Beranda News Kesehatan Yakin Masker yang Kamu Pakai Aman dari Asap?

Yakin Masker yang Kamu Pakai Aman dari Asap?

384
BERBAGI

Oleh: Rizka Nurjannah
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya

Kejadian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali menjadi momok yang menakutkan di tahun 2019 ini, khususnya pada musim kemarau yang bermula dari bulan April sampai bulan Oktober sekarang. Beberapa kota di Indonesia seperti Palembang, Jambi, Pekanbaru, serta berbagai wilayah di Provinsi Kalimantan dalam beberapa bulan ini kualitas udaranya memburuk bahkan sudah mencapai level berbahaya dan diselimuti oleh kabut asap tebal.

Asap yang kita rasakan sekarang disebabkan oleh terbakarnya lapisan dalam tanah gambut. Lahan gambut mempunyai fungsi menyerap dan menyimpan karbon yang membentuk seperti kantong. Kantong inilah yang biasanya disebut sebagai kantong asap. Asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengandung sejumlah gas serta partikel kimia berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (C02), nitrogen oksida (NOx), dan ozon (03) (Mubarok, 2019).

Dampak yang dapat dirasakan dari kabut asap ialah gangguan pernafasan seperti ISPA, Asma, Pneumonia dan Penyakit Paru-Paru lainnya. Jumlah penderita ISPA juga meningkat saat bencana Kabut Asap kini, mulai dari anak-anak sampai Lansia. Oleh sebab itu untuk meminimalisir terpaparnya kabut asap, langkah awal yang disarankan adalah memakai masker karena masker didesain untuk mengurangi pajanan partikulet (PM) atau paparan partikel asap.

Masker dapat digunakan ketika akan melakukan aktivitas diluar ruangan agar polusi udara tidak langsung terhirup. Hanya saja masker yang sering digunakan masyarakat tidak mampu menghalau polusi udara seperti masker kain atau buff yang sering kita lihat dipakai oleh pengendara motor. Masker kain memiliki pori-pori yang besar sehingga pengguna berpotensi terkontaminasi udara yang kotor.

Dalam memilih masker yang akan digunakan, kita perlu dilihat ukuran yang pas untuk menutupi hidung, mulut dan dagu, kualitas juga kegunaannya. Jadi, pertimbangannya bukan hanya untuk penampilan saja. Jika ukuran masker kebesaran maka akan sia-sia karena udara kotor tetap akan masuk melalui celah yang ada, begitu pula jika masker terlalu kecil akan ada bagian yang tidak tertutup.

Beberapa jenis masker yang dapat digunakan untuk melindungi pernafasan dari bencana kabut asap adalah masker respirator (masker N95).  Masker ini sangat disarankan karena mampu menyaring polutan dengan diameter 0,3 mikrometer hingga 95 persen.

Sementara masker N-99 memiliki tingkat perlindungan yang lebih tinggi yakni hingga 99 persen dari semua polutan umum. Masker sederhana atau simple mask juga bisa dipakai karena dapat menyaring polutan dan partikel besar 30 hingga 40 persen, namun hanya boleh dipakai satu kali dan tidak bisa dicuci karena dapat melebarkan pori-porinya.

Masker bedah sering dipilih orang karena tampilannya yang menarik seperti berwarna biru atau hijau padahal masker ini memiliki lapisan penyaring yang lebih sedikit daripada masker sederhana, tetapi masker bedah masih diperbolehkan dipakai untuk menghambat penyebaran polusi.

Penggunaan masker bedah yang benar adalah sisi luar masker yang berwarna hijau atau biru dan sisi dalam masker yang berwarna putih karena sisi putih memiliki tekstur yang lebih lembut untuk menempel langsung ke kulit muka. Selain itu, jika ingin memakai masker dari kain sebaiknya dilapisi dengan tisu yang dilembabkan.