Beranda Teras Berita Tujuh Mahasiswa ITB Menjadi Delegasi Konferensi Sains dan Teknologi di London

Tujuh Mahasiswa ITB Menjadi Delegasi Konferensi Sains dan Teknologi di London

205
BERBAGI

BANDUNG, Teraslampung.com- Tujuh mahasiswa ITB menjadi perwakilan Indonesia sebagai peserta dalam The 55th London International Science Youth Forum (LIYSF) 2014 di Imperial College, London. Ajang tersebut diselenggarakan mulai Rabu (23/06/14) hingga Sabtu (06/08/14).

Mereka adalah Alitta Yelsya Junanda (Matematika 2010), Aninda Puspa Paramita (Aeronotika & Astronotika 2010), Clarissa Olivia Susanto (Teknik Kimia 2011), Evarina Engelina (Teknik Geodesi 2011), Giofanny Chintia Rahmi (Teknik Industri 2010), James (Teknik Sipil), Sandra Dwiananda (Matematika 2011).

Selama dua minggu tersebut, mereka mempresentasikan mengenai hasil penelitian mereka serta mengikuti kuliah yang diberikan di bidang sains dan teknologi yang sedang berkembang di dunia ini.

LIYSF ini merupakan wadah bagi para saintis dan insinyur muda berusia 17-21 tahun untuk memublikasikan penelitian mereka dalam ajang internasional. Hal ini bertujuan meningkatkan wawasan generasi muda mengenai sains dan teknologi supaya dapat dipalikasikan dalam kehidupan manusia. Harapannya, segala permasalahan yang ada di dunia khususnya yang berkaitan dengan sains dan teknologi dapat dijawab oleh penelitian yang dilakukan oleh peserta LIYSF ini. Pada tahun ini, LIYSF mengusung tema “Eureka-Breakthrough & Development in Science”.

“Untuk dapat menjadi delegasi ITB dalam konferensi LIYSF ini, kami harus mengikuti proses seleksiCurriculum Vitae (CV) serta abstrak dari penelitian kami,” jelas Clarissa. Dari proses seleksi tersebut terpilihlah 7 orang yang akan mewakili ITB sekaligus Indonesia untuk menyampaikan hasil penelitian masing-masing. “Kami bertujuh memiliki judul penelitian yang berbeda-beda. Penelitian saya mengenaihydrogen storage. Alasan saya mengambil tema hydrogen storage adalah karena memang selain menarik dan fuel cell  juga merupakan teknologi yang sedang berkembang di dunia,” jelas Clarissa.

Indonesia merupakan salah satu dari 125 negara yang mengikuti konferensi LIYSF 2014 ini. Selain memublikasikan hasil penelitian mereka dan mengikuti kuliah sains dan teknologi, mereka juga terlibat dalam kegiatan pameran kebudayaan negara masing-masing.

“Hari pertama merupakan acara pembukaan yang mana menjadi ajang pameran kebudayaan negara kita masing-masing. Kami menunjukkan ciri khas Indonesia dengan cara memperagakan batik atau kebaya,” tutur Clarissa. Dengan memamerkan pakaian khas Indonesia, yakni kebaya dan batik diharapkan masyarakat luar mengagumi dan mengakui bahwa kain tersebut adalah khas dari Indonesia.

Sains dan teknologi merupakan ilmu pengetahuan yang dinamis, berkembang secara pesat seiring dengan berkembangnya zaman. “Dengan terlibat langsung dalam konferensi LIYSF ini, kami menjadi sadar akan ilmu dan teknologi yang sedang berkembang di dunia serta dapat memberikan semangat bagi para peneliti muda, khususnya di Indonesia untuk terus berkarya dan menjadi solusi utama bagi permasalahan bangsa Indonesia,” kata  Clarissa.

Loading...