Watak Candolo

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Sore itu sedang membuka buku buku lama berbahasa Jawa Kuno dan ditulis dalam dua versi; yaitu tulisan latin dan tulisan atau Aksara Jawa. Salah satu paragraph ada yang menarik yaitu adanya satu topik berjudul Watak Candolo. Setelah menelisik arti hakiki, kemudian menggandengkannya makna hakekat tulisan itu, ternyata memiliki batasan atau definisi operasional yang panjang, yaitu: sikap tidak senang melihat orang senang, dan susah melihat orang senang.

Peristiwa pembungkus yang apik dalam menyajikan watak candolo ini ada pada cerita tentang Ronggolawe, yang diadu domba oleh Mahapati dengan Nambi. “Suatu hari, Ranggalawe menyuarakan ketidakpuasannya di hadapan Raden Wijaya. Namun, karena tuntutannya diabaikan, ia memilih untuk membuat kekacauan di istana. Lembu Sora kemudian menasihati keponakannya untuk meminta maaf kepada raja. Ranggalawe menolak dan memilih kembali ke Tuban. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh Mahapati untuk menghasut Nambi.

Mahapati melaporkan bahwa Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan dan meminta izin kepada Nambi untuk menyerangnya. Ranggalawe yang mendengar serangan tersebut segera menyiapkan pasukan untuk menghadang prajurit Majapahit. Pertempuran akhirnya terjadi di dekat Sungai Tambak Beras, Jombang, antara pasukan Ranggalawe melawan prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Nambi, Kebo Anabrang, dan Lembu Sora. Dalam pertempuran tersebut, Ranggalawe terbunuh oleh Kebo Anabrang. Sementara itu, Lembu Sora yang tadinya berada di kubu Majapahit, tetap tidak terima dengan perlakuan kejam Kebo Anabrang terhadap keponakannya. Oleh karena itu, Lembu Sora langsung menikam Kebo Anabrang hingga tewas. Setelah pertempuran, Raden Wijaya tetap mengampuni semua anggota pasukan Ranggalawe”. ( Kompas.com – 31/07/2021, 08:30 WIB)

Pada batas ini tidak terjadi gejolak atau diskusi batiniah, namun begitu melihat satu tampilan penggalan yang memuat seorang Bupati Kepala Daerah menyesali mencalonkan diri menjadi Bupati Kepala Daerah karena Gajinya kecil, tidak sesuai dengan perjuangannya untuk merebut tahta. Maka muncul diskusi batin manakala ini dikirimkan ke seorang sohib dan berbalik balas, beliau mengatakan bupati ini korupsinya tradisional, tidak cara millennial. Jawaban yang menohok sekaligus inspiratif itu, membuat angan melayang untuk menelisiknya.

Makin menggejolak lagi diskusi diri manakala dihadapkan pada berita bagaimana pengusaha makanan terkenal yang tersandung penggelapan pajak, dengan cantik memanfaatkan karyawan untuk dijadikan tameng guna menyelamatkan kerajaan bisnisnya, serta mengkaburkan persoalan dari penggelapan pajak, digeser ke rasa kasihan kepada karyawan yang harus berhenti bekerja; yang sebenarnya akibat dari kedholiman sang pengusaha. Laporan dibuat sampai mendatangi pimpinan tertinggi negera ini, dengan cantik yang dilaporkan bukan penggelapan pajak yang dilakukan, tetapi karyawan yang terkena akibat ketidakpatuhan pengusaha akan peraturan perpajakan; dengan redaksional akan terjadinya pengangguran.

Ternyata keseruan hari ini ditambah lagi, secara tidak sengaja saat membaca media taut (online) menginfokan bagaimana seorang Pimpinan Perguruan Tinggi papan atas di suatu negara, terbawa perasaannya dalam menanggapi celotehan anak buah, sampai harus mengeluarkan pernyataan yang justru merendahkan martabat sebagai pimpinan. Padahal jika dilihat dari pokok persoalannya sangat sederhana dan sangat sepele , tetapi membuat kesesatan berfikir sehingga menampilkan kecandoloan diri.

Berdasarkan ketiga peristiwa tadi ternyata watak candolo itu bisa menjangkiti siapa saja, dengan kata lain peluang untuk terjangkiti watak candolo tidak mengenal kasta, strata, dan tahta atau apapun namanya. Hanya pembedanya adalah pembungkusnya, dan atau pemicunya sehingga memunculkan watak tadi.

Harus menjadi pemahaman bersama bahwa watak merupakan predesposisi perilaku, menurut Psikologi Bihaviorisme. Berarti semua kita memeiliki peluang yang sama untuk menampilkan watak kita masing masing. Hanya saja penyimpangan watak itu akan tampak jelas manakala kita berada pada posisi “simpangan baku”; maksudnya adalah berada pada posisi yang tidak sama dengan reratanya. Jadi; pemimpin, orang yang dilebihkan, atau apapun namanya, pasti berada pada posisi simpangan baku, walaupun dalam populasi yang sama. Oleh karena itu jika menampilkan perilaku yang berbeda, maka perbedaan itu akan cepat terlihat, dan ini semua adalah hukum sosial yang sunatullah sifatnya.

Ternyata semua itu, menurut Gus Baha,  masalah terbesar kita adalah berlebihan menyikapi dunia, sehingga kita lupa bahwa semua kejadian di muka bumi ini karena ramat-Nya. Oleh karena tanpa rahmat dari Sang Khalik adalah sesuatu itu mustahil adanya.

Menjadi pemimpin, menjadi kaya, menjadi pangkat, dan menjadi apapun kita; itu bukan karena kita, atau doa kita; tetapi karena rahmat dari pemiliki kehidupan ini yang disampaikan kepada kita manusia, dalam rangka meneguhkan keberadaanNya, atas kita semua sebagai mahluk. Apapun doa yang kita pinta, apapun amal yang kita buat; tanpa rahmat dari Sang Pemilik Hidup, maka mustahil adanya.***

 

 

 

  • Bagikan