Beranda News Budaya Wali Nanggroe Dukung Kongres Peradaban Aceh

Wali Nanggroe Dukung Kongres Peradaban Aceh

209
BERBAGI
JAKARTA, Teraslampung.com –Wali Nanggroe
Aceh, Teungku Malik Mahmud Al Haytar, memberi dukungan  terhadap
pelaksanaan Kongres Peradaban Aceh. Kongres yang diadakan pada Oktober 2015 itu
mengambil tema “Penguatan Bahasa-bahasa Lokal di Aceh”. 
“Kongres itu diharapkan
melahirkan gagasan-gagasan yang konstruktif dan inovatif,” kata Malik
Mahmud saat membuka diskusi terarah persiapan kongres itu di Jakarta, Jumat, 26
Juni 2015.
Ia berharap  dari
kongres Peradaban akan tersusun sebuah ensiklopedi Aceh yang di dalamnya
terdapat kamus bahasa Aceh. Kamus itu memuat bahasa-bahasa di Aceh secara
komperehensif, baik kamus cetak maupun kamus digital/elektronik. Dalam
kesempatan itu, ia juga memberi apresiasi kepada penggagas kongres tersebut. 
“Sebagai orang tua, hari ini saya sangat bangga, ternyata masih banyak para
pemikir dan pendukung serta bekerja keras demi pelestarian adat dan budaya
Aceh,” ujarnya.
Ketua Panitia Persiapan
Kongres Peradaban Aceh, Ahmad Farhan Hamid, mengatakan ada  bahwa
anak-anak muda di Aceh, terutama di kota, makin sedikit yang bertutur
menggunakan bahasa lokal. 
“Bahasa-bahasa lokal secara perlahan mulai 
tergerus dan hilang. Ini bencana nyata bagi punahnya peradaban. Dan kalau
terjadi di Aceh, berarti punahnya sebagian peradaban Aceh,” ujarnya.  
Menurut dia, gagasan
kongres ini berangkat dari keresahan kalangan muda terhadap identitas dan
peradaban Aceh.  Gagasan itu lalu dibahas dalam grup BBM Gerakan Anti
Kekerasan (GSK) dan grup WA Diaspora Aceh. Sebagian anggota kedua grup itu
kemudian melakukan beberapa rapat untuk mematangkan rencana  ini. Mereka
sepakat memulai pertama dengan diskusi terarah untuk pemetaan masalah.
Lalu, menurut Farhan,
seorang tokoh masyarakat Aceh di Jakarta, Adnan Gantoe, memfasilitasi diskusi
terarah itu di sebuah hotel diikuti buka puasa bersama.
“Untuk kebutuhan diluar
itu, kami meuripee (patungan),” ujar Wakil Ketua MPR periode
2009-2014 itu.
Mustafa Ismail, seorang
pegagas, mengatakan diskusi terarah diikuti oleh sekitar 50 peserta. Menurut Mustafa, mereka
terdiri dari akademisi, ahli bahasa, generasi muda, tokoh masyarakat, dan wakil
dari para penutur bahasa-bahasa lokal di Aceh.  
“Seperti diketahui, 
di Aceh memiliki 13 bahasa lokal.  Bahkan ada sebuah kabupaten yang bahasa
lokalnya ada lima,” ujar Mustafa yang juga sekretaris panitia.
Ia menjelaskan, rangkaian
persiapan diskusi itu dimulai dengan diskusi terarah, lalu pra kongres di
Jakarta pada akhir Agustus 2015 dan kongres di Banda Aceh pada 29-31 Oktober
2015. “Kami juga sedang mempertimbangkan saat kongres nanti akan dibuatkan
forum untuk para perantau Aceh yakni Diaspora Aceh Summit,” ujar Mustafa yang
dikenal sebagai penyair dan pegiat budaya itu.
Ia menambahkan, Diaspora
Aceh Summit bisa dilakukan sehari sebelum kongres atau sehari setelah kongres.
Sehingga perantau Aceh yang “pulang kampung” itu bisa sekaligus menjadi peserta
Kongres Peradaban Aceh.

Panitia juga mendapat
sejumlah masukan kegiatan untuk mewarnai Kongres Peradaban Aceh seperti lomba
menulis cerpen, film berbahasa Aceh, hingga stand up comedy dalam bahasa lokal Aceh. 
“Apresiasi
terhadap gagasan Kongres Peradaban Aceh ini luar biasa,” ujar Fahmi Mada,
seorang pengagas lain acara ini.
Loading...