Beranda News Liputan Khusus Ibadah Umrah pada Bulan Ramadan, Ada Joki untuk Mencium Hajar Aswad

Ibadah Umrah pada Bulan Ramadan, Ada Joki untuk Mencium Hajar Aswad

1178
BERBAGI
Jamaah umrah berjubel di sekitar Hajar Aswad.

Laporan : Gunawan Handoko.

TERASLAMPUNG.COM, Mekkah — Semua hamba Allah yang sedang melaksanakan ibadah haji maupun umrah selalu mendambakan untuk bisa mencium Hajar Aswad, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya setiap kali usai shalat di Masjidil Haram. Sayangnya, upaya untuk mencium Hajar Aswad ini telah dikotori oleh praktek perjokian dengan imbalan jasa yang nilainya bervariasi, tergantung situasi yang berlangsung saat itu.

Para joki tidak bekerja sendirian, melainkan berkelompok antara 3 sampai 5 orang dengan peran masing-masing, yakni menggiring pasiennya untuk bisa mencium Hajar Aswad dengan menghalangi jama’ah lain yang bukan pasiennya.

Saya jadi teringat pesan para Ustadz, agar tidak memaksakan diri untuk bisa mencium Hajar Aswad, karena hal tersebut tidak termasuk dalam rukun dan wajib Haji maupun Umrah. Mencium Hajar Aswad menurut para Ustadz hukumnya bisa Sunah, bisa Mubah dan juga bisa Haram. Sunah, karena mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Mubah, jika tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Yang terakhir bisa Haram, apabila dilakukan dengan segala cara, mengandalkan kekuatan otot, termasuk praktek perjokian tadi. Keberhasilannya mencium Hajar Aswad telah mengambil hak orang lain yang harus tereliminasi karena tidak mampu menembus pagar betis yang dibangun para joki.

Beberapa waktu lalu, usai shalat Subuh saya melakukan thawaf. Ketika posisi berada di dekat sudut Hajar Aswad, seseorang menyapa saya dengan bahasa Indonesia. Mereka mengawali dengan basa-basi bertanya asal dari mana sebelum menawarkan jasanya. Meski saya tidak memberi respons atas tawaran tersebut, mereka tetap bersemangat menjalankan rayuannya.

“Bapak siapkan saja 300 real (senilai Rp. 1.200 ribu), dijamin 15 menit bisa mencium Hajar Aswad. Nanti kami foto saat Bapak menciumnya,” ujarnya.

Saya hanya tersenyum dan bilang nggak ada uang segitu banyak. Nampaknya mereka tidak patah semangat dan menurunkan uang jasanya menjadi 250 real. Mereka baru pergi setelah saya meyakinkan untuk tidak mencium Hajar Aswad.

Nampaknya bukan hanya saya yang mendapat rayuan tersebut, bahkan ada teman yang kena sampai 350 real dengan modus berbeda. Awalnya para joki tidak menyebut nilai nominal, berapa jasa yang harus disiapkan. Teman mengira bahwa jasa yang harus diberikan ala kadar alias seikhlasnya.

Agar tidak terlalu berjuang keras dan nyaman mencium Hajar Aswad, ada joki yang siap diorder. Tentu jamaah harus menyiapkan bayaran yang nilainya tidak kecil.

Setelah selesai mencium, disodorkannya selembar uang 100 real kepada joki tersebut, tapi ditolak dengan alasan bahwa timnya berjumlah 5 orang. Saat ditambah 100 real lagi, mereka tetap menolak. Bahkan teman-teman sesama joki berkumpul. Tidak mau ribet, akhirnya teman saya memberi sebesar 350 real sambil berkata bahwa tidak ada uang lagi.

Memang tidak ada nilai standar untuk jasa para joki tersebut, semua tergantung keadaan. Pada musim Umrah Ramadan seperti ini, dimana jumlah jama’ah Umrah membludak memenuhi Masjidil Haram, maka nilai jasa menjadi tinggi. Begitu pun sebaliknya.

Melihat fenomena seperti ini, nampaknya masih perlu adanya pemahaman secara benar bahwa mencium Hajar Aswad bukan merupakan hal yang wajib dan tidak termasuk dalam rukun Haji maupun Umrah. Pada saat melaksanakan Thawaf dan melewati Hajar Aswad, para Jama’ah cukup mengucapkan kalimat ‘Bissmillahi Wallahu Akbar’, disertai lambaian tangan sembari mengecup permukaan tangan kanan.

Begitu tuntunannya, tidak lebih. Memaksakan diri dengan menghalalkan segala cara – termasuk menggunakan jasa joki – jelas suatu tindakan yang tidak benar, karena telah mengambil hak orang lain. Semoga ibadah yang kita laksanakan terhindar dari hal-hal yang tidak diridhoi Allah demi tercapainya tingkat Mabruroh, amiin.

Loading...