Walhi Lampung dan Tim 10 Tanam Seribu Bibit Bambu Betung dan Pohon Aren di DAS Way Seputih

  • Bagikan
Menanam pohon di bantaran DAS Way Seputih.

TERASLAMPUNG.COM — Menyongsong Peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung bekerjasama dengan Tim 10 Pemuda Karang Taruna Kampung Konservasi Pekandangan, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah menanam 1.000  bibit pohon di bantaran DAS Way Seputih, Minggu (16/4).

Kegiatan bertema “Tanam Sekarang atau Bencana akan Datang” tersebut diikuti oleh seratus lima puluhan peserta dari Walhi Lampung dan anggota (Wanacala, Poltapala Polinela, Mapala Ardenaswari, Mapala AKL Polkekkes) dan jaringan WALHI Lampung (YKWS, Jaringan Perempuan Padmarini, Sispala Lingkar Generasi Hijau SMA Maarif Sukatani).

Kegiatan ini didukung oleh aparatur Kampung Konservasi Pekandangan dan diikuti pula oleh Gerakan Pramuka Pramuka Kakuaran Selagai Lingga, Pemuda Karang Taruna, Tapak Suci, Banse NUr, dan masyarakat sekitar dengan menanam bibit aren dan bambu betung.

Bambu betung merupakan tanaman konservasi air yang juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar DAS Way Seputih. Sedangkan aren merupakan bahan baku gula aren, produk unggulan masyarakat.

Penanaman bibit sepanjang empat kilometer tersebut berfungsi mencegah abrasi dan mendukung pemulihan bantaran sungai, Menghijau setelah banjir bandang 21 februari 2017 karena hujan deras.

Foto bersama setelah menanam bibit pohon bambu betung dan aren di bantaran DAS Way Seputih, Lampung Tengah.

Direktur Walhi Lampung, Hendrawan, mengharapkan kegiatan ini mampu menginspirasi  masyarakat untuk menjaga dan melakukan konservasi di wilayah bantaran sungai.

“Kegiatan ini juga harapannya akan mengingatkan peran pemerintah dalam upaya konservasi lingkungan dengan mengeluarkan kebijakan yang mendukung aksi pelestarian alam,” kata Hendrawan

Sementara Kepala Kampung Konservasi Pekandangan, Ade Ma’mun mengatakan bambu betung merupakan bahan bangunan, tanaman konservasi air, sekaligus bahan pangan.

Dia mengaharapkan agar masyarakat selalu menjaga kelestarian lingkungan dan merawat bibit yang telah mereka tanam.

“Mulai 1992 terjadi banjir bandang dan longsor karena curah hujan tinggi dan karakteristik tanah lempung berpasir. Pada 2012, banjir menghanyutkan empat jembatan gantung yang menghubungkan antara Kampung Konservasi Pekandangan ke kampung induk Lingga Pura,” kata Ade.

Menurut Ade, pada 21 Februari 2017, banjir yang terjadi sangat besar tapi tidak membawa material sehingga tidak merusak jembatan yang dibangun oleh masyarakat secara swadaya itu.

 

Loading...
  • Bagikan