Beranda Kolom Kopi Pagi Wabah Marah

Wabah Marah

162
BERBAGI
Ilustrasi

Oyos Saroso Saroso H.N.

Akhir-akhir ini Karto Klete menjadi sering terkaget-kaget karena banjir amarah sudah memenuhi beranda, menelusup ke ruang tamu, dan mojok di kamar tidur. Banjir itu seperti wabah penyakit menular. Tidak hanya para politikus kalah perang yang hobi marah-marah. Para tetangga Karto, semua saudara, bahkan anak dan istrinya pun kini ketularan penyakit marah.

Setelah hampir sebulan penuh dirundung tontonan Pilpres yang menyebalkan karena penuh dengan wajah garang dan hardikan, kini Karto Klete diteror berita gelombang amarah yang datang seperti tsunami.

Sejak  tiga  hari terakhir acara berita teve pagi mengabarkan seorang perempuan ditahan polisi hanya gara-gara menghina sebuah kota di jejaring sosial.

Seorang akademikus yang lumayan vokal juga terancam jerat hukum karena membuat para bos polisi hatinya terluka. Lalu bos polisi marah.Kemudian si akademikus bakal dijerat pasal KUHP.

“Wuiiiiiiih….lagi-lagi marah. Marah kok dijadikan pekerjaan harian. Seperti enggak ada kerjaan saja!” Karto bersungut-sungut.

Matahari masih malas beringsut. Segelas kopi panas tidak membuat bisa agak tersenyum, meski cuma senyum kecut.

“Kalau begini  lebih enak di zaman Pak Harto kan? Doi murah senyum dan tidak pernah marah,” kata Caca Marica Hehe.

Karto Klete mendehem. Caca menoleh sebentar ke arah Karto. Beberapa detik tatapan mereka saling bersirobok.

“Enak Mbah Harto, katamu?!” tanya Karto.

Caca agak kaget.

“Ya. iyalah. Enggak pernah ada barisan orang ngantri  beras dan bensin! Harga kebutuhan pokok murah. Sekarang? Mbel gedhes!” kata Caca sambil menjebihkan bibir.

Ini KO yang kesekian bagi Karto.

Ya. Setiap kali menonton berita televisi tentang demo, kenaikan harga, dan kelangkaan BBM, Caca Marica Hehe selalu nerocos, membanding-bandingkan zaman Soeharto dengan zaman reformasi. Dan itu artinya KO bagi Karto yang memang sejak zaman baheula tidak  suka dengan Orde Soeharto.

Biasanya Karto akan makin ringsek di hadapan Caca kalau Caca sudah melontarkan sindiran: “Makan tuh reformasi!” , “Memangnya kenyang kalau sudah makan demokrasi?!”

Kalau sudah disindir begitu, kopi menjadi terasa hambar bagi Karto.

“O…… itu ternyata alasanmu kemarin ngotot mau nyoblos bekas mantunya Pak Harto? Hehehehe…..” Karto terkekeh. “Demokrari itu proses. Kalau zaman kegelapan seperti dulu berlanjut,maka tidak akan ada orang tanpa trah Orang Mulia akan jadi bupati, walikota, gubernur, dan presiden….”

Lha terus sampeyan jadi apa setelah sekian lama makan reformasi dan demokrasi?” Caca mulai menyindir.

Karto mati klesek. Tidak berkutik. Sindiran istrinya telah benar-benar membuatnya KO dan membuat mulut seolah dikunci. Mau marah tak bisa. Tidak marah pun tak bisa.

Loading...