Untuk Mereka yang Tergoyah

  • Bagikan
Ilustrasi koruptor (dok KPK)
Asarpin*
Badai politik hendak menggoyah siapa saja yang dianggap kokoh. Kini banyak yang menduga badai itu sedang mengarah ke gedung KPK. Satu-dua orang di lembaga itu mulai doyong,  tiga-empat orang mulai kehilangan keseimbangan, merasa difitnah, gemetar, dan jadi tukang tangkis tudingan yang piawai. Di belakang layar tertawa orang-orang lihai yang pintar mengalihkan informasi.  Di berbagai jejaring sosial bermunculan gunjingan, plesetan dan cemooh yang penuh gairah.
Saya agak sedih melihat  pertahanan KPK yang mulai lemah,  bergelimpangan, padahal dari dulu kita yakin bahwa cobaan segala cobaan akan terus mengikuti setiap keputusan yang dikeluarkan. Bukankah dalam setiap khotbah moral selalu diingatkan: semakin tinggi posisi lembaga itu, semakin kencang badai akan menerpanya?
Sungguh tak enak mengulang petuah moral-keagamaan dalam situasi dimana KPK sedang menghadapi serangan yang serius. KPK memang bukan kumpulan orang suci, tapi lebih pas sebagai ikhtiar untuk Indonesia yang bersih. Tapi segala ikhtiar yang dilakukan ternyata tak mudah. Masih banyak orang yang marah ketika diputuskan sebagai tersangka oleh KPK ketimbang melakukan introspeksi.
Butuh seratus tahun lebih bagi lembaga penegak hukum lainnya untuk menyamai greget dan semangat orang-orang KPK dalam memberantas korupsi. KPK hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh tahun untuk memberi harapan kembali bagi warga negara yang sempat terkulai lemas melihat para politikus berjamaah menggerogoti uang rakyat.
Dalam situasi politik yang jor-joran, dimana akal sehat dikesampingkan, dimana sang presiden seperti gamang menentukan sikap, dimana satu pihak merasa paling benar dan paling bersih,  dimana parlemen masih seperti paduan suara lama, saya tiba-tiba teringat secarik puisi Bertold Brecht yang diterjemahkan Sindhunata dengan sangat sederhana: “Untuk Mereka yang Tergoyah”.
Kau bilang:
Kita sedang ditimpa
malang.
Gelap makin pekat. Daya
makin tak kuat.
Sekarang, setelah sekian
lama membanting tulang,
kita malah terjerumus
dalam kesukaran,
yang lebih parah dari awal
belakangan.
Musuh berdiri di sana,
makin kokoh dari sebelumnya.
Makin bertumbuh
kekuatannya.
Makin tak terkalahkan
sangar wajahnya.
Tak usah dipungkiri, kita
telah berbuat salah.
Makin sedikit kawanan
kita,
Makin tak karuan tutur
kata kita. Musuh telah memutar
sebagian kata-kata kita
menjadi sampah.
Apa yang salah dari tutur
kata kita:
hanya beberapa saja atau
semuanya?
Pada siapa kita mesti
memperhitungkannya?
Adakah kita hanyalah yang
tersisa,
terlempar keluar dari
sungai mengalir limpah?
Akankah kita tertinggal,
tak ada lagi yang mengenal,
tak seorang pun yang akan
paham.
Mestikah kita bahagia?
Begitu kau bertanya.
Tunggu sajalah
Takkan datang jawaban lain
selain jawabanmu sendiri!
*Esais    
BACA JUGA:   Pejabat dari Negeri Para Pabbicara
  • Bagikan