Wartawan

  • Bagikan
Rusdi Mathari
 

1. Kriiing…

“Halo
mas Rusdi?”

Hai, apa kabar? Tumben
nelpon? Ada apa nih?”

Begini mas, sebelum aku melanjutkan, aku mau tanya dulu…”
“Tanya
apa?”
“Mas
Rusdi mendukung Jokowi atau Prabowo?”
“Ha? Kok begitu pertanyaannya? Penting banget kayaknya?”
“Penting
mas. …”
“Enggaklah,
aku tak mau menyebutkan pilihan politikku. Lagi pula ini masalah apa, kok langsung
bertanya seperti itu? “
“Begini
mas, kami dan beberapa wartawan [menyebutkan beberapa nama wartawan terkenal
dan medianya], malam ini berkumpul untuk mendukung Jokowi dan menghadang
Prabowo. Kantornya sudah ada, di Jalan B Nomor A. Pengusaha S juga sudah
bersedia. Prabowo itu berbahaya. Saya mau ajak mas Rusdi bergabung. ..”
“Lah
itu kan sudah banyak wartawan hebat dan terkenal, kenapa masih ngajak aku?”
“Yada…
yada… yada…”
“Aku
perlu waktu untuk menjawab.”
“Jangan
lama-lama mas, kami tunggu jawabannya malam ini. Besok kita bisa langung rapat
jam 10…”
2.
Kriiing…

“Halo
mas Rusdi?”
“Ya
siapa ini?”
“Selamat
malam mas. Saya Fulan dari stasiun tivi C….”
“Ada
apa? “
“Saya
mau menampilkan mas Rusdi di acara kami untuk membahas soal Setiyardi dan Obor
Rakyat mas…”
“Kenapa
saya?”

Soalnya dulu mas Rusdi pernah menulis soal Setiyardi.”
“Terus?”
“Kami
ingin tahu, hubungan Setiyardi dan Obor Rakyat dengan Istana.”
“Ha?
Memangnya aku Juru Bicara Istana?”

Barangkali mas Rusdi tahu?”

Begini Fulan, mestinya Anda riset dulu tentang Setiyardi. Anda tahu riset?”

Tahu mas. Saya sudah riset di gugel.”

Riset itu kata Goenawan Mohamad mencari kembali. Anda sudah mencari kembali?”

Sudah mas, dan saya menemukan tulisan mas Rusdi yang menulis soal Setiyardi….”

Bukan itu. Maksudku, risetlah dengan tertib, apa benar Obor Rakyat dan
Setiyardi berhubungan dengan Istana?”

Wah susah mas. Makanya kami mau tanya ke mas Rusdi, karena di tulisan mas Rusdi
disebutkan Setiyardi bekerja untuk Demokrat dan Istana.”

Siapa yang menulis seperti itu?”
“|
Saya baca di tulisan mas Rusdi.”

Coba baca baik-baik sekali lagi tulisanku itu. Jadi wartawan jangan
menduga-duga dan cepat mengambil kesimpulan.”
“Iya
mas maaf….”
“Kenapa
Anda sudah berkesimpulan Setiyardi dan Obor Rakyat berhubungan dengan Istana?”

Karena seperti itu perintah dari bos saya….”
3.
Kriiing….
“Bro,
ini rahasia ya…”
“Soal apa ini mas?”
“Soal
Obor Rakyat.”
“Kenapa?”
“Otak
Obor Rakyat itu Setiyardi. Bukan Darmawan….”
“ Oh ya? Kasihan dong si Darmawan…”
“Iya.
Setiyardi itu dapat pinjaman dari si Fulan sekian sekian [sambil menyebutkan
nama bos media yang dikenal suka berpolitik].”
“Kok kamu tahu?”
“ Aku yang mengenalkan Setiyardi ke si Fulan. Si Fulan kemarin nelepon aku dan
ngajak ketemuan. Dia bercerita semuanya.”
“Kaya benar ya si Fulan?”
“ Memang kaya. Aku dan B kenal dia sudah lama, sejak kami berdua kerja di
majalah mingguan [menyebutkan nama wartawan yang kini tinggal di luar negeri
dan nama sebuah majalah].”
“Terus?”
“Sejak jadi wartawan, kelakuan Setiyardi itu begini begitu kayak si B
[menyebutkan nama mantan bos Setiyardi di media]”
“ Ha? Berarti Setiyardi belajar dari si B dong?”
“ Beda kelas bro. Ibaratanya kelas teri sama kelas paus. Ente kan pengagum si B
juga….”
“ Kok bisa berkesimpulan aku pengagum si B?”
“ Pokoknya informasi tentang Setiyardi itu hanya untuk ente Bro.”
4.
Kriiing…. 


“Cak? “
”Ya….”
“Begini loh Cak, ada desas-desus sampean ikut Prabowo?”
“Kok bisa?”
“Namanya
juga desas-desus Cak. Kalau sampean ikut Prabowo benar, menurutku malah gak
apa-apa. Kalau tidak, kok teman-teman itu tega membuat desas-desus seperti itu.
Kasihan sampean…”
“ Gak apa-apa. Itu kan cuma desas-desus bikinan manusia. Mungkin itu bagian
dari hidup yang harus aku jalani.”
“Ya iyalah Cak, masak Gusti Allah bikin desas-desus.”
“Hahaha.
Gak apa-apa, tapi begini. Aku tidak kenal Prabowo, tidak kenal tim suksesnya,
tidak kenal orang-orangnya. Teman-teman yang hebat itu, mestinya bisa mencari
dan mendapatkan informasi soal itu. Misalnya aku kenal ke Prabowo lewat siapa,
kerjaku harus apa, dan aku mendapat apa atau berapa. Sederhana kok.”
“Yang aku gak ngerti Cak, mereka itu kan teman-teman sampean. Kenapa gak tanya
langsung ke sampean. Masak aku yang berani ngabari sampean.”

Aku ini wartawan bodoh, wartawan apes dan kere. Aku hanya mau menjaga
jurnalistik….”
“Bodoh
sih enggak Cak. Apes ya belum tentu. Kalau kere, sampean terlalu nekat….”
5.
Kriiing…
“Cak
Rusdi?”
“Ya.”

Sudah sarapan Cak?”
“Belum.”
  • Bagikan