” dipakai, bukan kata “durian”.

You cannot copy content of this page