Beranda Kolom Kopi Pagi Wartawan Cum Sastrawan

Wartawan Cum Sastrawan

122
BERBAGI

Budi Hutasuhut

Ketika saya tertarik membaca karya sastra saat sekolah dasar, saya jadi paham kalau wartawan dan sastrawan itu adalah dua profesi yang bisa dipadukan. Saya tinggal di Sumatra Utara, dan di daerah saya ada banyak koran yang terbit jauh sebelum negara ini merdeka.

Para pemilik koran itu, ternyata pula, dikenal luas sebagai sastrawan. Mereka menulis berita juga menulis karya sastra. Mereka bisa membelah dua dirinya: sebagai penulis karya sastra sekaligus penulis berita.

Para wartawan cum sastrawan itu punya banyak buku, baik yang ditulis dalam Bahasa Batak maupun Bahasa Melayu. Tapi, dari sejumlah buku mereka, saya tahu kalau wartawan cum sastrawan di daerah saya lebih memilih menulis dalam Bahasa Batak.
Itu tanda perlawanan kepada kolonialisme Belanda, yang memaksakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, dan mendorong Merari Siregar menulis Azab dan Sengsara sebagai novel moderen pertama di negeri ini yang ditulis dalam Bahasa Melayu.

Para sastrawan cum wartawan di daerah saya tidak suka pada Merari Siregar, karena ia dianggap pro-kolonialisme. Merari Siregar berasal dari Desa Bagas Godang, Kecamatan Sipirok, dan menulis perihal adat-istiadat masyarakat Batak Angkola yang tinggal di Kecamatan Sipirok. Para wartawan cum sastrawan yang juga berasal dari Sipirok, menolak membaca novel Azab dan Sengsara karena dinilai melebih-lebihkan soal keburukan adat perkawinan.
Merari Siregar kemudian tidak diakui sebagai warga Sipirok.

Sastrawan ini jarang pulang dan sampai akhir hayatnya. Hingga kini, sejarah tentang hidup Merari Siregar, terputus dari lingkungan masyarakat Batak Angkola di Sipirok. Orang hanya tahu kalau Merari Siregar berasal dari Sipirok, karena novel Azab dan Sengsara bersetting di Kecamatan Sipirok. Dan, juga, setelah novel Azab dan Sengsara, karier Merari Siregar sebagai penulis novel berhenti. Pasca novel itu, Merari Siregar lebih banyak menerjemahkan karya asing.

Sementara wartawan cum sastrawan yang tinggal di Kecamatan Sipirok, semakin eksis dengan pilihan profesinya. Salah seorang Sutan Pangurabaan Pane. Ia menulis novel Sitti Djaurah dalam Bahasa Batak, yang bercerita tentang kisah hidup dan percintaan orang Batak di zaman kolonialisme.

Sutan Pangurabaan Pane lebih dikenal masyarakat sebagai wartawan. Dia pendiri sejumlah koran di wilayah Keresidenan Tapanuli, dan korannya dipakai untuk alat perjuangan melawan kolonialisme. Kelak, Sutan Pangurabaan Pane, mempunya tiga orang anak yang juga menjadi intelektual di negeri ini: Sanusi Pane (sastrawan), Armijn Pane (sastrawan), dan Lafran Pane (lebih dikenal sebagai pendiri HMI).

Sejarah sastrawan cum wartawan di Sumatra Utara sangat panjang. Generasi baru sastrawan cum wartawan terus muncul. Hampir semua sastrawan dari Sumatra Utara juga dikenal sebagai wartawan. Nama-nama seperti Parada Harahap dan Sutan Casayangan dari generasi sebelum kemerdekaan, sampai pada generasi pasca kemerdekaan seperti Mochtar Lubis, Bokor Hutasuhut, Nasjah Jamin, Basyaral Hamidi Harahap, dan lain-lain.

Hampir semua sastrawan dari Sumatra Utara juga dikenal sebagai wartawan. Beberapa di antara mereka sempat menjadi fenomenal. Sebut saja Bambang Eka Wijaya, sastrawan cum wartawan. Tahun 1975, sebuah sajak Bambang Eka Wijaya berjudul “Bulan Anggur” dan disiarkan di koran Sinar Indonesia Baru, membuatnya dipenjara dan Sinar Indonesia Baru diberedel.

Loading...