Beranda News Peristiwa Walikota Herman HN Tetap Ngotot Gusur Rumah di Kompleks Pasar Griya Sukarame

Walikota Herman HN Tetap Ngotot Gusur Rumah di Kompleks Pasar Griya Sukarame

1197
BERBAGI
Bangunan Pasar Griya Sukarame rata dengan tanah, Selasa (24/7/2018).

TERASLAMPUNG.COM — Sejumlah elemen masyarakat dan lembaga pemerintah meminta Pemkot Bandarlampung menunda penggusuran sejumlah rumah di kompleks Pasar Griya Sukarame Bandarlampung.Namun, Walikota Bandarlampung Herman HN berkukuh akan melakukan penggusuran hari (24/7/2018).

“Saya kemarin sudah meminta Pak Walikota Bandarlampung tidak menggusur Pasar Griya Sukarame,sambil menunggu ada solusi bagi warga yang tinggal di sana,” kata Kepala Ombudsman RI Perwakilan Lampung, Nur Rakhman Yusuf, kepada Teraslampung.com, Selasa (24/7/2018).

Menurut Rakhman, masih ada langkah bijaksana yang bisa ditempuh agar warga yang tergusur juga mendapatkan haknya sebagai warga negara.

Hal serupa diungkapkan Direktur LBH Bandarlampung, Alian Setiadi. Menurut Alian, penggusuran yang akan dilakukan Sat Pol PP Pemkot Bandarlampung hari ini berpotensi bentrok antara warga dan Pemkot.

“Kami tidak ingin ada bentriok sehingga mengakibatkan korban berjatuhan. Maka, kami LBH Bandar Lampung bersama jaringan mahasiswa dan masyarakat menyerukan kepada seluruh masyarakat sipil untuk mendukung perjuangan para pedagang dan warga,” kata Alian.

Eksistensi warga dan pedagang di kompleks Griya Sukarame sebenarnya sudah cukup lama. Pedagang dan masyarakat Pasar Griya Sukarame menempati Pasar Griya Sukarame di atas tanah negara yang juga sebagai pasar pada tahun 2000.

Dalam perjalanan waktu,  pasar tersebut tidak berkembang,sedangkan rumah-rumah terus bertambah di lahan tersebut karena diduga ada oknum yang menangguk untung dalam proses jual beli lahan milik Pemkot Bandarlampung itu.

Pada tahun 2018, Pemkot Bandarlampung ingin mengubah fungsi tanah negara tersebut menjadi Kantor Kejaksaan. Untuk rencananya itu, Pemkot melakukan berbagai upaya: mengusir warga dengan selembar surat, mengintimidasi, serta mengancam warga untuk segera meninggalkan pasar.

Pada Jumat, 20 Juli 2018, Pemkot menggusur paksa warga dan lapaknya. Akibatnya, 12 orang menjadi korban kekerasan dan seorang mahasiswa patah kaki. Sampai hari ini masyarakat masih bertahan menempati Pasar Griya Sukarame.

Tim Teraslampung.com

Loading...