Beranda Kolom Sepak Pojok Usai Pilkada Serentak, Ser-Seran Masih Terasa

Usai Pilkada Serentak, Ser-Seran Masih Terasa

372
BERBAGI

Slamet Samsoerizal*

Aroma Pilkada Serentak yang pra dan pasca-pelaksanaannya hiruk pikuk, menyisakan deg-deg ser. Sebagai insan yang mengaku netral, Mas Nakurat tetap saja mengharapkan pilihannya tidak mengecewakan. Walau dia baru mengetahui dan mengamati foto paslon gub-wagub saat akan mencoblos, naluri kendesoan memerintahkan untuk menentukan pilihannya, dalam hitungan detik. Kok bisa? Refleknya sebagai jelata, memafhumkannya, bahwa memutuskan dalam waktu singkat dalam beragam kasus, jarang meleset dari perkiraan.

Paslon kepala daera-wakil kepala daerah akhirnya memenangi perhelatan Pilkada, jauh sebelum penghitungan versi quick account  diunggah lewat media massa. Bangga dan euforiakah? Tak ada dalam kamus hidupnya. Tak ada kepentingan pula. Pencoblosannya lewat TPS lebih dikarenakan kewajibannya sebagai mahluk sosial. Itu kata tetangga sebelah, lho ya.

Lumrah Alamiah

Pemenang berpesta, itu lumrah. Pengalah nesu dan mutung, ya alamiah. Itu sebabnya, tidak mengherankan, apabila walau KPU belum resmi mengumumkan hasilnya, para paslon pun sudah mengekspresikan dengan caranya. Warga, yang kini sedang keranjingan bersosialisai lewat WhatsApp pun menebar meme  satire bagi pengalah. Ledek-meledek melalui anekdot pun dikarang.

Partai pengusung paslon yang memenangi pesta demokrasi itu pun menampak dua rupa. Pertama, ada yang tiba-tiba jumawa dan mengaku-aku bahwa kemenangannya telah diduga sejak awal.  Mesin partai telah berjalan dengan cantik, katanya. Kedua, dari pihak kalah ada yang mencurigai permainan Lembaga Survei yang dicapnya sebagai tindakan takabur. Lembaga survei itu, cuma pesanan para paslon sebagai strategi penggiringan opini publik agar sosok tertentu memang layak menang.

Mas Nakurat boam, cuek! Pertandingan sepak bola yang lebih gegap pun tak diikutinya alih-alih animo masyarakat dunia yang makin gempita. Kemenangan Brasil atas Meksiko, didengarnya dari celoteh orang yang kebetulan papas di pertigaan sebuah gang desa.

“Brasil melangkah ke perempat final Piala Dunia 2018 Bro!” ujar Mas Par, lelaki bertubuh kekar itu.

“Oya?” sahut si jangkung Kang Aria.

“Itu terjadi usai Brasil bikin keok Meksiko 2-0 di Samara Arena.

“Oya?”

“Neymar memecah kebuntuan Brasil pada menit ke-51 setelah Selecao sempat dibuat frustrasi permainan tanpa kenal lelah Meksiko. Neymar pula yang menjadi kreator kedua Brasil yang dicetak Roberto Firmino pada menit ke-88.”

Pemakimu Pemujamu

Entahlah, Pilkada Serentak memang tetap seru. Ada yang bilang Pilkada adalah titik tolak Pilpres 2019, terutama bagi kekuatan parpol. Elektabilitas parpol akan lebih PD, mengingat berdasarkan hipat (hitung cepat),   ada partai yang mengungguli daripada partai lain. Padahal, sebelumnya hal itu tidak teralami. Oleh sebab itu, parpol pengusung capres – wapres, mesti mulai hipat dari sekarang dan segera menentukan nya.

Sebagaimana diketahui, Pilkada Seental  tahun 2018 lebih besar daripada Pilkada sebelumnya. Sebanyak 171 daerah berpartisipasi pada ajang pemilihan kepala daerah. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang menyelenggarakan Pilkada di 2018.

Dinamika dan perubahan bersinggungan tanpa pernah mampu dicerna logika alu-nya Mas Nakurat. Ia tak pernah mampu menalar, karena nalarnya selalu tumpul atas bawah dengan fenomena yang hampir selalu mengemuka, yakni munculnya pemaki pemuja. Bagaimana tidak?

Ia melihat dan mencatat, dulu si pemaki ini hobinya ya cuma mencaci apa pun yang dilakukan orang lain. Targetnya benderang: cuma ia yang benar, sementara yang lain selalu salah di matanya. Kelak, teori perubahan mengabadikan dengan slow motion  sang pemaki kini adalah pemuja kepada person atau lembaga yang dulu disalah-salahkan. Oh, ternyata sang pemaki pun yang nyinyir itu punya asa muluk: ingin dianggap cuitan, celoteh, hingga koar-koarnya.

Peribahasa jadul  menorehkan “tak kenal maka tak sayang.” Dilarang menilai sesuatu, kalau tak memahami sesuatu itu. Inilah yang kita tangkap. Ketika orang tidak mengenal dan belum ikut terlibat, sama sebangun dengan sikap penonton  yang ketika menonton pertandingan sepak bola selalu menggoblok-gobloki pemain. Padahal, jika ia diberi kesempatan untuk turun ke lapangan, Anda bisa meneruskan apa yang bakal terjadi.

Usai Pilkada Serentak, ser-seran masih terasa. Akankah terjadi, gub-wagub, wakot-wawakot, bup-wabup yang terpilih versi hipat atau KPU, sesuai harapan pemilih yang tulus memilih, karena ia ingin keadaan apa pun akan lebih baik daripada sebelumnya. Akankah mereka yang terpilih mengamanahi rakyat tercinta? Semoga, khayal Mas Nakurat,    tak ada dari mereka: gub-wagub, wakot-wawakot, bup-wabup dari daerah mana pun  yang usai dilantik menjadi tamu KPK. ***

_________

* Slamet Samsoerizal, esais, bekerja di Pusat Kaji Darindo