Beranda News Internasional Ukraina Berlakukan Darurat Militer, Rusia Nilai Itu Provokatif

Ukraina Berlakukan Darurat Militer, Rusia Nilai Itu Provokatif

123
BERBAGI
Parlemen Ukraina menyetujui usul Presiden Poroshenko menerapkan darurat militer di kawasan-kawasan yang berbatasan langsung dengan Rusia.
Parlemen Ukraina menyetujui usul Presiden Poroshenko menerapkan darurat militer di kawasan-kawasan yang berbatasan langsung dengan Rusia. (Foto: Reuters)

TERASLAMPUNG.COM — Keputusan Ukraina memberlakukan darurat militer setelah Rusia menahan tiga kapal angkatan laut Ukraina, menjadi sorotan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Kremlin mengatakan apa yang dilakukan pemerintah Ukraina “adalah tindakan provokatif”.

Darurat militer memungkinkan Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, menegerahkan semua sumber daya untuk menghadapi ancaman dari negara lain, termasuk menerapkan wajib militer dan mengerahkan tentara cadangan.

Meski demikian, ketegangan ini tidak akan mengarah ke peperangan terbuka dalam waktu dekat, kata Duta Besar Indonesia untuk Ukraina, Yuddy Chrisnandi, saat dimintai komentar tentang ketegangan terbaru Ukraina-Rusia.

“Saya pribadi tidak melihat (konflik Ukraina-Rusia) ini akan mengarah kepada ancaman perang terbuka dalam waktu dekat,” kata Yuddy kepada BBC News Indonesia, hari Selasa (27/11).

Situasi di ibu kota Kiev dan Ukraina, sendiri secara umum, kata Dubes Yuddy, masih normal.

“Meskipun ada ketegangan, aktivitas di Kiev berjalan normal. Tadi malam saya berjalan-jalan di beberapa pusat keramaian dan berbicara dengan anggota masyarakat, mereka tidak menampakkan kekhawatiran atau kegelisahan,” kata Yuddy.

Media di negara ini, kata Yuddy, memang menunjukkan semangat nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

“Hampir semua media mengecam tindakan Rusia. Namun ini semua belum sampai megganggu kelancaran kehidupan sehari-hari di Ukraina. Keadaan darurat tidak diterapkan di seluruh wilayah dan hanya di kawasan-kawasan yang berbatasan dengan Rusia,” katanya.

Kemungkinan mobilisasi massa dan sumber daya

Yuddy menjelaskan langkah antisipatif berupa penerapan darurat militer sebenarnya hal yang lumrah dalam konteks strategi militer, yang akan ditempuh negara jika menghadapi potensi konflik terbuka.

Darurat militer mulai berlaku Rabu (28/11) untuk 30 hari ke depan dan diterapkan di kawasan-kawasan perbatasan yang mungkin akan menjadi sasaran serangan Rusia.

“Dari sisi potensi kemampuan strategis, sekiranya terjadi konflik, Ukraina memerlukan mobilisasi umum yang lebih besar,” kata Yuddy.

“Jumlah penduduk Ukraina tidak sebesar jumlah penduduk Rusia, personel militer Ukraina juga tidak sebesar Rusia, sehingga diperlukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan paling buruk,” jelas Yuddy.

Salah satu konsekuensi pemberlakukan darurat militer adalah negara, dalam hal ini presiden sebagai panglima tertinggi, diberi kewenangan untuk melakukan mobilisasi umum.

“Presiden bisa meminta rakyat Ukraina ikut wajib militer bagi yang berusia di atas 17 atau 18 tahun, ia bisa meminta mantan peserta wajib militer untuk menjadi tentara cadangan, dan meminta aset masyarakat guna dipakai untuk mempertahankan negara,” kata Yuddy yang pernah menjadi anggota Komisi I DPR ini.

Dalam kondisi darurat militer, kata Yuddy, presiden sebagai panglima militer tertinggi memang harus diberi kewenangan secara konstitusional -apabila diperlukan- menggunakan seluruh potensi yang dimiliki negara untuk menghadapi ancaman dari negara lain.

“Termasuk potensi yang dimiliki masyarakat secara perorangan, bukan hanya peralatan-peralatan milik pemerintah saja,” katanya.

“Tidak hanya tentara yang dikirim ke garis depan, masyarakat biasa juga bisa dimobilisasi, tapi belum tentu kewenangan ini akan diguankan,” tegas Yuddy.

Ketegangan terbaru Ukraina-Rusia dipicu oleh penahanan tiga kapal angkatan laut Ukraina beserta setidaknya 23 awak kapal di Laut Azov pada hari Minggu (25/11).

Rusia mengeluarkan tembakan ketika tiga kapal Ukraina ini berada di lepas pantai Krimea, kawasan yang dianeksasi oleh Rusia pada 2014. Beberapa pelaut Ukraina terluka dan pemerintah di Kiev mengatakan “Rusia telah melakukan agresi”.

Moskow mengatakan bahwa kapal-kapal angkatan laut Ukriana “memasuki wilayah perairan Rusia”.

Sejumlah negara Barat mengecam tindakan Rusia dan presiden Ukraina memperingatkan ancaman invasi darat oleh Rusia sebagai “hal yag sangat serius”.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, mengatakan penahanan kapal-kapal Ukraina adalah “eskalasi berbahaya dan merupakan pelanggaran hukum internasional”.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, saat menerima telepon dari Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan dirinya khawatir dengan langkah Ukraina menerapkan darurat militer.

Menurut Putin, Ukraina “secara sengaja mengabaikan peraturan untuk menjaga perdamaian di jalur-jalur pelayaran yang ada di dalam wilayah Rusia”.

Ini untuk pertama kalinya Ukraina dan Rusia terlibat konflik terbuka dalam beberapa tahun, meski “relawan Rusia” dan pemberontak dukung Rusia telah mengangkat senjata di wilayah Ukraina timur sejak 2014.

BBC

Loading...