Beranda Views Opini Ujian Nasional Selalu Bocor

Ujian Nasional Selalu Bocor

259
BERBAGI

Slamet Samsoerizal*

Ujian Nasional (UN) rembes atau bocor? Pertanyaan tersebut selalu saya lontarkan ketika diundang dalam diskusi Bedah Standar Kompetensi Lulusan (SKL) mulai dari Belitung hingga Lampung. Biasanya para peserta diskusi baik yang berasal dari guru,kepala sekolah maupun pengawas agak terhenyak mendengar lontaran itu.

SKL atau yang dikenal dengan kisi-kisi dapat dimaknai sebagai cakupan soal yang akan diujikan pada ujian nasional pada jenjang SMP/Tsanawiyah, SMA/Aliyah, dan SMK. Dalam SKL diterakan Kompetensi dan Indikator soal yang diujikan.  SKL ini diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, enam bulan sebelum pelaksanaan UN. Secara terbuka, SKL diunggah melalui situs http://www kemdikbud.go.id dan disosialisasikan kepada khalayak.  Semua jenjang sekolah pun mendapat dalam bentuk cetak.

Pembocoran UN

Pembocoran UN melaui SKL sebenarnya bermakna, bahwa UN yang diniatkan untuk memetakan kompetensi antarwilayah, memiliki tujuan sebagai pedoman bagi negara untuk mengukur ketercapaian kompetensi pada tiap jenjang. Dengan demikian, SKL pun bisa dijadikan sebagai akuntabilitas publik.

Dari sisi ini, adakah yang perlu dicemaskan bagi peserta didik? Bahkan, saya pun pada tiap forum diskusi tersebut sering berkelakar “betapa naifnya, jika siswa kita ada yang stress bahkan tidak lulus dan mendapat nilai rendah pula.” Mengapa?

Pertama, karena semua materi pelajaran yang di-UN-kan telah jelas, ditegaskan pada SKL. Kedua, tersedia puluhan judul buku yang membahas persiapan UN dari berbagai penerbit.  Ketiga, sekolah menyiapkan pendalaman materi. Keempat, para orang tua menambah jam belajar anaknya tidak hanya mengundang guru ke rumah, tetapi mengikutkannya ke Bimbel pascapulang sekolah.

Kelima, kegiatan dari Dinas Pendidikan dalam menyikapi SKL pun tidak kalah responsif. Melalui wadah Musyawarah Guru mata Pelajaran (MGMP) digelar acara Bedah SKL. Narasumber yang pakar di bidangnya didatangkan dalam kegiatan tersebut. Tujuannya, antara lain bagaimana SKL yang ada dianalisis dan diprediksi dalam bentuk soal UN. Namun, persoalannya tak sesahaja yang diperkirakan. Kehebohan pun terjadi, alihalih sebuah acara yang sakral, pelaksanaan UN pun diwarnai aksi itu.

Fenomena istighosah,  terjadi dimana-mana. Ini tidak salah, jika pembiasaannya dilakukan oleh sekolah sebagai wujud  kerendahatian seorang hamba tidak hanya ketika akan melaksanakan UN untuk memohon restu kepada Sang Khalik. Ketika akan memulai pembelajaran, hingga ulangan semester.

Rendahnya budaya membaca para siswa kita juga menjadi faktor lain kepanikan menghadapi UN. Tidak ada satu pun yang tidak dikeluhkan peserta didik ketika menjawab soal-soal bahasa Indonesia. Bacaan bahasa Indonesia terlalu panjang, soalnya banyak yang menjebak, jawabannya banyak yang mirip. Padahal, penulisan soal UN telah dilakukan dengan pertimbangan bahwa kecepatan membaca siswa pada jenjang SMP –misalnya- adalah 300 kata per menit. Sekaitan ini, silakan dihitung soal bahasa Indonesia yang Anda temukan.

Menulis soal pilihan ganda setara UN adalah persoalan besar bagi guru (pendidik) pada tiap jenjang. Indikator yang dapat dijadikan kriteria adalah ketika siswa melaksanakan ulangan harian di sekolah dan soalnya disusun oleh guru. Hasil tesnya dapat diprediksi bagus. Akan tetapi, ketika beranjak pada ulangan semester, nilai yang diperoleh siswa pun belum banyak yang sesuai dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal per mata pelajaran.

UN Bukan Ujian Biasa

UN ternyata bukan ujian biasa. Kesakralannya telah dirasakan terutama mereka peserta didik yang kini menduduki kelas VI SD, IX SMP, dan XII SMA/SMK. Perlakuan istimewa dikenakan kepada mereka, mulai dari persiapan diri hingga massal. Bentuknya, antara lain doa bersama pada sejumlah tempat ibadah.

UN juga bukan ujian biasa, lantaran nilai yang diperoleh dijadikan dasar bagi salah satu syarat kelulusan baik pada jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK maupun digunakan sebagai syarat diterima tidaknya siswa ke jenjang lebih tinggi, terutama sekolah negeri. Sebagaimana kita pahami, hingga kini sekolah negeri merupakan tujuan dan harapan masyarakat.

UN juga bukan ujian biasa, tampak bahwa pelaksanaan ini dikawal dari tingkat pusat hingga ke daerah. Soal yang disiapkan dengan cermat. Pencetakan dan penggandaan yang dikawal agar tidak terjadi kebocoran pada saat sebelum pelaksanaan, hingga pelibatan pengawalan aparat kepolisian. Itu sebabnya, jika UN yang disikapi penuh hingar dan masih terjadi kesemrawutan dan kebocoran  perlu kita pertanyakan.

Para siswa SMA/SMK yang mulai hari ini, Senin sampai dengan Rabu, 14 – 16 April 2014 akan melaksanakan Ujian Nasional, tidak perlu cemas karena UN hanyalah rangkaian kegiatan akhir dalam menyelesaikan program belajar pada sebuah jenjang pendidikan. Demikian pula UN SMP/MTs yang akan dilaksanakan pada 5-8 Mei 2014, dan Ujian Sekolah pada jenjang SD/MI yang akan dilaksanakan pada 19-21 Mei 2014.

* Penulis adalah peneliti pada Pusat Kaji Darindo

Loading...