Beranda Seni Esai Iman Jurnalis

Iman Jurnalis

332
BERBAGI
Udo Z. Karzi

Oleh Udo Z. Karzi

Mengapa menjadi jurnalis? Kalau jawabannya masih berkutat pada hal-hal yang berbau materialistik seperti tidak ada pekerjaan lain, terpaksa karena tidak pilihan lain, agar mempunyai penghasilan lain, dan lain-lain; maka sulit diharapkan yang bersangkutan untuk menjadi jurnalis yang idealis dan profesional. Padahal, idealisme dan profesionalisme menjadi kata kunci yang harus senantiasa dipegang seorang jurnalis dalam menjalankan kerja-kerja jurnalisme.

Idealisme dan profesionalisme jurnalis ini penting untuk menegakkan harkat dan martabat pers (berikut pekerja pers di dalamnya yang disebut jurnalis/wartawan). Ini memang tidak mudah karena harus diakui masih banyak yang memandang sinis terhadap profesi jurnalis. Kondisi ini terjadi akibat perilaku menyimpang dari sebagian wartawan. Terungkap misalnya, ada cerita tentang bagaimana wartawan menyalahgunakan profesinya: memeras, mengancam, membuat berita bohong, dan berbagai bentuk delik pers lain yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang bersangkutan.

Profesi Mulia

Menjadi jurnalis harusnya menjadi pilihan sadar bagi siapa saja yang bergelut dalam dunia jurnalisme. Karena ia merupakan pilihan sadar, maka selain mengetahui kelebihan, keuntungan, dan peluang menjadi jurnalis, jurnalis juga harus paham tentang konsekuensi, tantangan, dan hamabatan yang bakal dihadapi jurnalis.
Ada banyak kelebihan, keuntungan, dan peluang bagi seorang jurnalis bagi pengembangan kebebasan, demokrasi, pembelaan terhadap masyarakat kecil, dan peningkatan kemanusiaan sesuai dengan fungsi pers (sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan sebagai lembaga ekonomi.

Sebaliknya, karena jurnalis merupakan profesi yang mulia, bisa memberikan wawasan terhadap masyarakat, membongkar fakta, dan mengupayakan kebenaran; maka sesungguhnya profesi ini berat dan penuh resiko. Korupsi yang masih menggejala, birokrasi yang belibet, dan premanisme yang masih subur menjadi rintangan tidak kecil bagi terwujudnya kemerdekaan pers.

Tantangan Modal dan Teknologi

Dua di antara sekian banyak aral bagi penegakan idealisme dan profesional itu adalah modal dan teknologi. Pertama, soal modal. Harus diakui berbeda dengan periode awal keberadaan pers di negeri yang masih mengemban misi perjuangan mencapai Indonesia merdeka, saat ini pers kita telah masuk dalam era pers industri. Konglomerasi pers tidak terhindari.

Kondisi ini sedikit-banyak mengganggu idealisme dan profesionalisme jurnalis manakala dihadapkan pada kepentingan bisnis dan politik pemilik media. Saat orasi ketika menerima Medali Emas Kemerdekaan di Manado, 9 Februari 2013, B.J. Habibie menyayangkan dunia pers belum benar-benar terbebas dari pihak-pihak atau golongan tertentu yang memiliki kekuatan politik dan memiliki modal besar. “Jika di zaman Orde Baru kebebasan pers dikekang oleh penguasa, di saat sekarang pers dikekang oleh kepentingan politik dan kapitalis. Kondisi ini akan membuat hak masyarakat memperoleh informasi yang berimbang dan akurat terlupakan,” kata Habibie.

Kedua, perkembangan teknologi informasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi dunia jurnalis. Sejalan dengan kemajuan teknologi, wartawan juga dituntut untuk secara terus-menerus menambah wawasan dan keterampilan jurnalisme. Kalau tidak, sang jurnalis sulit untuk menjalankan profesinya karena memiliki keterbatasan kompetensi.

Kesejahteraan Wartawan

Sejatinya, idealisme dan profesionalisme jurnalis itu akan diikuti oleh tingkat kesejahteraan dari jurnalis yang bersangkutan. Tapi faktanya, seperti yang diungkap dalam survei upah layak di 16 kota besar yang dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada akhir Desember 2010 sampai Januari 2011, jurnalis diupah rendah itu masih sangat banyak, bahkan ini terjadi di kota besar, seperti Medan, Bandar Lampung, dan Kupang.

Pada akhirnya, untuk mewujudkan idealisme dan profesionalisme ini di tengah berbagai kendala, mulai gaji yang tidak memadai, godaan amplop, kekerasan terhadap jurnalis, hingga kepentingan politik dan kapitalis; jurnalis harus memiliki “iman jurnalis”. “Iman jurnalis” ini tentu sangat erat kaitannya dengan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan sang jurnalis. Dengan begitu, ia tidak mudah tergoda untuk melacurkan profesi jurnalisnya. n

* Bekerja di Lampung Post. Esai ini ditulis sebagai syarat ikut Uji Kompotensi Jurnalis (UJK) AJI Bandar Lampung, Februari 2014

Loading...