Beranda News Liputan Khusus Umrah pada Bulan Ramadan 1438 H, Puluhan Juta Jamaah Banjiri Mekah

Umrah pada Bulan Ramadan 1438 H, Puluhan Juta Jamaah Banjiri Mekah

934
BERBAGI
Jutaan jamaah umrah padati sekitar Kakbah pada untuk menjalankan ibadah umrah pada bulan Ramadan 14338 H (Foto: Gunawan Handoko)

Laporan : Gunawan Handoko

TERASLAMPUNG.COM , MEKAH — Saya sedikit terkejut ketika memasuki wilayah Mekah pada bulan Ramadan tahun ini. Hijaunya pepohonan nampak di sepanjang jalan dan juga perumahan di wilayah kota. Hal itu brbeda dengan saat saya berkunjung tujuh tahun lalu. Ketika itu yang ada hanyalah hamparan bukit berbatu. Suasana ini sedikit menghilangkan hawa panas di Kota Mekah yang mencapai 54° Celsius.

Meski Mekah sedang musim panas, namun tidak menyurutkan semangat ummat muslim dari penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah Umrah pada bulan Ramadan tahun ini.

Memasuki hari ke 15 atau pertengahan Ramadan 1438 H, Kota Mekah sudah disesaki oleh jamaah yang sebagian besar menginap di hotel berbagai kelas. Bahkan tenda-tenda darurat yang merupakan permukiman baru milik jamaah yang sebagian besar berasal dari Nigeria, telah terpasang di sekeliling luar pagar Masjidil Haram.

Meski tidak dilarang, namun pihak keamanan nampak mondar-mandir di sekitar tenda-tenda tersebut untuk mengimbau agar tidak menciptakan kekumuhan. Jamaah dilarang memasak dan menyalakan api di lokasi tersebut.

Jamaah berebut untuk mencium Hajar Aswad

Membludaknya jamaah Umrah tahun ini yang konon mencapai dia hingga tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya memang cukup mengagetkan semua pihak, khususnya para pengusaha hotel. Berbeda dengan musim haji, dimana jumlah jamaahnya sudah bisa diketahui sejak awal berdasarkan jumlah kuota masing-masing negara.

Kejadian luar biasa ini tentu menuntut penanganan superekstra, khususnya dari pihak keamanan dan layanan transportasi. Meski layanan transportasi berupa bus ini diberikan secara gratis, namun kepada para penumpang dikenakan Infaq sebesar 4 Real atau sekitar 15 ribu rupiah per orang untuk sekali naik menuju ke Masjidil Haram. Sedangkan untuk pulangnya gratis.

Membanjirnya tamu Allah ini disambut hangat oleh para pedagang, khususnya toko-toko pakaian dan supermarket. Jika biasanya mereka buka toko hanya sampai pukul 12 malam, sekarang dibuka sampai pagi hari. Toko di tutup sementara pada waktu shalat saja. Penutupan secara total dilakukan pada waktu shalat Isya’ dan Tarawih, karena para pemiliknya berbondong-bondong ke Masjidil Haram.

Bagaimana dengan suasana di Masjidil Haram? Untuk bisa melaksanakan shalat di dalam masjid, jama’ah harus sudah mangkal sekitar 2 jam sebelumnya, khususnya untuk shalat Isya’ dan Tarawih. Jika tidak, maka harus shalat di pelataran. Maka banyak diantara jama’ah yang sejak shalat Ashar tetap bertahan di dalam masjid sampai shalat Tarawih selesai.

Jamaah tidak perlu khawatir masalah berbuka puasa, karena di dalam masjid telah tersedia makanan dan minuman, sama halnya di masjid Nabawi. Hanya saja waktu berbuka sangat singkat, tidak lebih dari 10 menit. Maka banyak para jama’ah yang hanya menikmati minumannya saja, sementara makanan dan buah-buahan di kemas masuk dalam tas.

Bagi jamaah yang berada di pelataran masjid pun mendapat perlakuan yang sama. Warga Makkah setiap hari berlomba untuk bersedekah ke masjid dengan menu makanan dan minuman khas Arab.

Tawaf Sempat Dihentikan

Pada hari ke 2 dan ke 8 Ramadan, pelaksanaan tawaf yang mengelilingi Ka’bah sempat dihentikan usai shalat Subuh, mengingat jumlah jama’ah sudah penuh sesak dan nyaris tidak bergerak. Seperti biasa, banyak para jama’ah yang telah selesai melaksanakan shalat Subuh tidak langsung pulang, melainkan ikut tawaf bersama-sama dengan jama’ah lain yang sedang berumrah. Hal inilah sebagai penyebab utama penuh sesaknya Ka’bah.

Bukan itu saja, jamaah tidak cukup sekali melaksanakan Umrah, tapi berulangkali untuk bakdal Umrah bagi orang tua yang telah lanjut usia atau sudah meninggal dunia. Tidak bisa disalahkan memang, karena semua ingin meraih pahala yang berlipat dari ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadan, sekaligus untuk mengungkapkan rasa cinta kasihnya kepada orang tua atau orang yang telah berjasa menghantar dirinya meraih kehidupan yang layak.

Dalam suasana seperti ini, orang tidak lagi merasakan letihnya fisik dibawah sengatan matahari, dalam keadaan perut lapar untuk mengambil Miqot, tawaf dan dilanjutkan dengan Sa’i antara Bukit Safa dan Marwah. Malam harinya masih dilanjutkan dengan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditambah shalat Witir 3 rakaat sehingga waktu untuk beristirahat nyaris tidak ada.

Maka, benar jika ada yang menyebut bahwa ibadah Umrah di bulan Ramadan merupakan ibadah fisik sehingga perlu persiapan prima. Namun ada satu hal yang perlu di ingat, bahwa jamaah merupakan tamu-tamu Allah yang datang ke Baitullah atas panggilan-Nya. Maka Allah akan memberi perlindungan dan berbagai kemudahan kepada para tamu Agung-Nya.

Bagi muslim yang telah mendapat hidayah bisa melaksanakan ibadah Umrah di bulan Ramadan, tentu merupakan kebahagiaan tersendiri, bukan saja meraih ibadah ritual semata, namun juga harmoni yang terpancar dari setiap umat muslim, tanpa membedakan status sosial, warna kulit dan perbedaan lainnya. Karena di mata Allah semua sama.***

Loading...