Wisudawati Terbaik Itu Diantar Ayahnya dengan Becak

  • Bagikan
Raeni diantar ayahnya dengan becak untuk ikut wisuda sarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (10/6), sementara Rektot Unnes Prof. Dr. Fathur Rokhman menyanbutnya dengan gembira. (Foto: © thejakartapost.com/Suherjoko)

SEMARANG, Teraslampung.com – Selasa pagi, menjelang acara wisuda yang digelar Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Auditorium kampus setempat, perhatian para keluarga wisudawan, wisudawati,  dan puluhan wartawan langsung tersita pada Raeni, Selasa (10/6). Pasalnya, calon wisudawati dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes itu  berangkat ke lokasi wisuda dengan kendaraan yang tidak biasa. Penerima beasiswa Bidikmisi ini diantar oleh ayah tercinta, Mugiyono, menggunakan becak.

Rektor Unnes, Prof. Dr. Fathur Rokhman, sangat bangga atas prestasi Raeni. Ia pun turut menyambut Raeni dan ayahnya di pelataran kampus. Raeni tampak gembira. Tidak ada kesan sedikit pun bahwa dia malu memiliki ayah seorang tukang becak. Sementara Mugiyono, juga tampak gembira sekaligus bangga bisa mengantar anak bungsunya wisuda.

Sehari-hari ayah Raeni bekerja sebagai tukang becak. Tiap hari ayah Raeni, Mugiyono,  mangkal tak jauh dari rumahnya, di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis.

Mugiyono mengaku, sebagai tukang becak penghasilannya tak menentu. Kisannya  Rp10 ribu – Rp 50 ribu. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan.

Meskipun  dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna. Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Dia juga menunjukkan tekad baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

Raeni diantar ayahnya, Mugiyono, menuju Auditorium Unnes untuk mengikuti wisuda, Selasa, 10 Juni 2014. (Foto ©unnes.ac.id)

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.
Tentu saja cita-cita itu didukung ayahandanya. Ia mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru sesuai dengan cita-citanya.

“Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengatakan,apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimilikinya untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” katanya.

Ia bahkan yakin, dalam waktu tak lama lagi akan terjadi kebangkitan kaum dhuafa. “Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini,” katanya.

Harapan itu terasa realistis karena jumlah penerima Bidikmisi lebih dari 50.000 per tahun. Unnes sendiri menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun.

Semntara Mugiyono, kepada Suherjoko dari The Jakarta Post, mengaku sangat senang dan bangga anaknya bisa lulus. “Alhamdulillah, akhiirnya anak saya bisa menyelsaikan kuliahnya. Kami keluarga miskin. Sebelumnya kami tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan anak di pergutuan tinggi. Hanya Raeni dalam keluarga besar kami yang kuliah,” kata Mugiyono.

Sumber: unnes.ac.id, thejakartapost.com

  • Bagikan