Beranda Hukum Wahyu Sasongko: Banyak Keanehan dalam Kasus Talangsari

Wahyu Sasongko: Banyak Keanehan dalam Kasus Talangsari

710
BERBAGI
Wahyu Sasongko (paling kanan) dalam Diskusi Publik Peringatan 26 Tahun Tragedi Talangsari, di LBH Bandarlampung, Minggu (8/2/2015).
Wahyu Sasongko (paling kanan) dalam Diskusi Publik Peringatan 26 Tahun Tragedi Talangsari, di LBH Bandarlampung, Minggu (8/2/2015).

TERASLAMPUNG.COM — Akademikus Unila, Dr. Wahyu Sasongko, mengatatakan banyak keanehan dalam kasus pelanggaran HAM Talangsari, Lampung Timur. Selain data jumlah korban meninggal yang ‘njomplang’ ‘jauh berbeda) antara versi Kontras dan versi pemerintah (TNI), penuntasan kasusnya juga aneh.

“Data korban meninggal menurut Kontras mencapai 246 orang, sementara versi pemerintah hanya 27 orang. Pemerintah mengklaim korban adalah orang dewaa, sedangkan menurut Kontras dan keluarga korban yang masih hidup ternyata banyak juga anak-anak dan perempuan. Proses hukum yang lama dan bertele-tele menyebkan kasus Talangsari menjadi makin gelap,”kata Wahyu Sasongko dalam diskusi publik Mengenang Tragedi Talangsari, di LBH Bandarlampung, Minggu (8/2).

Wahyu menyayangkan proses hukum kasus Talangsari yang berbelit-belit sehingga penuntasan kasus pelanggaran HAM Talangsari tak kunjung tuntas.

Menurut Wahyu, sebenarnya Komnas HAM sudah mengumpulkan banyak data terkait pelanggaran HAM di Talangsari. Laporan kerja Komnas HAM tersebut sudah diserahkan kepada Jaksa Agung. Namun, hingga kini tidak ada tindaj lanjutnya.

Terkait tanah milik warga Talangsari yang berpindah tangan setelah tragedi Talangsari berlangsung, kata Wahyu, sebaiknya warga korban tragedi  Talangsari mengumpulkan alat bukti kepemilikan tanah untuk mengambil haknya kembali.

“Sebab hak milik perdata tidak bisa digugat oleh pemerintah,” katanya.

Ariftama

Loading...