Beranda Views Opini UMKM di Tengah Prahara Covid-19

UMKM di Tengah Prahara Covid-19

237
BERBAGI
Andi Desfiandi. Foto: Istimewa

Andi Desfiandi

Hanya ada dua skenario ekonomi Indonesia bahkan dunia disaat prahara pandemi covid-19 ini , yaitu skenario buruk dan sangat buruk bahkan kolaps. Sangat buruk bahkan kolaps apabila hingga akhir tahun bahkan tahun depan masih belum usai dan pergerakan manusia, barang dan jasa masih sangat terbatas atau dibatasi.

Saya secara pribadi memprediksi bahwa tidak ada satupun negara didunia mau melakukan pembatasan ekonomi dan sosial hingga akhir tahun bahkan hingga tahun depan. Sekalipun misalnya vaksin dan obatnya belum ditemukan dan juga tidak ada satupun ahli yang memastikan virus covid-19 ini tidak akan bermutasi.

Tidak ada satupun negara didunia yang sanggup bertahan dengan pembatasan ekonomi dan sosial hingga akhir tahun apalagi hingga tahun depan karena artinya ekonomi dunia akan lumpuh total dan bahkan banyak negara yang akan bangkrut.

Karakteristik krisis moneter tahun 1998 sangat berbeda dengan saat ini karena pada saat krismon hanya berdampak kepada sebagian sektor ekonomi saja dan bahkan sektor UMKM berjaya dan menjadi dewa penyelamat perekonomian nasional.

Sedangkan saat ini seluruh sektor ekonomi dan kehidupan terdampak secara merata termasuk yang berskala raksasa hingga UMKM. Begitu pula dengan Depresi Ekonomi Dunia tahun 1930 yang lalu karena saat itu baru sedikit negara yang maju dan berkembang, sebagian besar negara didunia masih masuk negara miskin.

Ukuran ekonomi saat itu juga masih jauh lebih kecil dibandingkan saat ini dimana sekarang negara di dunia sudah banyak yang menjadi negara maju dan berkembang serta jenis usaha dan industri sudah sangat jauh berkembang dibandingkan 1930. Sehingga, banyak analis mengatakan dampak enonomi akibat covid 19 akan lebih buruk dari great depression tahun 1930 dan krisis ekonomi lainnya yang pernah terjadi.

Saya mengambil kesimpulan bahwa Indonesia termasuk negara-negara lain didunia tidak akan menunggu hingga covid19 ini usai total, karena tidak ada yang mampu memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir termasuk juga kemungkinan virus tsb bermutasi. Sebab itu  akan muncul kebijakan campuran (mix policy) yang akan diambil pemerintah yaitu tetap menjalankan protokol kesehatan tapi terpaksa hidup berdampingan dengan covid19 alias berdamai dengan keadaan.

Dengan kata lain kehati-hatian akan virus tsb tetap dilakukan namun sektor ekonomi akan mulai dihidupkan kembali secara bertahap, dan tidak akan menunggu virus tsb benar2 bisa dikalahkan dengan tuntas.

Apakah langkah tersebut memilki risiko? Seperti buah simalakama, semua ada risikonya, apa pun yang akan dilakukan,  termasuk tetap melakukan pembatasan yang ketat bahkan menutup negara sekalipun dari seluruh aktivitas.

Apa pun keputusan yang akan diambil kita semua harus bersiap karena apa pun pendekatan atau kebijakan yang akan diambil baik itu campuran ataupun menunggu hingga pandemi ini usai.

Perubahan sudah pasti akan terjadi tanpa harus menunggu apa yang akan kita lakukan, perubahan tatanan ataupun peradaban akan terjadi baik untuk sebagian dari kita maupun seluruh dunia.

Manusia saat ini dan nanti setidaknya untuk sementara waktu akan menjadi lebih religius, lebih higienis, lebih suka di rumah atau bersama keluarga, lebih jarang bepergian, lebih senang berbelanja via online, lebih menyukai barang yang murah, lebih hati-hati membelanjakan uang, lebih hemat, lebih sensitif, lebih praktis, dan sebagainya.

Morgan Stanley memprediksi bahwa beberapa negara akan mengalami recovery ekonomi dengan cepat pasca covid-19 yaitu Jepang, Tiongkok, India, Filipina, dan Indonesia.

Saya setuju dengan prediksi tersebit karena negara-negara di atas memiliki kelebihan dibandingkan negara lain yaitu :
1. Jumlah penduduk yang banyak sehingga pasar domestiknya begitu luas
2. Angkatan kerja yang produktif juga melimpah.
3. Mayoritas pelaku usaha di negara-negara  tersebut adalah UMKM dan Mikro yang selama ini dikenal sebagai penyumbang perekonomian yang signifikan di negara2 tsb.
4. Sumber daya alam yang relatif melimpah dan beragam terutama di sektor pangan dan kebutuhan pokok manusia lainnya.
5. Jepang mungkin karena terbukti setelah perang dunia kedua mampu bangkit dengan cepat dan sudah terbiasa dengan bencana di negaranya.

Bagaimana kemudian peluang UMKM Indonesia yang juga mengalami pukulan yg kuat dan sudah mulai banyak yang berjatuhan, dan upaya yang dilakukan untuk bisa bertahan dan mengambil manfaat saat “rebound” pasca covid-19 nanti ?

Berikut beberapa upaya yang perlu dilakukan oleh UMKM :

1. UMKM harus mulai mempersiapkan diri untuk meningkatkan daya saing produknya termasuk kapasitas dan kapabilitas manajemen dan SDM sekaligus juga menyesuaikan “Bisnis Model”

2. UMKM harus mampu memprediksi kebutuhan manusia atau pelanggannya yang sudah mulai berubah, dimana pelanggan saat ini lebih mengutamakan kemudahan dan harga terjangkau serta kualitas yang juga baik.

3. UMKM harus mampu berdaptasi dengan perubahan dan terus melakukan inovasi produknya dan juga mampu menerapakan tehnologi yang sederhana sekalipun untuk peningkatan kualitas produk dan pelayanannya.

4. UMKM juga harus mampu melakukan kolaborasi secara holistik dengan mitra-mitra UMKM bahkan juga dengan perusahaan swasta besar dan BUMN bahkan juga dengan BUMDES.

5. Kepuasan pelanggan adalah kunci memenangkan persaingan dengan mengetahui apa yang diinginkan pelanggan dan mendeliver produk dengan cepat, tepat, harga terjangkau dan kualitas yg memadai.

6. UMKM harus meningkatkan kemampuan dalam penggunaan tehnologi informasi karena Tehnologi Informasi adalah kebutuhan agar mampu mengadopsi perkembangan ekonomi digital termasuk e-commerce.

7. UMKM harus melakukan inovasi salah satunya dengan melakukan marketing intelligence dan marketing research agar produk yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar dan produknya memiliki keunikan dibandingkan pesaing.  Sudah saatnya pelaku UMKM melakukannya karena dulu kegiatan tsb hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dan multinasional saja.

UMKM memiliki peluang lebih besar untuk lebih cepat bangkit dibandingkan perusahaan besar yang sudah tumbang, karena usaha yang dilakukan oleh perusahaan besar untuk bangkit lebih berat dibandingkan UMKM.

Sementara UMKM bisa langsung bangkit dan produknya lebih banyak dibutuhkan dan mudah diperoleh oleh pelanggan apalagi kalau pola kolaborasi dan sinergitas mampu dibangun dengan pelaku-pelaku UMKM lainnya bahkan dengan BUMN dan BUMDES.

Dengan kolaborasi maka pangsa pasar akan semakin luas, produk akan semakin beragam, kualitas akan terstandarisasi, sumber bahan baku akan semakin banyak, kecepatan dan ketepatan delivery akan lebih terjamin dan harga bisa ditekan.
Apalagi saat ini beragam kebijakan dan relaksasi diberikan pemerintah kepada UMKM seperti relaksasi pajak, relaksasi kredit, akses modal dan kebijakan-kebijakan lainnya.

Perubahan perilaku konsumsi dari konsumen harus mampu diprediksi dan diproduksi oleh UMKM, untuk itu adaptasi terhadap perubahan harus dilakukan agar mampu menawarkan produk yang benar2 dibutuhkan oleh konsumen nantinya.

Jepang, Tiongkok, Perancis, Kanada dan negara-negara yang saat ini maju juga awal kemajuannya adalah dengan mendorong sektor UMKM untuk memiliki daya saing yang tinggi.

Barangkali ini adalah momentum UMKM Indonesia untuk naik kelas dengan meningkatkan daya saingnya dan mengawal Indonesia untuk bangkit dan meraih kemenangan.

Wallahualam.

*Dr. Andi Desfiandi, MA adalaj Ketua Bidang Ekonomi DPP Pejuang Bravo Lima, Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Lembaga Perekonomian NU Lampung

Loading...