Tunanetra dan Lentera

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pagi buta alat komunikasi setia berbunyi, ternyata berita dari teman lama yang lebih dari empat puluh tahun belum suwa muka; hanya lewat piranti ini kami bertatap. Ternyata isi berita meminta pendapat akan adanya gambar karikatur seorang tunanetra membawa lentera. Saya sedikit terkesima, karena makna hakiki dari karikatur itu dalam sekali; tidak dapat dijelaskan dengan ucap lidah dan gerak tangan saja; akan tetapi memerlukan penghayatan rasa yang cukup dalam.

Secara fisik lentera tidak ada manfaatnya bagi tunanetra, tetapi juga bagi yang tidak tunanetra Lentera pun tak ada manfaatnya jika dinyalakan siang hari. Lalu di mana persoalan lentera dan tunanetra ? Ternyata itu adalah kiasan bagi mereka yang memahami bahasa lambang. Karena bahasa sendiri adalah lambang bunyi, maka pemaknaannyapun tidak bisa gegabah. Sementara lambang gambar melihatnya harus dalam dimensi dimana gambar itu diletakkan sebagai konteks.

Lentera adalah sesuatu yang menerangi; oleh karena itu penerangan sangat diperlukan oleh manusia baik dalam pengertian konkret maupun abstrak. Pengertian konkret tidak usah kita risaukan, karena sejauh Perusahaan Listrik Negara (PLM) masih ada, hal itu bukan masalah; hanya bagaimana pengelolaannya saja. Namun menjadi berbeda masalahnya jika dimaknai sebagai sesuatu yang abstrak.

Pertanyaan itu menjadi berputar dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara Ontologi pendefinisian ulang tentang terang secara abstrak salah satu diantaranya bisa merujuk pada terannya “hati” dalam pengertian “rasa”; sedangkan secara epistemologi bertujuan untuk mendapatkan “laku hidup” yang benar, dan secara aksologi, gunanya untuk mencapai kesempurnaan kehidupan akhir kelak.

Rangkaian proses kehidupan seperti itu ternyata Lentera melambangkan kehidupan ini harus memiliki suluh; dengan kata lain lentera adalah lambang Suluh Kehidupan untuk menerangi perjalanan manusia menuju Sang Khalik. Lalu pertanyaannya: apa suluhnya itu ? Suluhnya adalah agama, sebagai tuntunan yang dihadirkan kepada manusia melalui utusan-NYA berupa kalimat kalimat suci, aturan aturan suci yang harus dijadikan pedoman menuju kesempurnaan.

Jika kita bumikan kalimat kalimat langit itu; maka maknanya ialah; pengingkaran terhadap agama bagi pemeluknya merupakan perbuatan yang dholim pada diri sendiri; karena menjadikan ketidaksamaan antara casing dan identitas. Oleh karena itu, jika ada paham atau aliran yang anti agama akan otomatis terlihat di dalam masyarakat, karena “ayak sosial” akan bekerja secara otomatis memisahkan mereka dari pergaulan kehidupan.

Pertanyaan manusiawi berikutnya adalah mengapa justru mereka yang secara kasat mata sudah memiliki lentera cukup, casing mendukung, memiliki posisi sosial yang baik, bahkan dari strata sosial yang tidak rendah; namun perjalanannya masih tersesat. Inilah golongan orang yang tersesat di jalan yang terang. Karena penerangan yang ada di dalam kalbu tidak berfungsi dengan baik. Benarlah adanya peringatan suci yang mengatakan “ ada segumpal bagian dalam diri manusia, jika gumpalan itu baik, maka baiklah manusia itu dan sebaliknya jika dia jahat maka jahatlah manusia itu, dan gumpalan itu adalah hati”. Konsep hati di sini bukan fisik semata namun lebih kepada sesuatu yang abstrak.

Melalui kerangka berpikir di atas, maka tidak heran jika label identitas agama tertinggi pun tidak mampu membendung laku seseorang jika gumpalan hati sudah tertutupi, sehingga dana masjid dikorupsi, bantuan sosial untuk masyarakat di sikat. Oleh karena itu, tidak salah jika posisi ini dimaknai sebagai “melihat tetapi buta”.

Keserakahan personal seperti ini membuktikan bahwa ketertutupan hati tidak berkorelasi dengan tingkat pendidikan, status sosial, ningrat atau jelata; semua memiliki peluang sama untuk ditutupnya atau tertutupnya pintu hati. Peluang ini sama besarnya dengan dibuka atau terbukanya pintu hati oleh Sang Pemilik Hidup. Jaminan ini jelas tercantum dalam kitab suci yang tidak mungkin lagi diragukan untuk diimanni bagi pemeluknya.

Kita semua masih memerlukan Lentera untuk menapaki kehidupan, guna menemukenali persoalan persoalan keduniawian, agar tidak salah dalam memilih, memilah, kemudian menentukan segala sesuatunya, karena konsekwensi akhir kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik.

Benar adanya orang bijak mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dan isinya ini cukup untuk menghidupi semua makhluk yang ada di dalamnya; seberapapun banyaknya, akan tetapi selalu kurang untuk sedikit orang yang serakah. Dan jika adagium ini diteruskan meminjam istilah dalamg wayang golek terkenal pada zamannya, Abah Asep Sunandar Sunarya. Menurutnya,  bencana alam itu masih kecil dan mudah penyelesaiannya, asal ada dananya; sementara bencana akhlak, sekalipun ada dananya, justru dananya itupun dikorupsi. Begitulah kedahsyatan bencana akhlak itu yang bisa merusak secara destruktif dari apa saja yang ada di dunia ini.

Kehidupan yang makin kering dari akal budi; ternyata mempercepat orang menuju kepada kehancurannya, ditambah lagi laku keagamaan dipahamkan sebagai kegiatan ritual tanpa makna; sehingga casing Nokia berisi Xiaomi.***

 

  • Bagikan