Beranda Teras Berita Yuk, Memancing untuk Membuang Pusing…

Yuk, Memancing untuk Membuang Pusing…

2634
BERBAGI
Dadan Bahtera
Teluk Lampung: saatnya mancing (foto: Dadam Bahtera)
Memancing
itu bagi saya bukan sekadar memegang joran pancing sambil menunggu ikan datang.
Bagi saya memancing adalah sebuah petualangan kecil yang menantang dan bisa
diceritakan.
Di
Lampung, saya biasa mancing ambil yang segalanya standar saja. Maksudnya
standar atau pertengahan dari segi biaya, waktu, dll. Saya bilang standar,
karena menurut hitungan tadi (waktu, biaya, akomodasi lain-lain) ada yang lebih
di atas ataupun ada yang lebih di bawahnya.
Kalau
mau yang paling ekonomis, berangkat macing. Misalkan pembaca tinggal di Bandar
Lampung, silahkan ambil pilihan berangkat ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) atau
berangkat ke Gudang Agen, maka banyak perahu-perahu kecil yang disewakan dengan
tarif 250.000 rupiah sampai 300.000 rupiah, bisa untuk disewa seharian,
berangkat pagi pulang sore. Tentunya mancingnya tidak akan jauh disekitaran Teluk
Lampung yang paling dekat. Atau bisa juga kawan-kawan berangkat dari Mutun dan
sewa perahu kecil dari sana.
Ke
tingkat yang lebih menantang, bolehlah kita pergi ke arah Pelabuhan Ketapang.
Di sini banyak sekali perahu yang disewakan baik diperuntukan mancing atau
sekedar jalan-jalan. daerah sini kita bisa mancing ke arah pulau Maitem,
Klagian atau Pahawang. Ikan yang biasa di dapat di sini sudah mulai lumayan,
sejenis Kerapu, Kuniran atau ikan dasaran lainnya.
Dan
saya biasa memilih yang lebih menantang dari itu. saya dan rombongan biasa
berangkat siang menjelang sore hari dan biasanya kami merencanakan malam di
tengah laut alias pulang besoknya. Tentu saja untuk menjaga keselamatan perut
yang biasa keroncongan kami sudah menyiapkan nasi bungkus, kopi makanan kecil,
air minum, peralatan pancing komplit dan tentunya umpan, bisa berpa cumi, atau
umpan buatan seperti rapala atau umpan lain sejenisnya tergantung mau mancing
seperti apa dilakukan: popping, jiging atau trawling.
Yang
sering saya lakukan sebenarnya adalah mancing tradisional dengan umpan cumi
atau udang. tapi tentunya pandai-pandailah memilih umpan yang segar, karena
jaman sekarang kata kawan sekarang ikannya udah pada pinter-pinter bisa
membedakan mana umpan bagus atau sudah beres.
Setelah
persiapan komplet semua, jangan lupa persiapkan juga badan: vitalitas perlu
dijaga, jangan sampai orang lain sibuk strike narik ikan, eee……kita malah
sibuk jackpot alias mabuk. Pulang diperjalanan biasanya langsung kena canda dan
istilah sininya bakal kena kongek terus. So, jangan malu untuk minum obat mabuk
seperti antimo, atau jangan segan-segan kita bawa jamu tolak angin cair.
Perjalanan
seru biasanya dimulai saat perahu berangkat (biasanya saya pake kapasitas kapal
yang8 sampe 10 orang). Sore biasanya mulai turun, lepas ashar. Sebagian kawan
biasanya sibuk mempersiapkan pancing, merangkainya sebagian lagi santai saja
karena memang sudah dipersiapkan di rumah. Dimulailah sebuah petualangan.
Minuman dingin. kacang dan pisang rebus, kepulan asap rokok akan menjadi irama
selain gelak canda dan berbagi pengalaman mengenai cerita mancing yang sudah
lewat.
Sore
akan terus mengantar kita ke arah perjalanan. Jika hari cerah kita akan bertemu
dengan sunset, atau sinar-sinar yang menerobos dari celah bukit barisan.
Pelabuhan Ketapang yang akan kita tinggal bakal jauh menjadi titik di belakang.
Sisanya adalah suara ombak yang dipecah oleh kapal yang sedang kita tumpangi.
Teluk Lampung pagi hari, 16 Agustus 2014. (Foto: Dadan Bahtera)
Waktu
dua jam setengah jika ombak bersahabat, atau tiga jam tidak akan terasa jika
kita bisa menikmatinya: di perjalan sungguh tidak kana membosankan, kita akan
melewati jejeran pulau seperti Kelagian, Pahawang, Tanjung Putus, Serot dan
kemudian pulau-pulau kecil yang tercecer saat menyebrangi arah Legundi
Menjelang
magrib biasanya kami sudah sampai spot mancing, genderang perang persaingan dan
perlombaan, saling ledek sudah dimulai. Jika kita dapat satu ekor yang sorak
sepuluh anggota yang berangkat, jikapun kita dapat yang ukuran kecil siap-siap
saja kena ledek dan cemooh tentunya cemooh canda. cerita ini akan terus
berjalan sampai rasa lelah tiba. Maknya jangan sampai lupa kopi, teh, makanan
ringan. semuanya tidak akan terasa bercampur aduk ke dalam perut kita……
Malam
akan melintas begitu saja hanya seperti sesaat, pagi akan tiba-tiba merekah.
Bersyukur kalo kita dapat istirahat jadi kita bisa menikmati semburat pagi di
tengah laut. bengong melihat begitu indah ciptaan Yang Kuasa. biasanya di pagi
hari: angin semilir, ombak tenang mengayun-ayun perahu kita, segelas kopi panas
selepas melahap sepring mie rebus. Amboiiiii….nikmat bagaimana lagi yang kita
cari. Kawan saya biasanya suka teriak: “Lupa sudah utang yang bertumpuk di
daratan!…….”
Begitulah
kenapa saya bolak-balik mancing. Sebuah perjalanan kecil yang kadang kita juga
merasakan nilai religius yang dalam. Bayangkan di saat matahari tenggelam hanya
satu kapal kita terombang-ambing di tengah laut luas. Oh, Tuhan alangkah
kecinya kita di hadapan-Mu…..
Loading...