Wakil Lampung Ikuti Seminar Internasional Pansumnet 2015 di Sawahlunto

Bagikan/Suka/Tweet:
Ini adalah kain tapis kuno Lampung koleksi Anshori Djausal dan menjadi salah satu warisan khas suku Lampung yang kian langka. Banyak kain tapis kuno berusia ratusan tahun kini jadi koleksi musium di Singapura, Amerika, dan negara-negara Eropa.  (Foto: Teraslampung.com/Oyos Saroso HN)

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com –– Lampung diundang mengikuti Seminar Internasional Kota Pusaka Menuju Warisan Dunia yang diselenggarakan Jaringan Sumatra untuk Pelestarian Pusakan (Pansumnet) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto di Sawahlunto, Sumatera Barat, 20-24 Oktober 2015 mendatang.

Direktur Jung Foundation Lampung Heritage Christian Heru Cahyo Saputra mengatakan, pihak panitia mengundang orang yang konsen dengan masalah pusaka industri dan arkeologi industri di Lampung.

“Saya bersama Sekretaris Jung Foundation Lampung Heritage, Hari Jayaningrat dan Zulkarnain Zubairi, tenaga ahli Pemprov Lampung akan menghadiri dan menyampaikan makalah sesuai tema yang diangkat dalam pertemuan ini,” kata Christian Heru, Minggu (18/10).

Menurut Heru, Lampung juga sebenarnya potensi pusaka industri yang tidak kalah dengan daerah lain di Sumatera. “

Ini kempatan bagi kita untuk berbagi pengalaman dengan berbagai ahli, praktisi, pembuat kebijakan dan akademisi akan bertukar pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana cara untuk mendapatkan manfaat yang terbaik dari potensi pusaka industri,” ujar anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini.

Hairul dari Badan Warisan Sumatra mengatakan, pusaka industri dan arkeologi industri belum banyak dibahas di Indonesia, sementara aset dan potensinya sangat besar terutama yang terkait erat dengan 13 sektor usaha industri strategis di Indonesia yang berada di bawah wewenang Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Seluruh usaha industri strategis tersebut harus senantiasa memperbarui diri dan mengikuti perkembangan zaman dengan fasilitas maupun lokasi yang baru. Akibatnya, aset-aset yang lama jumlahnya sangat berlimpah dan seringkali tidak dipergunakan lagi, mulai dari area perkebunan yang luas, pabrik-pabrik hingga perkantoran,” kata dia.

Menurut Hairul, aset-aset tersebut  adalah saksi sejarah yang bisa sangat berguna untuk edukasi publik dan perkembangan sosial budaya dan ekonomi suatu kawasan jika diberdayakan secara benar dan maksimal sebagaimana yang telah dibuktikan oleh negara-negara lain. Jika aset industri tersebut tidak segera dilestarikan dan diberdayakan maka akan menghilang sia-sia karena ketidakpedulian dan kerusakan.

Kota Sawahlunto yang menjadi tempat pertemuan Pansumnet 2015 adalah salahsatu kota di Indonesia yang berusaha mengeksploitasi asset pusaka industrinya. Sejak tahun 2004, Sawahlunto memiliki kebijakan untuk menjadikan pusaka industri sebagai tujuan wisata termasuk merehabilitasi jalur kereta api. Hasilnya cukup menggembirakan karena pada tahun 2014 sepertiga pendapatan daerah berasal dari bidang pariwisata.

Pusaka industri Sawahlunto berupa peninggalan penambangan batubara yang berlimpah. Batubara ditemukan tahun 1867 oleh insinyur Belanda bernama Willem Hendrik de Greve. Ketika itu Sawahlunto hanya sebuah desa kecil yang kemudian berkembang menjadi kota pertambangan ketika pada tahun 1891 Pemerintah Belanda membuka pertambangan batu bara pertama.

Belanda juga membangun jalur kereta api yang menghabiskan dana 17 juta gulden sebagai moda transportasi pengangkutan batubara dari Sawanlunto menuju Padang. Dengan adanya jalur transportasi ini, keuntungan dari pertambahan berkali-kali lipat besarnya mencapai 4,6 juta gulden pada tahun 1920.

Pascakemerdekaan, kegiatan pertambangan diambil alih oleh PT Tambang Batubara Ombilin (TBO) yang kemudian dilikuidasi dan menjadi anak perusahaan PTBA (Bukit Asam) yang berlokasi di Sumatra Selatan.

rl