Usai Pandemi Covid-19, akankah Muncul Generasi Bunga?

  • Bagikan

Eddy J. Soetopo

Andai saja tidak ‘festival bunga’ usai perang Vietnam dan berakibat kekalahan Amerika Serikat (AS) dari Vietam, tentu tak mungkin muncul gerakan rambut gondrong dan seks bebas di kota-kota besar dunia. Mereka anak muda berambut gondrong dan berpakaian eksentrik itu menamai dirinya generasi hippies. Apalagi saat itu, pemerintah AS lagi kalagkabut dipermalukan rakyatnya menentang kemauan negara berinvasi ke Vietnam. Meski rakyat dipaksa ikut berperang, mereka meradang dan menolak dikirim menjadi tentara. Itulah awal gerakan hippies melabrak dunia.

Pemerintah AS pun resah dengan pengaruh hippies terhadap generasi muda. Merek menganggapnya hippies sebagai ancaman bagi keamanan dan ketertiban negaranya. Berbagai upaya pun dilakukan, salah satunya melarang aak muda berambut gondrong. Mereka yang berambut gimbal dan gondrong, bukannya menyerah, tetapi justru menentang aturan tak masuk akal itu.

Tampaknya gerakan rambut ‘gimbal’ sekaligus awut-awutan di Amerika Serikat periode 1960-an itu juga merangsek ke negara lain. Mereka tetap ngogot menentang invasi Amerika ke Vietnam berartribut Flower Generation. Meski diprotes rakyatnya, toh pemerintah Amerika Serikat tetap ngotot melanjutkan invasi dan ternyata keok juga menghadapi  negara melarat dan militan Vietnam saat itu.

Namanya juga generasi ‘urakan’ dengan melabeli dirinya sebagai kelompok hippies, yang berjuang mendobrak kemapanan sosok penguasa munafik. Puncaknya gerakan hippies melambung namanya dan menjadi trend justru pada tahu 1967-an. Ribuan kaum hippies menjamur bak lelehan salju di jalan-jalan utama, the summer love melted of ice pada waktu di Haight Ashbry dan San Fransisco dengerin ingar-bingar musik cadas sembari ngeseks dan nyimeng daun ganja. Apalagi jelang diadakan festival akbar Woodstock di Middlefield, Connecticut, pada 1969 yang ditengarai sebagai puncak perayaan budaya kaum hippies Amerika dan dunia.

Celakanya budaya hieppies juga merangsek ke Jakarta, sejak awal Orde Baru (Orba) memberlakukan depolitisasi kampus di Jakarta, dan sekolahan diawasi ketat pasukan berbaju hijau tentara. Pemerintah Orba kawatir kalau-kalau anak muda ketularan model hieppies seperti di Amerika. Padahal sebenarnya, menurut harian Ekspres, 7 Juni 1971, anak-anak muda kampus meniru berambut gondrong lantaran sekadar sebagai mode, tidak biasa keramas pakai  sampo.

“Mereka itu ’kan generasi muda perlu dicegah tidak boleh jadi hieppies dan Makai ganja dan morfin,” kata Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Sudomo, kala itu.

Pertanyaannya kini, akankah muncul generasi bunga setelah pandemi virus Covid-19 melabrak lewat Jakarta? Mudah-mudahan tidak. Setidaknya, meski di kota-kota besar, dilabrak Covid-19 toh tak terlihat generasi bunga kleleran menghiasi kota. Meski kita semua tahu, nyaris setahun berperang mengenyahkan virus tak jua berhasil adanya.

“Jangan sampai generasi bunga larut tercebur ke dalam duka, susah menikmati hari tua. Kalau sekedar ikut merasakan ‘Livig in Harmony’ seperti dalam otobiografinya Fariz RM, tidak masalah. Biarin saja kaum hippies dan pemusik bekolaborasi ngeband dan kreatif.”

*Tulisan ini juga dimuat di Terasjateng.id

stelah konten
  • Bagikan