WIn-HT Bisa Jadi Kuda Hitam Pesaing Jokowi dan Prabowo

Bagikan/Suka/Tweet:

Jakarta, Teraslampung.com – Berdasarkan survei terakhir sebelum Pileg, duet WIN – HT selalu masuk tiga besar. Namun karena kalah dari Golkar di pileg, Aburizal Bakrie (Ical) pun menyelak posisi duet Hanura. Masih adakah harapan?

Duet Wiranto- Hary Tanoesoedibjo (Win-HT), dinilai Jeffrie Geovanie, Board of Advisors CSIS, tetap memiliki peluang. Dengan syarat, asal Win–HT mampu menggalang dukungan dari partai-partai lain. Sehingga terpulang kembali pada tekad mereka berdua dalam mengarahkan potensi lobby dari Hanura kepada sesama partai menengah. Jika, mereka bersungguh-sungguh, maka peta kekuatan para kandidat bisa berubah. Dalam arti, Golkar bisa tertinggal sendiri.

“Bila itu terjadi maka akan ada tiga pasangan yang bertarung yaitu Jokowi, Prabowo dan Wiranto-HT. Mengenai peluangnya, saat ini sulit untuk diprediksi. Karenanya, waktu satu dua bulan ke depan ini sangat menentukan,” kata Jefrie di Jakarta, pada Minggu (27/4/2014).

Hal serupa pun dikatakan Fajar Riza Ul Haq, analis politik dan mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute for Culture and Humanity. Meski suara Hanura hanya sekitar lima persen pada Pileg 9 April 2014, namun Fajar, menilai duet Win-HT masih berpeluang besar membangun kekuatan sehingga bisa maju dalam kontestasi Pilpres 2014.

Apalagi, menurut Fajar, koalisi dari poros tiga partai besar, yaitu PDI Perjuangan, Golkar, dan Gerindra, juga belum terbentuk secara pasti dan jelas. Kebelum-pastian terbentuknya gugus-gugus koalisi yang berporos pada ketiga partai ini, dinilai Fajar, akibat proses negosiasi tentang pasangan capres dan cawapres mereka juga masih alot.

Hingga saat ini, baru ada Poros PDI Perjuangan yang sudah resmi berkoalisi dengan Nasdem yang mengusung Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebagai capres. Dengan catatan, belum pasti siapa yang akan diusung sebagai cawapres pendamping Jokowi kelak.

Sementara, nasib Ical masih terkatung-katung. Di internal partai, ada beberapa suara yang menginginkan pencapresan Ical dievaluasi. Dalih mereka Ical tidak bisa mendongkrak perolehan suara Golkar. Elektabilitas Ical pun tergolong rendah. Bahkan, beberapa survei mengatakan, elektabilitas Ketua Umum Golkar ini malah masih kalah jika dibandingkan duet Win – HT.

Masalah internal yang dihadapi Golkar itu yang menjadi salah satu kendala mengapa belum ada satu pun partai yang ingin berkoalisi dengan partai berlambang pohon beringin ini. Bahkan, Mahfud MD, kandidat capres dari PKB, ketika “dilamar” Ical untuk menjadi cawapres, tanpa sungkan mengisyaratkan lebih suka memilih merapat ke PDI Perjuangan untuk menjadi cawapres Jokowi.

Bagaimana dengan prospek Gerindra? Setelah koalisi dengan PPP kembali ke titik nol, partai yang mengusung Prabowo menjadi capres ini makin intensif berkomunikasi politik dengan PAN, PKB, bahkan PPP. Hasilnya? Sama seperti Golkar, belum satupun partai yang mengisyaratkan siap berkoalisi dengan partai berlambang kepala burung garuda ini.

“Di sinilah sangat terbuka peluang bagi munculnya poros baru dengan mengusung nama-nama di luar Prabowo dan ARB. Termasuk poros yang akan dikreasi SBY nanti,” jelas Fajar.

Melihat segala kemungkinan yang masih terbuka, boleh jadi peluang pasangan Win – HT malah seperti menjadi kuda hitam. Terutama mengingat kian mengetatnya pertarungan kubu politik Jokowi dan Prabowo. Jika duet Win – HT ingin tampil, mau tak mau, harus memanfaatkan segala daya potensi dan aset guna membangun poros baru demi memuluskan pencalonan mereka.

Mungkinkan, poros baru besutan Win – HT terbentuk?

“Dalam politik, segala mungkin. Asalkan Hanura mampu menginisiasi poros baru. Dulu Partai Demokrat pada 2014 juga memperoleh suara kecil, namun bisa mencalonkan SBY setelah melakukan koalisi,” ungkap Gun Gun Heryanto, peneliti politik dari UIN Jakarta kepada merdeka.com pada Jumat (11/4/2014).

Lagi pula menilik perkembangan di dalam sejarah politik mutakhir sejak reformasi di Indonesia, Gun Gun melihat, tidak ada koalisi yang permanen. Karena, tradisi koalisi di Indonesia ternyata selalu berbasis pragmatis. Bukan, karena persamaan ideologi.

“Dalam (hal) ini siapa yang punya logistik kuat dan (menciptakan) konvensi kekuasaan dalam hal ini (berbagi) jabatan, bisa saja terbentuk poros baru,” ujarnya.

Jika duet Win – HT tak bisa menarik partai lain untuk berkoalisi, Gun Gun melihat ada opsi lain untuk Hanura. Yaitu bergabung dengan partai yang menawarkan capres yang punya kans besar. Konsekuensinya, Hanura yang baru dua kali ikut pemilu, tak dapat lagi mengusung calon sendiri.

Padahal menurut pengamat ini, Hanura juga punya potensi intangible lain. Yaitu citra baik di masyarakat, karena mampu bersikap kritis selama era pemerintahan SBY. “Tetapi Hanura juga punya sejarah pernah menjadi partai oposisi sama seperti halnya Gerindra pada 2009 lalu,” katanya.

Mungkinkah Hanura berkoalisi dengan Gerindra? Dalam arti mungkinkah duet Win-HT dipecah untuk dijadikan cawapres dari capres Prabowo?

Wiranto memang pernah beberapa kali bertemu Prabowo Subianto. Pertemuan mereka terbaru adalah pada acara “Peringatan 17 Tahun Berkibarnya Merah Putih di Puncak Everest” di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, pada Sabtu (26/4/2014).

Meski tidak menampik adanya pertemuan itu, namun Prabowo tampak tidak ingin menjelaskan lengkap hasil pertemuan tersebut. “Tahu-tahu aja kalian. Hasilnya baiklah, positif. Positif untuk bangsa dan negara, saya kira,” ujar Prabowo diplomatis.

Prabowo selaku capres Gerindra menyatakan, banyak hal yang harus dipertimbangkan matang dalam menentukan cawapres. Salah satunya untuk memajukan bangsa. Dia pun mengingatkan bahwa pemilihan cawapres bukan untuk kepentingan jangka pendek saat Pilpres semata. Tetapi untuk kelangsungan berjalannya pemerintahan. Sehingga, dia harus mencari yang terbaik untuk bangsa ini.

“Yah, semua yang tergesa-gesa tidak baik,” ujar mantan Danjen Kopassus ini.

Namun mungkinkah saat kedua mantan jenderal itu bertemu, mereka sempat menyinggung soal koalisi? Bagaimana pun dalam politik, yang tak mungkin, bisa menjadi mungkin. Jadi kita tunggu saja nanti.

Sumber: Nefosnews.com