Beranda Seni Sastra Wow, 33 Tokoh Sastra Langsung Jadi Polemik!

Wow, 33 Tokoh Sastra Langsung Jadi Polemik!

227
BERBAGI
Joni Ariadinata.Acep Zamzam Noor, Nenden Lilis A., Agus Sarjono, Jamal D. Rahman, dan Berthold Damshauser berpose dengan buku yang mereka susun saat acara peluncuran di PDS H.B. Jassin, Jakarta Jumat (3/1). (Foto: Dok)

Oyos Saroso H.N./teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Baru sehari terbit, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh  terbitan KPG langsung ramai jadi bahan perdebatan.

Lewat status di Facebooknya, cerpenis Dwi Cipta dari Yogya, misalnya, menulis: Maaf saya tidak tahu siapa sosok Denny JA dalam sastra Indonesia, dulu maupun sekarang. Bisakah ada yang menjelaskan kenapa sosok Denny JA masuk dalam daftar 33 sosok sastra yang paling berpengaruh di Indonesia? Saya heran kenapa orang ini terasa sebegitu inginnya diakui sebagai ‘sastrawan’ atau ‘budayawan’? Saya bukan orang penting, hanya penyuka sastra, tapi pengin tahu apa sumbangan Denny JA dalam sastra Indonesia sejak dulu hingga sekarang.

Yang banyak menjadi sorotan memang bertenggernya nama Denny JA dalam buku tersebut. Sebagai ahli survai politik memang banyak yang member acungan jempol, Namun, sebagai salah satu tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh, banyak kalangan sastra yang meragukannya.

“Memang dia pendiri LSI. Tapi dari obrolan satu dua dengan kawan, tampaknya dia ingin bernarsis ria di dunia sastra. Orang yang menahbiskannya pun tidak tanggung-tanggung, tokoh seperti sapardi Djoko Damono,” ujar Dwi Cipta dalam komentar di status FB-nya.

Meski meragukan Denny JA dalam sastra Indonesia, tetapi  beberapa sastrawan tidak langsung menyerang pentolan Lingkaran Survey Indonesia (LSI) itu.

Menurut cerpenis Puthut E.A. (Yogya) pada kasus masuknya Denny JA dalam buku itu Denny tidak salah. Sebab, kata Puthut, dalam kehidupan sosial politik itu biasa.

“Yang memikul tanggungjawab terbesar adalah justru orang-orang yang tinggal di rumah sastra, yang mempersilakan, memfasilitasi dan menabalkan Denny. Kalau fokus persoalan ada di Denny, kupikir keliru,” ujar Puthut.

Penyair Eko Tunas dari Semarang, misalnya, berkomentar lembut tetapi penuh satire: “Menurut saya Denny JA memang hebat. Kepenyairan dan Puisi Esainya lebih dahsyat dari karya Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, maupun Chairil Anwar. Denny juga layak menerima Hadiah Nobel, sebab pemikiran dan pembaruan puisinya lebih dahsyat dari penyair-penyair peraih Nobel mana pun.Salut untuk para juri yang dengan cerdas telah memasukkan nama Denny JA dalam buku 33 Sastrawan Indonesia.

Ramalan saya, tahun ini Denny akan meraih hadiah Nobel, sekaligus mengangkat derajat dunia sastra Indonesia jauh melampaui kesusastraan dunia mana pun. Sehingga dengan demikian, bangsa dan negara ini akan terhormat di mata dunia, dan, terutama, akan terbebas dari narkoba, terorisme, dan korupsi. Hidup Denny JA. Wahai seniman dan sastrawan seluruh Nusantara, mari kita perjuangkan Denny JA sebagai Presiden Republik Indonesia dengan wakilnya yang menurut saya paling ideal Juwita Bahar..buka sitik joss…!”

Sementara itu, dengan cara berbeda, sastrawan Cecep Syamsul Hari (Bandung) menulis status di dinding Facebooknya: “Di kolam kecil depan rumah ada 11 ikan koi. Saya ingin menambah isi kolam itu dengan 22 ikan koi lagi supaya jumlahnya jadi 33. Namun, kolamnya pasti jadi terlalu kecil untuk menampung 22 ikan koi lainnya. Jadi, yang pertama harus saya lakukan adalah membuat kolam baru yang cukup besar untuk menampung 33 ikan koi supaya mereka tidak kekurangan oksigen dan hidup dengan nyaman.

Selanjutnya saya harus memastikan bahwa di kolam baru nanti isinya harus murni 33 ikan koi, tidak ada ikan jadi-jadian atau ikan jenis lain yang bentuknya serupa (seperti, misalnya, ikan komet yang bentuknya sekilas agak mirip dengan ikan koi yang masih kecil). Kenapa ikan bukan koi sebaiknya tidak disatukolamkan dengan ikan koi? Ya, kasihan yang bukan ikan koi itu sebab akan terlihat buruk rupa di antara ikan-ikan koi yang indah itu. Tapi, kenapa juga jumlah ikannya harus jadi 33? Nah, itu karena saya baru dapat “wangsit’, yang menurut KBBI artinya lebih kurang ‘pesan gaib’”.

Cecep memang tidak langsung menunjuk pada buku baru yang diluncurkan di PDS H.B.Jassin, Jumat lalu (3/12014). Namun, publik sastra Indonesia akan dengan mudah  menangkap arahnya.