Tujuh Hari Terombang-ambing di Laut, Enam Nelayan Ini Hanya Minum Air Mesin Kapal

  • Bagikan
Rudianto (kaus hitam) dan Suherman Saputra (kanan) kakak beradik ini duduk bersila dengan menceritakan kisahnya saat terombang ambing ditengah lautan selama tujuh hari saat disammbangi Teraslampung.com di rumahnya di Pulau Pasaran, Kota Karang, Kamis (20/8) siang.

Zaenal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG, Teraslampung,com– Untuk bisa bertahan hidup terombang-ambing ditengah lautan dan ganasnya obak, kata Suminto, dia dan kawan-kawan hanya minum air cooler atau air mesin kapal tanpa ada asupan makanan lain yang bisa kami makan. Selama beberapa hari berada ditengah lautan, ada dua kapal bermutan petikemas dan muatan gas yang melihat kapal mereka.

Bahkan kedua kapal itu, sempat mendekati kapalnya. Namun mereka tidak memberikan pertolongan, meski ia dan teman-temannya sudah memberikan tanda minta pertolongan dengan mengibarkan kain dan bendera.

“Kami semua sudah teriak-teriak minta tolong, kapal mereka ini hanya lewat saja. Ada beberapa orang yang ada di dalam kapal itu sempat keluar dan melihat kami, ya mungkin kami ini dikira mereka adalah perompak dan saya memakluminya namanya ditengah laut,”ungkapnya.

Munurut Suherman, bahwa air mesin yang mereka minum sudah bercampur dengan karat, sehingga warnanya merah ke kuning-kuningan. Karena tidak ada pilihan lain, kami semua minum air cooler itu yang hanya diendapkan sekitar lima menit.

“Air cooler  yang kami ambil dari mesin itu, tidak ada mas setengah gelas dan air itu kita minum untuk enam orang. Air mesin itu hanya sementara, tidak sampai setengah hari airnya sudah habis diminum kami semua secara bergantian. Kalau saya tidak makan ikan mas, karena tidak
doyan ikan jadi saya hanya minum air kuler saja,”ucapnya seakan meneteskan air mata.

Selama terombang-ambing di lautan, Suherman mengaku ombak laut sangat besar,  hingga mencapai ketinggian 4-5 meter. Semua yang ada dikapal tidak pernah tidur, kami terus menguras air laut yang masuk ke kapal secara bergantian agar kapal tidak tenggelam.

“Dalam sehari, tujuh kali kami menguras air yang masuk kedalam kapal. Kami semua tak henti-hentinya terus berdoa dengan mengharap ada keajaiban Tuhan,”ujarnya.

  • Bagikan