Wajik

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Sore itu berniat mengundang bertemu dengan seorang sohib yang jurnalis senior, namun bingung mau disuguhi apa buat teman ngobrol ngalor ngidul. Terbersit pesan kue tradisional nusantara yaitu Wajik melalui tetangga jiran yang cukup ahli membuatnya.

Wajik adalah salah satu ragam kekayaan kuliner di Indonesia. Kue wajik memiliki beberapa sebutan yang berbeda-beda di setiap tempat, di antaranya: ‎Wajik ketan , ‎Wajik kletik . ‎Wajik Bandung, dan masih banyak lagi jika kita urut di masing masing daerah nusantara ini.

Berdasarkan penelusuran literatur ditemukan bahwa Wajik adalah makanan atau kue yang dibuat dari campuran beras ketan, gula Jawa atau gula pasir yang dicampur parutan kelapa (santan kelapa), kemudian dipotong-potong seperti segi empat atau kotak-kotak. Asal kata nama wajik sendiri biasa dikaitkan dengan kartu wajik, karna mungkin bentuknya yang seperti wajik (kotak).

Wajik ternyata termasuk dalam kategori makanan atau camilan zaman Majapahit. Hal ini tertulis dalam kitab Nawaruci. Kitab ini merupakan karya sastra yang berbahasa Jawa Tengah yaitu bahasa yang muncul pada jaman kejayaan Majapahit. Kitab Nawaruci atau Sang Hyang Tattawajnana ditulis antara tahun 1500-1619 Masehi oleh Empu Siwamurti. Kitab Nawaruci ini merupakan karya sastra religius yang terpengaruh ajaran mistik Hindu. Lahirnya Kitab Nawaruci itu bersamaan dengan masa penyebaran dan perkembangan agama Islam di kalangan masyarakat Jawa.

Camilan khas ini di masyarakat kita sendiri, kalau kita lihat hampir setiap acara adat / upacara adat sepertinya wajib baginya untuk menyajikan atau men-suguh-kan makanan ini, terutama di desa banyak menyajikan makanan ini, seperti contoh pada saat momen acara pesta pernikahan, nyadran, dan lain sebagainya. Orang biasa meyakininya sebagai suatu kewajiban untuk acara-acara tertentu, maka dari itu mudah bagi kita, bahkan mungkin tak asing lagi bagi kita untuk dapat menikmati atau mendapatkan makanan ini, perkembangan teraakhir makanan ini menjadi Kuliner Nusantara yang bisa dipesan secara online.

Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh para pendahulu dengan lambang kuwe Wajik ini? Sebagai warisan leluhur, ternyata punya nilai filosofi tersendiri, Wajik ketan yang diberikan sebagai hantaran pernikahan, melambangkan dan sebagai harapan hubungan pernikahan keduanya akan terus lengket dan langgeng ibarat wajik.

Pada acara adat atau slametan kue wajik disuguhkan untuk melambangkan kerukunan antar warga yang saling menyatu padu dan tak berbeda. Lebih lanjut dikutip dari Sonora.id; Ternyata pesan moral ini tersembunyi dalam lezatnya kue wajik. Jajanan ndeso warisan leluhur ini menyimpan pesan moral dan nilai-nilai yang sangat luhur, terutama bagi sepasang mempelai atau pengantin, agar para pengantin selalu sabar dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan dapat melewati kerikil kehidupan untuk mendapatkan hasil akhir yang manis alias kebahagian sejati.

Yang bisa kita ambil hikmah dari konteks ini, yaitu bahwa sudah sejak lama para leluhur kita memberikan peringatan dini kepada para penerusnya, termasuk kita dan anak keturunan kita, bahwa dalam kehidupan itu harus bersatu untuk mendapatkan “manisnya” hidup, serta satu sama lain diantara kita ini adalah merupakan perekat bagi sesamanya. Perlambang ini dapat kita pahamkan bahwa Wajik hanya bisa dibuat dari beras Ketan, beras ini di beberapa daerah di Sumatera di sebut beras pulut, maksudnya beras perekat.

Lambang beras ketan atau beras pulut itu sebagai perekat untuk selalu bersatu dan tetap kokoh dalam mengarungi kehidupan. Tidak ada sesuatu perjalanan hidup yang terbebas dari gelombang, badai, angin puting beliung dan lain sebagainya. Dia akan menerpa dari kehidupan Personal sampai dengan kehidupan yang universal; dari rumah tangga yang kecil sampai pada negeri yang besar, pasti akan mendapatkan. Tinggal bagaimana nakhoda yang memegang kendali,  mampukah dia menggunakan prinsip wajik yang selalu merekatkan diri kepada semua elemen guna menyelamatkan “kapal kehidupan”?

Hidup harus terus berjalan, pemeran dan pelaku boleh berganti, namun waktu tidak akan berhenti. Generasi terus silih berganti, mengular dan membiak memenuhi bumi. Hanya perlu kita sadari bahwa negeri ini tetap harus selalu terurus rapi, saling merekatkan diri menyongsong hari.

Selamat ngopi sore…