Beranda Seni Sastra Tujuh Perempuan Penyair Lampung akan Luncurkan Antologi Puisi “Tujuh Carik Perca”

Tujuh Perempuan Penyair Lampung akan Luncurkan Antologi Puisi “Tujuh Carik Perca”

82
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Tujuh perempuan penyair Lampung akan meluncurkan kumpulan puisi bertajuk Tujuh Carik Perca, di Kafe Woodstairs Bandarlampung Rabu, 6 September 2017, pukul 19.00 WIB.

Tujuh Carik Perca memuat puisi-puisi mini karya Fitri Yani, Hamidah, Iin Muthmainah, Inggit Putria Marga, Liza Mutiara, Nersalya Renata, dan Ruth Marini. Puisi-puisi mereka merupakan hasil eksplorasi sejumlah persoalan, mulai dari masalah sosial, spiritual, sampai kegelisahan lain khas perempuan.

Iswadi Pratama, penyair dan sutradara Teater Satu Lampung menyambut baik kehadiran buku ini.

“Keringkasan dalam puisi bukanlah sekadar mengurangi atau menghilangkan kata dan baris, melainkan bagaimana membuat sebuah momen yang sebentar memuai dan berpendar ke berbagai arah, sebaliknya menjadikan yang kompleks dan berlapis seolah terserap dalam satu tarikan napas belaka,” kata Iswadi.

Menurut Iswadi, tujuh penyair dalam kumpulan puisi ini telah berusaha untuk menghadirkan apa yang ringkas itu: sebentuk puisi, juga sebuah momen.

“Kita kadang-kadang dibuat tertegun saat membacanya; sebab dibutuhkan sedemikian banyak waktu dan tempat dalam benak juga hati kita untuk menyimpan dan menyusun kembali keringkasan dalam puisi-puisi mereka yang tak berperi ini,” katanya.

Sementara Ari Pahala Hutabarat, penyair dan sutradara Komunitas Berkat Yakin (Kober), dalam pengantarnya mengatakan bahwa puisi-puisi dalam buku ini dimaksudkan dimaksudkan sebagai oposisi, yang ingin berhadapan langsung dengan kata sifat-kata sifat yang terlampau ceriwis dan subjek lirik yang terlampau jumawa karena merasa bisa mengatu “dunia”, baik melalui pemikiran maupun perasaannya.

Puisi-puisi mini berusaha menghadirkan yang spasial ketimbang temporal. Pada ruang spasial “benda-benda dan hal-hal” hadir, serentak, mengajak kita untuk melihat dan mengalami secara langsung, tidak melalui yang konseptual, tetapi melalui yang perseptual, ranah di mana pikiran, emosi, dan tubuh wajib mengalami bersama-sama.

Pada ruang spasial, intelek, dan emosi bertemu pada satu imaji atau satu imaji bisa secara serentak menghadirkan intelek dan emosi. Maka, pensejajaran dua imaji dimungkinkan, jukstaposisi, sehingga relasi dua benda atau dua hal atau dua situasi yang berbeda situasi, tapi berbeda pada ruang yang sama, akan memantik munculnya pemaknaan baru, yang meski tak memiliki relasi dengan dua rujukan asalnya, tapi akan bertemu di struktur dalam-nya, di level maknanya.

“Maka marilah tenggelam dan berenang bersama, membaca (dan karena itu melihat), lalu mengalami dan menghayati gerak benda-benda dan hal-hal, yang terhampar, kemudian dipadatkan ke dalam dunia mini sebuah puisi,” kata Ari.

Momen ini terasa spesial, selain melibatkan sejumlah penyair yang namanya tidak asing bagi kita, kehadiran buku semacam ini dapat dikatakan untuk kali pertama di Lampung. Acara peluncuran buku ini sendiri akan dikemas dalam diskusi santai namun serius. Ari Pahala Hutabarat, penyair sekaligus sutradara teater, selaku pembahas.