Beranda Views Inspirasi Udo Z. Karzi, “Pemberontak” dari Lampung

Udo Z. Karzi, “Pemberontak” dari Lampung

273
BERBAGI
Zulkarnain Zubairi alias Udo Z Karzi alias Mamak Kenut (Foto: Istimewa)

BANDARLAMPUNG–Para tetua adat Lampung tersentak ketika mendengar Udo Z. Karzi, seorang sastrawan Lampung, menerima anugerah Sastra Rancage, akhir Desember 2008 lalu. Mereka heran karena ada lembaga dari daerah lain yang memberikan penghargaan begitu tinggi kepada penulis sastra Lampung. Padahal, selama ini sastra dan bahasa Lampung sendiri dinilai banyak kalangan tidak berkembang, bahkan terancam punah.

Udo Z. Karzi adalah nama pena Zulkarnain Zubairi, 43, seorang jurnalis yang juga seorang sastrawan. Sejak 1999 lalu, pria kelahiran Liwa, Lampung Barat, ini mencoba melawan arus dengan menulis puisi-puisi berbahasa Lampung. Salah satu buku karyanya, Mak Dawah Mak  Dibingi (Tak Siang Tak Malam), mendapatlan penghargaan Sastra Rancage 2008 dari Yayasan Kebudayaan Rancage yang dimotori sastrawan Ajip Rosidi.

Mengumpulkan puisi-puisinya dalam buku Momentum pada 2002, Udo Z. Karzi langsung dimarahi banyak tetua adat Lampung. Karzi dianggap merusak bahasa Lampung karena memakai bahasa Lampung kelas pasar (bukan kelas tinggi). Menurut para tetua adat Lampung, puisi-puisi Lampung sudah memiliki rumus persajakan yang baku sehingga tidak boleh dilanggar. Kedua, Udo  tidak mencantumkan nilai-nilai filosofis budaya Lampung yang selama ini dianggap “keramat” oleh para tetua adat. Bahkan, dalam beberapa puisinya Udo Z. Karzi bersikap kritis terhadap tradisi Lampung.

Udo Z. Karzi mengaku ia memang melakukan pemberontakan terhadap adat Lampung karena belenggu adat selama ini menyebabkan sastra berbahasa Lampung selama ini sulit berkembang.  “Meskipun dimaki-maki dan dimarahi banyak orang, saya cuek saja,” ujar pengarang yang sudah menamatkan membaca novel Sebatang Kara karya Hector Melot ketika masih kelas 3 sekolah dasar ini.

Karzi mengaku penghargaan Rancage membuatnya gembira sekaligus tegang. “Saya tegang mengingat buku Mak Dawah Mak Dibingi (diterbitkan BE Press, Bandarlampung, Desember 2007) itu sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung—sastrawan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai media kreativitasnya—harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung,” ujar mantan aktivis pers kampus ini.

Menurut Udo Z. Karzi Hadiah Sastra Rancage yang didapatkannya seharusnya juga memacu para seniman tradisi Lampung yang selama terlalu asyik dengan kelisanan mereka. “Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya ‘kepercayaan diri’ penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, berdaya, modern, dan menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali,” ujar pemenang Lomba Cipta Puisi Narasi Wisata-Budaya Lampung 1999 itu.

Udo mengaku semula dia sudah kapok mencoba menerbitkan puisi berbahasa Lampung karena selalu ditolak penerbit. Alasan penerbit, katanya, orang Lampung tidak kenal model puisi yang ditulis Udo Z. Karzi.

“Itu mengherankan saya. Kalau puisi-puisi berbahasa Jawa, Sunda, dan Bali bisa diterbitkan, kenapa puisi-puisi berbahasa Lampung tidak bisa? Untunglah akhirnya saya bertemu dengan ‘orang-orang gila’ yang mau menerbitkan puisi-puisi saya,” kata dia.

Menurut Udo mengembangkan sastra Lampung sangat sulit karena sebagian besar generasi muda Lampung tidak bisa berbahasa Lampung. “Generasi muda bersuku Lampung sendiri banyak yang sudah tidak berbahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung,” ujarnya

Yang terjadi kemudian, kata Karzi, orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. “Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-musyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku. Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur,” kata dia.

Kendala utama dalam menulis karya sastra berbahasa Lampung, kata Udo,  adalah tidak adanya media sosialisasi seperti koran atau majalah. “Berbeda dengan Jawa, Sunda, dan Bali yang memang ada media massa yang memuat karya-karya sastra berbahasa daerah. Penutur bahasa Lampung yang tinggal 15 persen dari total 7 juta penduduk Lampung menjadi masalah utama pengembangan bahasa dan sastra Lampung,” ujar pemilik blog yang semua isinya memakai bahasa Lampung ini.

Soal blog (www.udozkarzi.blogspot.com), Udo Z. Karzi mengaku media di duni maya itu sebagai tempat menumpahkan isi hati sekaligus menjadi media berlatih menulis dalam bahasa Lampung.

“Kalaupun bahasa Lampung benar-benar punah, setidaknya tulisan-tulisan di blog itu bisa menjadi semacam teks berbahasa Lampung yang tersisa di dunia maya,” ujar pengagum sastrawan Mansur Samin dan Mochtar Lubis ini.

Menurut Udo Z. Karzi, setelah Hadiah Sastera Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, maka setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali , dan Lampung.

“Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal satu buku satu tahun. Tidak boleh putus. Ini serius.
Ini kabar gembira untuk sastra dan sastrawan Lampung sekaligus tantangan yang tidak mudah. Soalnya menerbitkan buku sastra Lampung  jelas tak untung,” ujar ayah bagi seorang putra ini.

(Oyos Saroso H.N./LampungReview)

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaTisnanta, Belajar dan Maju Bersama Mahasiswa
Artikel berikutnyaNikmatnya Bisnis “Air Suteng”
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya