Beranda Ekbis Bisnis Untuk Jadi Lumbung Gula Rafinasi Nasional, Lampung Perlu Lahan 10 Ribu Hektare

Untuk Jadi Lumbung Gula Rafinasi Nasional, Lampung Perlu Lahan 10 Ribu Hektare

722
BERBAGI
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Menteri Perindustrian Saleh Husin didampingi Dirjen Industri Agro Panggah Susanto mendengarkan penjelasan Direktur Utama PT Sugar Labinta Ali Sanjaya tentang penyimpanan gula rafinasi di gudang PT Sugar Labinta disaksikan Anggota Komisi II DPR RI Frans Agung MP di Malangsari, Lampung Selatan, 27 Juni 2015. (Foto: Ist)
BANDARLAMPUNG– Menteri Perindustrian (Menperrin) Saleh Husin menegaskan, untuk menjadikan Lampung sebagai lumbung gula rafinasi nasional harus ada ketersediaan lahan setidaknya 10 ribu hektare. Menurut Menperin hal itu akan bisa diatasi jika ada peran Pemerintah Provinsi Lampung.
“Ke depan kita harus mengurangi impor bahan baku row sugar. Caranya, kita  harus mempunyai  perkebunan  rakyat paling tidak lahannya 10 ribu  hektare. Kalau Grup Sungai Budi  ( Grup BW) sementara sebagian kecilnya sudah
dibangun dan lahannya sudah berproduksi,” kata Menperin Saleh Husin, di sela-sela acara buka puasa bersama di PT Tunas Baru (grup Bumi Waras), di Bandarlampung, Sabtu (27/6/2015).
Menurut Menperin, soal lahan 10 ribu hektare untuk perkebunan tebu, hal itu tergantung
bagaimana komitmen dari Pemprov  Lampung untuk menyediakan lahan
tersebut. 
“Bagaiaman  kalau didapatkan
lahan   di Kalimantan? Ini  tidak mungkin menyediakan lahan lapangan
kerja sehingga  tercipta nilai tambah
multi efek yang ditimbulkan didaerah itu,” katanya.
Menyinggung soal Kawasan  Industri Lampung (KAIL) di Kabupaten  Tanggmus, Menperin mengatakan itu adalah alah satu industri maritim yang sudah masuk dalam peta  nasional. Bahkan, kata dia,  ke depan industri galangan kapal akan tumbuh dengan
cepat dan jumlah  kapal bertambah banyak
untuk angkutan antar pulau .
Menurut Menperin, Pemda juga
seharusnya  mengakselerasi yang paling
utama adalah infrastuktur yang merupakan
kebutuhan dan harus  diperhatikan.
Misalnya  jalan menuju ke sana (kawasan
KAIL) sangat jelek dalam hal ini kawasan  industri.   
“Bagaimana pertumbuhan
industri akan  tumbuh dan  efek akan bertambah.Itu yang harus diatasi  Dalam hal ini harus ada  komunikasi antar dinas terkait dalam hal ini
PU Bina Marga. Husein mencontohkan  jarak
tempuh kawasan. KAIL sekitar 22 Km dilewati  dalam waktu dua jam dan itu termasuk  waktu yang cukup  lama,” katanya.

Editor: Oyos Saroso HN

Loading...