Beranda Ruwa Jurai Bandarlampung Wakil Bupati Banyuasin Belajar Proyek SPAM di Pemkot Bandarlampung

Wakil Bupati Banyuasin Belajar Proyek SPAM di Pemkot Bandarlampung

266
BERBAGI
Wakil Bupati Banyu Asin Slamet Sumosuntono didampingi Katua DPRD Irian Setiawan memberikan cinderamata kepada Sekdakot Badri Tamam, Kamis, 19 Desember 2019.
Wakil Bupati Banyu Asin Slamet Sumosuntono didampingi Katua DPRD Irian Setiawan memberikan cinderamata kepada Sekdakot Badri Tamam, Kamis, 19 Desember 2019.

TERASLAMPUNG.COM — Wakil Bupati Kabupaten Banyu Asin, Sumatera Selatan, Slamet Sumosuntono, mengunjungi Pemkot Bandarlampung untuk mengetahui proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU).

“Meski daerah kami punya sungai besar, Sungai Musi tapi ketika musim kemarau kemarin airnya surut. Daerah kami memang daerah air tapi sayangnya airnya tidak bisa diminum,” kata Wabub dalam kunjungan kerjanya yang diterima Sekda Bandarlampung Badri Tamam, di ruang rapat Walikota Bandarlampung, Kamis, 19 Desember 2019.

Wakil Bupati Slamet Sumosuntono yang pernah tinggal di Telukbetuk itu mengaku di wilayahnya sudah ada perusahaan daerah air minum (PDAM). Namun diakuinya pelayananya masih jauh dari memuaskan.

“Tempat kami ada PDAM tapi kalo 7 hari, air hidup cuma 4 hari. Kasihan warga kami terutama di Kecamatan Talang Kelapa yang penduduknya mencapai 120 ribu jiwa,” ungkapnya.

Dukungan agar Pemkab Banyuasin agar bisa melakukan kerjasama dengan skema KPBU diungkapkan Ketua DPRDnya Irian Setiawan yang turut hadir dalam kunjungan kerja ke Pemkot Bandarlampung itu.

“Kami sangat mendukung agar pemkab bisa mencontoh Bandarlampung dalam pengadaan air bersih karena air sangat dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Selain itu, dia juga meminta Pemkab Banyuasin juga belajar kepada Pemkot Bandarlampung tentang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), karena menurutnya tidak baik jika selalu mengandalkan dana bagi hasil atau Dana Alokasi Umum (DAU).

“Bukan hanya soal air, bisa juga soal perizinan dan peningkatan PAD karena jika terus mengandalkan bagi hasil kalau terjadi pemekaran daerah, pastinya dananya berkurang,” katanya

Sementara itu, Sekdakot Badri Tamam menjelaskan untuk mendapatkan proyek SPAM KPBU tersebut pihaknya berjuang hampir 10 tahun.

“Kami mulai mengajukan tahun 2009 dan proyek itu baru terealisir pada tahun 2019 karena proyek SPAM KPBU ini merupakan yang pertama di Indonesia,” ujarnya.

Proyek SPAM KPBU yang dikerjakan oleh PT Adya Tirta Lampung (ALT) itu menelan biaya Rp1,2 triliun.

“Pemkot menyertakan dana sebesar Rp150 miliar yang digunakan untuk pemasangan pipa tersier. Proyek ini menjadi mahal karena sumber air bakunya di Way Seputih yang jaraknya 28 km dari Bandarlampung. PDAM Way Rilau baru bisa mencukupi kebutuhan air warga sekitar 20 persen. Dengan selesainya pengerjaan SPAM KPBU tahun 2024 diharapkan mampu melayani kebutuhan air 50 persen warga Bandarlampung,” jelasnya.

Dandy Ibrahim

Loading...