Beranda Views Jejak Van der Tuuk, Pahlawan Bahasa Lampung yang Dilupakan

Van der Tuuk, Pahlawan Bahasa Lampung yang Dilupakan

4738
BERBAGI
Van der Tuuk (wikipedia)

Oleh: M. Arman AZ*

Semua yang telah dikerjakan untuk bahasa-bahasa Nusantara
sama sekali tidak berharga dan tidak akan ada perubahan, selama orang tidak mempelajarinya untuk kepentingan bahasa-bahasa itu sendiri. Orang tidak akan berhasil di segala bidang selama melakukan pekerjaan itu tanpa cinta.(Surat H.N. van der Tuuk kepada P.J. Veth, 14 April 1867).

Sejak beberapa tahun silam, didorong kebanggaan terhadap
bahasa Lampung dan kekhawatiran sejumlah kalangan bahwa bahasa Lampung terancam punah beberapa generasi ke depan, ditempuhlah beragam strategi dan upaya untuk mendongkrak
minat dan kepedulian terhadap bahasa Lampung. Seminar, diskusi, edukasi, penerbitan, sampai regulasi pemakaian bahasa Lampung di instansi pemerintah, adalah serangkaian upaya yang telah dilakukan berbagai pihak.

Slogan jangan melupakan sejarah dan generasi muda mesti melestarikan budaya kerap kita dengar. Ini cenderung jadi retorika dan jualan semata. Kesadaran sejarah tentu berkaitan erat dengan pengetahuan sejarah. Dalam suatu seminar tentang bahasa Lampung, seorang pembicara (notabene birokrat di Lampung) jumawa menggeneralisir bahwa kaum penjajah datang ke Lampung hanya untuk menanam kopi dan mengeruk hasil bumi di Lampung.

Ironis mendengarnya, namun pernyataan itu bisa dimaklumi. Minimnya minat baca membuat masyarakat -pejabat sekali pun jadi fakir wawasan sejarah. Tidak semua orang dari bangsa penjajah meninggalkan dosa sejarah bagi bangsa ini. Banyak juga yang dengan caranya sendiri justru berjasa bagi pelestarian sejarah dan budaya.

BACA: Van der Tuuk Meneliti Bahasa Lampung, Bahasa Batak, Hingga Bahasa Bali

Bahasa adalah bagian dari peradaban dan kebudayaan. Dalam
konteks inilah yang melatarbelakangi tulisan saya. Ketika banyak pihak menabuh gendang tentang pentingnya pengembangan dan pelestarian bahasa Lampung, atau cemas membayangkan bahasa daerah (Lampung) akan punah beberapa generasi mendatang, saya lebih memilih perspektif berbeda yang bisa jadi diabaikan atau justru tidak diketahui oleh para penabuh gendang itu.

Mungkin hanya segelintir warga Lampung yang tahu tentang
orang Belanda bernama Herman Neubronner van der Tuuk. Ia orang pertama yang membuat kamus bahasa Lampung. Kamus 600 halaman itu dibuatnya ratusan tahun silam, tepatnya 1868-1869, saat ia menetap di Lampung. Kini kamus tersebut tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Kamus itu terdiri dari dua versi. Versi kedualah (revisi versi pertama) yang terdiri dari 600 halaman. Kamus itu tidak sempat dicetak atau dipublikasikan dalam bentuk buku. Selain bahasa Lampung, ia
juga orang pertama yang membuat kamus bahasa Batak dan Bali.[1]
Kemungkinan besar belum ada warga Lampung yang pernah melihat kamus itu. Meski pejabat-pejabat dari instansi pemerintah hilir mudik ke negeri kincir angin mengusung misi seni budaya, saya pesimis mereka tahu perihal kamus ini, apatah lagi berniat melihat dan membawanya sebagai oleh-oleh berharga dan bersejarah buat Lampung.
H.N. van der Tuuk tidak ikut menjajah, tapi justru meninggalkan karya besar untuk negeri ini. Ia tidak “merampas” harta budaya Lampung, tapi justu menggali dan menyelamatkannya sebelum punah ditelan zaman. Meski rang Belanda, ia membenci penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Ia bahkan menyebarkan
semangat perlawanan terhadap Belanda kepada masyarakat di tempat-tempat ia  menetap.
H.N. van der Tuuk adalah sosok legendaris yang dilupakan, termasuk oleh mereka yang berkutat di bidang linguistik. Ia ilmuwan bahasa yang mengabdikan nyaris seluruh hidupnya untuk bahasa-bahasa daerah. Ia perintis penelitian ilmiah tentang bahasa di Nusantara, termasuk Lampung. Ia wariskan dua dalil tentang peralihan konsonan dalam bahasa-bahasa Austronesia, dimana bahasa Lampung termasuk di dalam rumpun bahasa tersebut. Dalil pertama mengenai pergeseran antara bunyi /r/, /g/, dan /h/, kedua mengenai pergeseran konsonan antara /r/, /d/, dan /l/.
Ia yang pertama kali merumuskan kekerabatan bahasa Lampung dengan bahasa daerah lain di Indonesia. William Marsden juga membahas kemiripan kosakata sejumlah daerah di Indonesia[2]. Namun Van der Tuuk meneliti dan membahasnya lebih detail dan rinci.
Van der Tuuk seorang linguis (ahli bahasa) dan leksikografer (pekamus) ulung. Ia telah membuktikan bahwa bahasa-bahasa Nusantara memang serumpun, yaitu rumpun Austronesia (Madagaskar sampai kepulauan di Samudera Pasifik). Ini kerja “gila”. Ratusan tahun silam, dengan infrastruktur teknologi minim, bukan mudah meneliti dan membuat kamus tata bahasa. Prof. H. Kern, ahli bahasa-bahasa Asia Tenggara menjulukinya sebagai ahli terbesar mengenai bahasa-bahasa di Indonesia[3]. Sayang, bangsa ini memang mengidap amnesia sejarah.

Dialek bahasa Lampung yang sekarang dipahami ada 2 jenis, yaitu dialek Nyow (O) dan dialek Api (A). Dua dialek ini dipopulerkan oleh Prof. H. Hilman Hadikusuma, SH, setelah sebelumnya Walker dan Van Royen pun lebih dulu membaginya ke dalam dua jenis tersebut. Hal ini bisa dibaca dalam buku Kamus Dwibahasa Lampung-Indonesia, terbitan Kantor Bahasa Propinsi Lampung, tahun 2009. Sementara Van der Tuuk, dalam penelitiannya kala itu, membagi dialek Lampung menjadi empat, yaitu: Abung, Paminggir, Bumi Agung, dan Pubian.

Penelitian ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung dipublikasikan Van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche Tongvallen” (Daftar perbandingan kata-kata bahasa Lampung) dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG), volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen” (Orang Lampung dan dialeknya), dalam TBG, volume 18, 1872, hal. 118-156.

Selain itu masih ada beberapa hasil penelitian tentang bahasa Lampung yang dilakukan orang luar negeri, semisal yang dilakukan C. A. van Ophuijsen dalam artikel Lampongsche Dwerghertverhalen (Dongeng Kancil dari Lampung) yang dimuat dalam jurnal Bijdragen Koninklijk (1896) halaman 109-142.

Titik tekan tulisan ini adalah biografi dan jasa Van der Tuuk di Lampung, mengingat minimnya informasi tentang van der Tuuk di daerah ini. Ia memang lebih lama tinggal di Batak (6 tahun) dan Bali (25 tahun). Buku Een vorst onder de taalgeleerden: Herman Neubronner van der Tuuk, Afgevaardigde voor Indie van het Nederlandsch Bijbelgenootschap yang setebal 965 halaman itu, hanya 60 halaman (Bab IV) berisi riwayat van der Tuuk di Lampung. Cukup beralasan karena ia hanya sekitar setahun mukim di Lampung. Dalam buku ini dimuat 264 dokumen primer dan 10 dokumen suplemen, juga korespondensi van der Tuuk dengan NBG dan beberapa individu.

 

Jejak perjalanan Van der Tuuk

 

*M Arman AZ adalah seorang cerpenis dan peneliti sejarah, tinggal di Bandarlampung

Loading...