Bisnis  

Warga Bandarlampung Ini Menikmati Legitnya Bisnis Baju ‘Second’ Bermerek

Boim sedang live Facebook di rumahnya di jalan jendral Suprapto, Gang Masjid Kota Bandarlampung.
Boim sedang live Facebook di rumahnya di jalan jendral Suprapto, Gang Masjid Kota Bandarlampung.
Bagikan/Suka/Tweet:

Dandy Ibrahim | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Berawal dari menyukai dan memakai pakaian dan celana bermerek terkenal, Boim (45) terjun ke usaha pakaian dan celana bermerek terkenal tetapi second.

Bisnis yang baru ditekuninya sekitar tiga bulan dan ternyata peminatnya luar biasa baik lokal maupun dari luar Kota Bandarlampung dan pada bulan Ramadan yang baru lalu omzetnya bisa diatas Rp20 juta.

“Awalnya coba-coba aja. Kebetulan saya ada sepupu yang tinggal di Jepang. Dia menyarankan usaha ini, tetapi ambil barangnya dari Korea. Masalahnya kalau ambil langsung dari Korea pembelian harus satu kontainer,” jelasnya, di tempat usahanya di Jalan Soprapto (jalan baru), Gang Masjid, Kelurahan Tanjungkarang, Minggu 8 Mei 2022.

“Satu kontainer itu sekitar isinya sekitar 250 bal baju dan celana nggak mungkin kami beli. Solusinya, kami kerjasama dengan teman yang sudah lama berbisnis ini dengan menitipkan barang lebih terjamin kualitasnya,” tambahnya

Penjualan baju dan celana second dilakukan Boim baik dengan online (siaran langsung di Facebook) juga offline pembeli bisa datang langsung ke rumahnya.

“Peminat mahasiswa dan anak muda, kalangan menengah ke bawah, harga bisa terjangkau. Dan pelayanaan kita, sebelum di jual kita cuci agar pembeli bisa langsung pakai dan barang yang cacat tidak kami jual. Intinya mengutamakan pembeli, bisnis ini kan pelayanan kalau mereka puas insya Allah jadi pelanggan,” jelas Boim.

“Yang membuat saya optimis dengan bisnis ini bulan Ramadan kemarin omzet kita sampai Rp20 juta lebih. Yang kita jual baju bermerek (branded) satunya Rp50 ribu begitu juga celana 100 sampai Rp200 ribu, jaket kulit kisaran Rp250 ribu per potongnya,” ungkapnya.

Lebih jauh Boim mengatakan, bearawal dari hobinya yang menyukai barang-barang bermerek  kemudian terpikirkan bagaimana kalangan menengah ke bawah bisa memakai juga tapi harganya tidak merogoh kocek yang dalam.

“Saya hobi pakai barang-barang bermerek (branded) tapi kan tahu sendiri harganya mahal. Nah ketika saudara saya yang di Jepang itu membuka jalan saya pikir ini kesempatan usaha juga membantu kawan-kawan  yang ingin berpakaian dengan merek-merek ternama tapi dengan harga cukup terjangkau,” jelas bapak empat anak itu.

“Alhamdulillah, peminatnya bukan hanya dari Kota Bandarlampung saja ada dari Jawa Timur. Saya juga pernah ngirim ke Riau dan beberapa daerah lainnya,” pungkasnya.