Beranda Views Kopi Pagi UnHaS, UPH dan Reforma PT di Chile

UnHaS, UPH dan Reforma PT di Chile

466
BERBAGI

Luky Djani

Beberapa hari belakangan di news feed atau lini masa FB muncul ‘pengumuman’ ananda dr para sahabat yang berhasil tembus di PTN hasil seleksi nasional. Hal ini tentu menggembirakan tidak hanya bagi ortu-ortu tersebut, tapi juga menandakan bahwa PTN masih menjadi idaman para orang tua.

Universitas yang dikelola pemerintah masih lebih ‘superior’ dan kredibel. Apalagi PTN papan atas baik yang gajah duduk, gajah berdiri atau Universitas Depok, eh Indonesia, diyakini akan membentang masa depan gemilang bagi jebolannya.

Saya teringat beberap tahun lalu sewaktu disambut dua spanduk di gerbang Jalan Ganesha dengan narasi “Selamat Datang Putera Puteri Terbaik Bangsa” dan di seberangnya spanduk bertuliskan “Selamat Datang Soekarno-Soekarno Muda”. Walaupun terkesan heroik, beberapa kawan justru lebih tertarik dengan stiker yang dijual di tokema (toko koperasi mahasiswa) dengan narasi simpel tapi romantis “Idaman Tjewek Bandung” alias ITB.

Kembali ke cerita hasil seleksi PTN, dominasi PTN tentu membanggakan. Bukti negara mampu mengelola pendidikan dengan standar dan kualitas baik di tengah arus pasar pendidikan. Tetapi uang kuliah PTN saat ini sangat tinggi. Biaya kuliah (di luar akomodasi, transport, uang buku dan oeralatan), saat ini semakin tinggi. Mungkin rata uang kuliah 1 semester setara dengan 3-4 kali  UMR Jakarta. Tentu sangat memberatkan bagi pekerja/buruh bahkan bagi pekerja level menengah dan ASN (mungkin tidak begitu memberatkan bagi ASN Pemprov DKI Jakarta).

Jika dibandingkan dengan biaya kuliah saya dahulu yang “cuma” 60ribu per semester tentu biaya sekarang sangat mahal. Karenanya, PTN terutama yang favorit alias idaman sejatinya hanya mempertahankan privilese kelas sosial tertentu.

Alhasil, mobilisasi vertikal melalui anak tangga pendidikan sulit terjadi. Padahal, salah satu tujuan lembaga pendidikan adalah mencerdaskan sekaligus memberi peluang bagi kehidupan yg sejahtera bagi semua anak bangsa. Tak heran jika.seorang kolega berkata PTN telah menjadi UnHaS, alias Universitas Negeri Hampir Swasta gara-gara mahalnya biaya pendidikan tinggi. Yang mencemaskan jika membuat UPH – Uang Papa Habis.

Kondisi ini yang didobrak oleh gerakan mahasiswa dan pengajar di Chile beberapa waktu lalu. Puluhan ribu orang berdemonstrasi secara bergelombang untuk menentut reforma pendidikan tinggi. Menurut para pemimpin mahasiswa, tujuan mereka adalah untuk menghapuskan pasar perguruan tinggi atau pendisikan secara umum di Chile. Juga untuk mengingatkan pemerintah bahawa pendidikan, termasuk jenjang universitas, adalah hak warga negara.

Gelombang demo tersebut akhirnya menyadarkan pemerintah akan tanggung jawab dalam menyediakan pendidikan tinggi erkualitas dan terjangkau bagi semua. Residen Bachelet seperti dikutip America Quarterly mengatakan “the program will allow Chile to “end the privilege of a university education being only for those for those able to pay.”

Pemerintah Chile menyediakan beasiswa bagi sekitar 170ribu mahasiswa miskin, menaikkan gaji pengajar, memperbaiki kualitas PT agar merata (dengan University of Chile sebagai patokan). Buah dari kebijakan ini bisa kita cermati dalam beberapa tahun mendatang.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya rasa tidak perlu demo berjilid-jilid (cukup skripsi yang berjilid-jilid), untuk menyadarkan pemerintah akan tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerataan kualitas pendidikan tinggi harus segera dilakukan agar semua PTN menjadi UI, ITB, dan UGM terutama di daerah luar Jawa. Inisiatif oemerintah ” menegerikan” beberapa PT patut diapresiasi.

Hal lain juga dengan mengenjot kualitas pengajar. Pemerintah memiliki sumberdaya seperti LPDP yang harus dikelola lebih baik lagi. Dan yang terpenting adalah meminimalisir arus pasarisasi pendidikan. Pendidikan bukan komoditi sehingga penyediaan pendidikan nafas dan semangatnya adalah untuk dekomodifikasi sehingga UnHaS dan UPH tidak menjadi momok bagi para orang tua terutama dari kelas bawah.

Saatnya cita-cita Bung Hatta melalui “PNI baru” direalisasikan!

Loading...