Beranda Seni Puisi Tujuh Narasi Kecil: Ode Buat Pak Wayan Sutame

Tujuh Narasi Kecil: Ode Buat Pak Wayan Sutame

373
BERBAGI

Oleh Ahmad Yulden Erwin

 

  

Malam itu, aku ingat, kita
bertemu. Kau terdiam, duduk di dipan kayu, sementara aku
mencoba mereka-reka kerut pada pipimu. Ah ya, ada juga kunang-kunang melintas
di balik pintu.
Aku pun mulai bercerita: tentang
penindasan para petani, tentang penjajahan bangsa sendiri, tentang sejarah pahit
negeri ini. “Ya, kami telah biasa, sejak Jepang merampas jagung, juga
padi, dan pakaian kami,” katamu, hampir tanpa mengerutkan kening.
Di bawah redup lampu petromaks, kauledakkan juga
cerita-cerita penjajahan: tentang para penindas bekas didikan NICA, hingga Pak
Lurah yang menjual beras negara.
“Sungguh, kami telah biasa, sejak kebodohan terus
membius kami, lantas timbul tidak peduli,” katamu dengan sedikit mengerutkan
kening. Terus dan terus: kita pun makin larut dalam diskusi.
“Harus ada yang coba mengubahnya,
harus ada yang berani melawan,  harus ada keadilan,” katamu dengan kening
yang semakin dikerutkan.
Tapi siapa yang harus memulainya? Mendadak kau pun terdiam. Kerut di keningmu susut perlahan, seolah berdamai
dengan kenyataan. Sesekali derum motor bagai mengintai dari jalanan. Masih
adakah yang perlu ditakutkan?
“Pikiran kita, ya, pikiran kitalah yang pertama harus
memulainya,” katamu, sambil tersenyum, begitu sederhana. Angin menisik kisi
jendela. Ah ya, sayup-sayup tercium wangi kenanga. Lalu kau pun terus
bercerita: tentang mahalnya biaya kuliah cucumu di kota, tentang jerat hutang
para petani  di desa, tentang
ladang-ladang jagung penuh pupuk kimia.
“Penjajahan itu, kini dan dulu, sama saja. Pikiran
kita, ya, pikiran kitalah yang pertama musti dibikin merdeka,” lirihmu, sebelum
menutup pembicaraan.
Malam itu, aku mulai memahami
kenyataan.

 

  

Mancing
Ikan Di Way Kanan

Malam kabut rimba, bulan setengah purnama. Menembus zonasi
Taman Nasional, tak ada gajah atau badak
yang bengal. Mobil mendaki jalan-jalan tanah, angin memeluk debu-debu gelisah.
“Kita
tiba,” kataku, sambil menunjuk ke arah dermaga.
“Apa lagi yang ditunggu?” pancing kawan lama. Lalu, kami
pun bergegas turun ke
haluan, bergegas melepas segala kepenatan. Bersama deram perahu motor, jauh-jauh kami lemparkan pikiran
kotor.
Di
sini sungai Way Kanan: sayup-sayup terdengar kecipak ikan.
Di
sini sungai Way Kanan: arusmu hitam memendam kepedihan.
Dari
atas perahu, kusaksikan, kini tepi-tepimu tinggal sisa rimba: tunggul-tunggul
arang, semak-semak liar, juntaian akar, juga bau hangus padang ilalang yang terbakar. Tak ada bunyi satwa. Hanya kebisuan
membekap suasana. Sesekali, terbias juga cahaya senter patroli jaga: Sedang
apa mereka? Menebangi gaharu atau menjerat rusa?
Di Kali Biru, kami pun henti.
Perahu tersandar di ranting mati. Bergegas kami siapkan umpan, menggulung tali, mengaitkan
cacing — lantas dengan satu teriakan,
kami lemparkan mata pancing. Selanjutnya, hanya menunggu. Melatih kesabaran di
alun waktu.
“Barangkali hanya buaya yang akan memakan umpanku,” gerutu kawan baru — mungkin jemu, mungkin bosan karena
menunggu, lalu dengan singut ia membakar ujung Dji Sam Soe.
Apa
yang kaubaca dari riak-riak kecil itu, kawanku? Atau mungkin kau terlalu
berharap ada keadilan yang menghampiri mata kailmu?
“Hei!
Ada baung memakan umpanku!” teriak kawan lama, sambil cepat menggulung senar
pancingnya.
Begitu seterusnya. Silih berganti kami temui: gembira,
kecewa, gembira, kecewa — pada intinya:
bukanlah ikan yang kami pancing, tapi gerak perasaan pada harap dan hening.
Bulan
sorong ke kiri, angin mendadak mati.
Ikan limbat, pelus, baung, dan kating: jadi saksi tentang
riwayat ketidakadilan di ranah pribumi.
Berceritalah kawan baru: dua tahun lalu,  
ada seorang lelaki, penduduk asli, berangkat memancing ke sungai ini. Sialnya,
ia malah tertangkap patroli. Ramai-ramai sang pemancing digiring ke pos
jaga, dituduh mencuri kekayaan negara, lalu satu popor senapan tepat menghantam tengkorak kepala. Demikian beredar
akhirnya cerita,            sang pemancing mati disiksa patroli
Jagawana.
“Tetapi
dulu, para pejabat dan orang-orang kaya dari kota, boleh pergi mancing
sepuasnya,” gerutu kawan lama. Bulan hilang purnama. Angin membius bau limbah
tapioka. Arus menghapus luka rakyat jelata: tinggal kemunafikan membungkus
sisa-sisa rimba.

 

 

 

 

Melintasi
Sungai Way Umpu

Melintasi sungai Way Umpu, serasa melintasi
lorong-lorong waktu. Tak ada perahu cadik
membelah riak kecilmu. Tak ada batang-batang kayu memotong arus coklatmu. Hanya sesekali anak-anak
dusun menombak ikan di lubukmu. Hanya semak mimosa mendekap tepi-tepimu.
Di seberang tenang arusmu, berjejer pondok-pondok
bambu, di situ orang-orang pribumi mengais rejeki, memancing udang di lipatan
alirmu. Tak ada lagi kebun kopi, karet atau lada: itu hanya cerita kejayaan
lama, ya, semua telah habis jadi milik negara.
Melintasi sungai Way Umpu, serasa menyusuri
mitos-mitos luka,  di situ bermula tanah
Blambangan, tanah yang dijarah dengan kekerasan, tanah orang-orang buangan,
“Leluhur kami adalah buaya, putih kulitnya, sampai kini masih bertapa, dari
muara ke muara,” kisah Azwari, kawan aktivis Komite Anti Korupsi.
–  Apa
artinya mitos itu bagimu, wahai sungai Way Umpu?
Apa artinya hak asasi, jika
ladang-ladang pribumi, dirampas tentara tanpa ganti rugi sewajarnya? Apa
artinya peradaban, bila masyarakat asli, telah dikebiri semua hak-hak adatnya?
Apa artinya kemakmuran, bila muli-muli terpaksa jadi buruh pabrik di Jawa?              Apa artinya keadilan, jika
mekhanai tertangkap merampok di kota?      
Apa artinya hidup sebagai manusia Indonesia?
–  Apa
artinya kemerdekaan bagimu, wahai sungai Way Umpu?
”Leluhur kami memang perampas,
kami tumpas penduduk asli, kami papas setiap kepala, kami alirkan darahnya, hingga ke hulu muara,
demikian warahan para tua-tua,” lanjut Azwari.
”Tapi itu dulu,” kataku.
”Ya. Dan sekarang kami menerima balasannya. Tapi…”
”Tapi apa?”
”Beberapa waktu lalu, di awal reformasi, selepas
tanggal 27 Juli, kami temukan enam bangkai mengapung di bawah jembatan Way
Umpu. Wajah mereka hancur dimakan ikan. Tubuh mereka penuh bekas siksaan. Orang bilang itu mayat aktivis dari Jakarta, mereka
dibunuh setelah diculik oleh tentara.”
Begitulah, sambil mengepulkan asap rokok Djambu, kami
kembali menyusuri sejarah pahit penindasan,
melintasi riwayat hitam kemanusiaan,
mengarungi riam-riam waktu, di sini, di sungai Way Umpu.

 

 

 

 

Hutan
Yang Munafik

Hutan-hutan
itu munafik!
Ribuan hektar hanya terdiam, jadi saksi hitam sejarah
kebohongan. Tanah-tanah perladangan kami
telah dirampas, dijadikan arena bermain binatang buas. Para pemimpin kami kini
juga tak jauh beda, kian hari kian jadi buas:
pohon-pohon pelindung rakus mereka tebangi, lantas mereka tuding kami
jadi biang keladi.
Hutan-hutan
itu munafik!
Ribuan hektar hanya terdiam, saat kami dipaksa pergi, dari
rumah dan ladang kami. “Kalian perambah
hutan!” gerutu para pemimpin kami. Lalu orang-orang berseragam hijau itu —
dengan kuda, gajah dan senjata — datang
menginjak-injak ladang kami, menginjak-injak rumah kami. Dengan wajah
garang, mereka paksa kami menebangi pohon-pohon kopi, menebangi sisa-sisa harapan istri: ya Tuhan, alangkah pedih
rasa hati, bagai menikam anak sendiri.
Hutan-hutan
itu munafik!
Ribuan hektar hanya terdiam, ketika orang-orang pintar
dari kota memetiki buah-buah kopi di
bekas ladang kami, menebangi pohon-pohon tenam
dan cendana, menembaki hewan-hewan tak berdosa, lantas dengan angkuhnya mereka pun berkata: “Ini semua demi
kemajuan ekonomi, maka jangan ada protes lagi, mengerti!” Selanjutnya,
mereka jejali kami dengan berbagai penyuluhan: tentang kerusakan ekologi,
tentang perlunya hutan yang lestari, serta tak lupa satu pesan, “Jangan
merambah hutan lagi!”
Hutan-hutan
itu munafik!
Karena kami, para petani yang makin terjajah di tanahnya
sendiri, tak punya hak untuk ikut
memiliki.
Narasi Cicih
Cicih,
gadis kecil Pasundan, anak transmigran, tepat pukul 5 subuh bergegas mandi.
Selanjutnya, tak ada sarapan pagi. Hanya air putih diteguk langsung dari kendi.
Jam
7 pagi, Cicih harus sampai di sekolah. Kalau tidak, Pak Guru pasti marah –
(mungkin begitu) celoteh Cicih dalam hati.
Dua
buku tulis bersampul lusuh, sepasang pinsil dan penggaris kayu yang kumuh, rapi
ia masukkan ke dalam tas jerami – hadiah bapaknya kemarin pagi. Kini ia naik
kelas tiga, SD Teladan nama sekolahnya.
“Cicih
pergi sekolah, Pak,” pamitnya.
Sekilas sang bapak tampak menoleh dan menggangguk pelan.
Lantas, wajahnya
tertunduk merabuk kepedihan, sepertinya ada yang coba ia sembunyikan, tapi tak
sanggup ia katakan.
Dengan
bertelanjang kaki, Cicih berangkat ke
sekolah. Ayam jantan berkokok nyaring, mentari di ufuk bersinar menyingsing.
Sepanjang jalan di tepi hutan, Cicih riang menghapal perkalian.
2
Km jaraknya dari rumah, tapi Cicih seolah tak pernah menyerah. Sepasang kutilang riang berkicau di dahan nangka,
bajing berloncatan pada pelepah kelapa, tetes embun mendekap
tangkai-tangkai kopi robusta. “Selamat pagi, semua!” teriak Cicih gembira.
Selanjutnya, kembali Cicih menghapal pelajaran bahasa, juga ayat-ayat suci
pendidikan agama.
2
Km jaraknya dari rumah, tapi Cicih seolah tak pernah menyerah. Keringat bercucuran di keningnya. Baju putihnya
yang masai dan bergetah, basah dibelai gerimis yang ramah.
Akhirnya,
Cicih pun tiba di sekolah. Tapi….
Tak
ada teman-temannya. Tak ada Pak Guru. Dan tak ada sekolah.      Ia hanya melihat puing-puing, hangus
kursi dan meja belajar. Lalu, terbata
ia mengeja tulisan
di pintu pagar: Bapak kepala sekolah cuma bisa korupsi!  Sekarang, rasakan pembalasan kami! Hidup
reformasi!
Narasi Muli Kecil
Muli
kecil, berlari kecil, menyongsong Buya pulang melaut.
Tak ada dendang atau tawa, tak ada salut atau upacara.
Hanya
nelayan-nelayan kumuh
menyeret perahunya yang rapuh; menanting ikan kembung, tanjan dan layur;
menarik jaringnya yang lusuh; selalu begitu sejalan umur.
“Banyak
hasil tangkapan, Buya?” tanya Muli kecil, sejuk buih-buih serasa embun membelai jemari kakinya yang
putih.
“Yah, sama seperti kemarin juga,” jawab Buya, dingin pasir
pantai serasa jarum merajam sukmanya yang
lunglai.
Ahoi,
mereka bukan pelaut-pelaut perkasa, mereka hanya nelayan yang letih di ujung
barat gerbang Sumatera, mereka hampir tak pernah mengarungi luas samudra, mereka – mungkin? – tak lagi ingat sejarah bahari
kejayaan moyangnya. Hanya ombak yang resah, dayung patah, harapan lelah,
terumbu yang hancur, dan seikat bom untuk meledakkan masa depan yang baur.
“Tuan
Sutan menagih hutang di rumah,” kata Muli kecil.
Buya mengertapkan gerahamnya. Angin menampar bibir
dermaga. Langit menghanguskan kening
cuaca.
“Demam
Bunda bertambah parah,” lanjut Muli kecil.
Tak
ada sahutan. Buya melangkah cepat. Muli kecil paham gelagat,      ia pun berjalan lambat, namun sekilas
sempat ia melihat: Buya bergegas menyelinap ke kedai tua.
Dihempas
tangis abrasi, ikan pun makin sulit dicari, dalam mabuk anggur murahan, dalam frustasi dan kebosanan, nelayan-nelayan pribumi:
meledakkan semua kemiskinan di meja judi.
Muli kecil, melangkah kecil,
merintih kecil: “Tak ada beras di rumah, tak ada bayaran sekolah.” Tak ada airmata. Tak ada
doa.
Hanya
subuh menangiskan azan di surau desa.

Kisah-Kisah
dari Halaman Rumah

In Memoriam Ayahanda
1997
Di
sini, di halaman rumah kami, ada jalan setapak berbatu, rimbun pohon kenanga,
rumpun perdu, dan buah mangga. Jelai-jelai bayam gugur ditiup angin, tumbuh jadi kecambah, jadi batang berdaun cerah, siap
disayur dengan santan: ya, di sini, aku
belajar melihat siklus kelahiran, kehidupan dan kematian, aku belajar
melihat kemurnian.
Di sini, di halaman rumah kami, aku menyaksikan makna
keindahan: begitu sederhana, begitu menakjubkan.
1998
Di
sini, di halaman rumah kami, aku takjub melihat matahari merah terbakar di
kening senja. Seluruh derita dan kepedihan bagiku kian terasa sederhana. Sepasang burung dara yang kupelihara,
terbang tak pernah jauh dari sarangnya: pada mereka aku belajar
kesetiaan dan cinta.
Di
ujung halaman sebelah selatan, tumbuh rimbun berumpun talas, umbinya segar,
gemuk dan menggiurkan. Ibuku sering merebusnya jadi panganan: pada mereka aku
belajar tawadhu dan keikhlasan.
O,
kehidupan, alangkah indahnya tarian sepoi daun-daun ketela, bergoyang riang dihembus angin-angin senja: pada
mereka aku belajar bagaimana berdoa, tanpa pikiran dan kata-kata.
1999
Di sini, di sudut belakang halaman rumah kami, kulihat
bapak: setia
mencangkul tanah, menyiangi pohon-pohon jarak, membersihkan kandang
ayam, atau tersenyum melihat kesuburan daun-daun bayam.
”Kita
harus kembali belajar mencintai alam,” kata
bapak, sambil tersenyum menyeka tetesan keringat di keningnya.
Tak
ada beban di matanya. Tak ada lawan-lawan politik yang akan dijatuhkannya. Tak jabatan yang musti ia
pertahankan. Ia telah belajar dari tanah, dari lumpur dan embun pagi: ia
telah belajar bagaimana cara mengendalikan diri, bagaimana hidup dengan nurani
”Alam
tak pernah berdusta,” katanya, sambil kembali mencangkul teras-teras siring pohon panili. Besok pagi, bapak
akan pensiun dari pegawai negeri, dari sikut-menyikut ladang korupsi.
Dan hidup bahagia sebagai petani.
2003
Di sini, ya, di halaman rumah kami yang tak seberapa
luasnya,       aku mulai
mencintai guguran daun-daun lamtara, semak-semak mimosa, juga sepasang pipit
yang berkicau di ranting pohon mangga.
Di sini, ya, di halaman rumah kami yang tak seberapa luasnya,       aku
kembali belajar menitikkan air mata.

Glosarium Bahasa Daerah Lampung
Muli = gadis
Mekhanai = pemuda
Warahan = puisi lisan masyarakat etnis Lampung


Loading...